
Pemerintah mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi pertanian di berbagai daerah sebagai upaya mendukung swasembada pangan. Langkah ini ditujukan untuk menjamin ketersediaan air dan meningkatkan produksi nasional.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pemerintah mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi pertanian di berbagai daerah sebagai upaya mendukung swasembada pangan. Langkah ini ditujukan untuk menjamin ketersediaan air dan meningkatkan produksi nasional.
Pemerintah makin ngebut mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi pertanian. Langkah ini diyakini jadi kunci terakhir menuju gerbang swasembada pangan nasional, terutama beras.
Didukung penguatan infrastruktur air, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kinerja pangan nasional menunjukkan tren positif.
Produksi beras sepanjang 2025 diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton. Sementara itu, stok cadangan beras pemerintah (CBP) diperkirakan menembus 3,3 juta ton pada awal 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, capaian tersebut tak lepas dari strategi penguatan hulu sektor pertanian. Infrastruktur, khususnya irigasi, menjadi tumpuan utama agar roda produksi tak lagi tersendat oleh persoalan klasik: air yang tak menentu.
“Faktor penentu keberhasilan ada pada peningkatan benih dan pupuk, juga dalam ketersediaan air,” ujar Amran dalam keterangan resminya, Senin (5/1/2026).
Menurut Amran, pengelolaan air yang tepat memungkinkan petani mengatur masa tanam dengan lebih presisi. Risiko kekeringan saat musim kemarau bisa ditekan, sementara potensi banjir di musim hujan dapat dikendalikan. Dengan irigasi yang berfungsi optimal, produktivitas lahan pun terdongkrak, kesejahteraan petani ikut terangkat.
Nada serupa disampaikan Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto. Ia menyebut sepanjang 2025 pemerintah secara masif melakukan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, hingga operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi pertanian. Semua bergerak dalam satu irama, mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025.
Inpres tersebut ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada 30 Januari 2025, sebagai payung percepatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi untuk mendukung swasembada pangan nasional.
“Dengan adanya Inpres Nomor 2 Tahun 2025, pemerintah mempercepat perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi pada daerah irigasi yang sekitar 60 persen kondisinya kurang optimal dalam menyediakan air bagi persawahan,” jelas Hermanto.
Dari sisi capaian, pemerintah mencatat progres yang nyaris menyentuh target. Pada tahap pertama Inpres, dari target luasan 280.880 hektare, realisasi mencapai 99,93 persen. Angka ini nyaris sempurna, seolah menegaskan, proyek irigasi tak lagi jalan di tempat.
Untuk tahap kedua, dengan target 225.775 hektare, capaian juga terbilang tinggi. Realisasi jaringan irigasi utama mencapai 83,46 persen, jaringan irigasi tersier 98,66 persen, serta pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi air tanah (JIAT) sebesar 92,25 persen.
Sementara itu, pada tahap ketiga, dari target luasan 146.503 hektare, realisasi jaringan irigasi utama tercatat 67,67 persen. Adapun jaringan irigasi tersier mencapai 87,57 persen, dan pembangunan serta rehabilitasi JIAT menembus 93,91 persen.
Hermanto menilai capaian tersebut bukan hasil kerja satu institusi semata. Ada kolaborasi lintas sektor yang terus dirajut, terutama dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA), serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) di daerah.
“Capaian ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi lintas sektor, khususnya bersama Kementerian Pekerjaan Umum, serta dukungan kuat dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Di lapangan, rehabilitasi irigasi ini ibarat membuka kembali nadi yang lama tersumbat. Saluran air yang dulunya retak, dangkal, atau bahkan mati suri, kini mulai berfungsi lagi. Sawah-sawah yang sempat bergantung pada hujan, perlahan mendapat suplai air yang lebih pasti. Petani pun tak lagi menanam dengan rasa waswas.
Ke depan, implementasi Inpres Nomor 2 Tahun 2025 akan terus dilanjutkan dan diperkuat. Pemerintah menyiapkan berbagai kegiatan strategis lanjutan, mulai dari optimasi lahan hingga program cetak sawah rakyat di berbagai wilayah Indonesia. Semua dirancang untuk memastikan bahwa air, benih, dan pupuk bertemu di waktu yang tepat.
Jika irigasi adalah urat nadi pertanian, maka percepatan rehabilitasi ini menjadi detak jantung swasembada pangan. Dengan air yang mengalir stabil, target besar itu kini terasa kian dekat. Tinggal selangkah lagi, dan Indonesia berpeluang berdiri tegak dengan pangan yang dihasilkan dari tanahnya sendiri.