Thursday, 12 March 2026


Tak Asal Semprot! Penyuluh Klaten Ini Ungkap Cara Bijak Gunakan Pestisida Kimia

10 Feb 2026, 11:46 WIBEditor : Gesha

Tak asal semprot, tak pula serampangan. Penyuluh Pertanian CWS Klaten mengingatkan petani agar bijak menggunakan pestisida kimia, mengikuti prinsip pengendalian terpadu demi hasil optimal, biaya efisien, dan lingkungan tetap aman.

TABLOIDSINARTANI.COM, Klaten -- Tak asal semprot, tak pula serampangan. Penyuluh Pertanian CWS Klaten mengingatkan petani agar bijak menggunakan pestisida kimia, mengikuti prinsip pengendalian terpadu demi hasil optimal, biaya efisien, dan lingkungan tetap aman.

Pestisida kimia masih kerap jadi andalan petani saat serangan hama dan penyakit tanaman makin menggila. Tapi, hati-hati, asal semprot justru bisa jadi bumerang. Hal itu ditegaskan Penyuluh Pertanian CWS Klaten, Andik Susanto, SPt, yang mengingatkan pentingnya kebijakan dan presisi dalam penggunaan pestisida kimia di lapangan.

Menurut Andik, pestisida kimia sejatinya bukan pilihan utama. Ia ibarat senjata pamungkas, dipakai ketika pengendalian hayati atau pestisida nabati sudah tak lagi mempan. “Kalau bisa dikendalikan secara biologis, ya itu yang didahulukan. Pestisida kimia itu alternatif terakhir,” ujarnya saat ditemui di Klaten, belum lama ini.

Ia menekankan, penggunaan pestisida kimia yang berlebihan bukan cuma soal biaya yang membengkak, tapi juga menyisakan jejak panjang bagi lingkungan. Tanah bisa tercemar, musuh alami ikut mati, hama menjadi resisten, dan ujung-ujungnya produktivitas justru terancam. Sawah yang mestinya hijau subur bisa berubah jadi ladang masalah.

Karena itu, Andik mendorong petani untuk berpegang pada prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Prinsip ini menuntut penggunaan pestisida kimia secara presisi dan terukur, bukan sekadar berdasarkan kebiasaan atau ikut-ikutan.

Salah satu poin krusial yang sering luput, kata Andik, adalah soal bahan aktif pestisida. Ia mengingatkan masih ada petani yang menggunakan bahan aktif terlarang untuk komoditas tertentu.

“Dalam Permentan Nomor 43 Tahun 2019, sudah jelas diatur bahan aktif apa saja yang boleh dan tidak boleh digunakan,” jelasnya. Sebagai contoh, sipermetrin dan deltametrin dilarang untuk pengendalian hama pada tanaman padi karena dampak negatifnya terhadap lingkungan dan ekosistem sawah.

Regulasi tersebut, lanjutnya, harus menjadi rujukan utama. Di sinilah peran penyuluh pertanian dan petugas POPT menjadi penting, bukan sekadar mendampingi tanam, tapi juga mengedukasi petani agar tidak salah langkah.

Harus 6 Tepat

Agar aplikasi pestisida kimia efektif dan tidak mubazir, Andik mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip 6 Tepat. Enam prinsip ini menjadi kompas agar pengendalian hama benar-benar sesuai tujuan.

Pertama, tepat jenis. Insektisida untuk serangga, herbisida untuk gulma, fungisida untuk jamur, bakterisida untuk penyakit bakteri, hingga moluskisida untuk hama keong dan sejenisnya. Salah pilih, hasilnya nihil.

Kedua, tepat waktu. Penyemprotan harus disesuaikan dengan fase serangan hama, bukan saat hama sudah telanjur meledak. Ketiga, tepat cara, termasuk teknik penyemprotan dan alat yang digunakan.

Keempat, tepat dosis. “Lebih banyak bukan berarti lebih bagus,” tegas Andik. Dosis berlebih justru mempercepat resistensi. Kelima, tepat mutu, memastikan pestisida yang digunakan masih layak dan terdaftar resmi. Keenam, tepat sasaran, agar semprotan benar-benar mengenai organisme pengganggu, bukan tanaman atau lingkungan sekitar.

Tak kalah penting, Andik menyoroti keselamatan petani. Ia mengingatkan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) saat aplikasi pestisida kimia masih sering diabaikan. Padahal, paparan pestisida bisa berdampak serius bagi kesehatan.

“Gunakan APD yang direkomendasikan, jangan merokok saat menyemprot, dan perhatikan arah angin,” pesannya. Arah semprotan yang melawan angin bisa membuat pestisida justru terhirup oleh aplikator.

Di tengah tantangan pertanian modern, pesan Andik terasa sederhana tapi penting: pestisida bukan musuh, tapi juga bukan mainan. Bijak menggunakannya berarti menjaga tanaman, lingkungan, dan kesehatan petani itu sendiri. Sawah pun tetap hidup, bukan sekadar bertahan.

Reporter : Andik
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018