
Program cetak sawah 13.200 hektare di Kabupaten Keerom digenjot pemerintah daerah. Matius D. Fakhiri menargetkan surplus beras, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong ekonomi masyarakat Papua.
TABLOIDSINARTANI.COM, Kerrom -- Program cetak sawah 13.200 hektare di Kabupaten Keerom digenjot pemerintah daerah. Matius D. Fakhiri menargetkan surplus beras, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong ekonomi masyarakat Papua.
Upaya memperkuat ketahanan pangan di wilayah timur Indonesia terus digenjot. Gubernur Matius D. Fakhiri meninjau langsung proyek cetak sawah seluas 13.200 hektare di kawasan Arso Swakarsa, Kabupaten Keerom, pada Senin (23/2/2026). Program ini disiapkan untuk meningkatkan produksi beras sekaligus mendorong Papua menuju swasembada pangan.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan program ketahanan pangan di Provinsi Papua. Pemerintah daerah melihat sektor pertanian sebagai fondasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ekonomi daerah.
Dalam peninjauan itu, Gubernur menilai Keerom memiliki lahan luas dengan kondisi alam yang cocok untuk pengembangan padi. Pemerintah tidak hanya membuka sawah baru, tetapi juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung seperti jaringan irigasi, jalan produksi, hingga sarana pengolahan hasil panen.
Dengan dukungan infrastruktur tersebut, proses produksi hingga distribusi beras diharapkan berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
Selain Keerom, pemerintah juga menetapkan sejumlah wilayah lain sebagai pusat pengembangan pertanian skala besar, termasuk Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sarmi.
Pemerintah Provinsi Papua menargetkan pengembangan sawah secara bertahap hingga mencapai 30 ribu hektare. Bahkan, luas lahan berpeluang diperluas menjadi 50 ribu hektare jika mendapat dukungan kebijakan dari pemerintah pusat.
Jika target tersebut tercapai, Papua diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan beras masyarakat secara mandiri, bahkan berpotensi memasok ke daerah lain.
Produksi padi juga akan didorong dengan penggunaan varietas berumur pendek sekitar empat bulan, sehingga panen bisa dilakukan hingga tiga kali dalam setahun dan hasil produksi meningkat.
Selain padi, pemerintah juga mengembangkan komoditas jagung, sektor perkebunan, serta peternakan seperti ayam pedaging, ayam petelur, dan sapi. Program ini diharapkan menjaga ketersediaan pangan sekaligus menekan inflasi daerah.
Pemerintah juga mendorong pengembangan pangan lokal seperti sagu dan umbi-umbian serta menghidupkan kembali fasilitas pengolahan pangan di Keerom agar hasil pertanian memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Pemerintah daerah optimistis pengembangan cetak sawah skala besar ini akan menjadikan Keerom sebagai pusat produksi beras sekaligus lumbung pangan utama di Papua. Program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.