Thursday, 12 March 2026


Pertanian go Modernisasi, Swasembada Pangan bukan Mimpi

25 Feb 2026, 11:04 WIBEditor : Julian

WEBINAR PERTANIAN GO MODERN, SWASEMBADA PANGAN MAKIN KUAT

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Setelah pada awal tahun Presiden Prabowo Subianto mengumumkan swasembada pangan, pemerintah kini mencanangkan swasembada pangan berkelanjutan. Salah satu penyokong swasembada adalah dukungan alat mesin pertanian yang masif diberbagai daerah sentra produksi pangan.

Seperti diketahui dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah menggelontorkan bantuan alsintan berbagai tipe kepada petani/kelompok tani. Masifnya bantuan alsintan ke petani  menjadi tanda beralihnya pertanian Indonesia dari tradisional menuju modernisasi.

Kini semakin mudah terlihat petani menggunakan alsintan modern di sawah, baik saat pengolahan lahan, tanam hingga panen. Adanya alsintan bukan sekadar membantu petani mengatasi makin berkurangnya tenaga kerja pertanian, tapi juga lebih efisien dalam mengerjakan usaha tani. Bahkan menghemat biaya usaha tani. 

Hitungan pemerintah. Jika petani memanen lahan secara manual memerlukan waktu kerja selama 252 jam/ha, maka dengan combine harvester hanya perlu waktu 3,5 jam/ha. Dari sisi biaya juga lebih murah. Panen secara manual memerlukan biaya sebesar Ro 2,6 juta/ha, dengan alsintan hanya perlu Rp 1,9 juta/ha. Susut hasil juga berkurang yang sebelumya (manual) mencapai 9,4 persen, dengan aslintan hanya 3 persen.

Modernisasi pertanian juga memberikan daya tarik bagi anak muda untuk terjun ke dunia pertanian. Pertanian yang dulu terkesan kumuh, kotor-kotoran, dan bau lumpur, kini dengan menggunakan alsintan modern, generasi muda yang berkecimpung di dunia pertanian bisa menujukkan kebangaan. Penghasilannya pun tak kalah dengan mereka yang bekerja di kantoran.

Pemerintah pun terus mendorong modernisasi pertanian untuk mencapai swasembada berkelanjutan. Gunawan Suhendro, Kapoksi Kelembagaan Direktorat Alsintan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian mengatakan, upaya mencapai dan mempertahankan swasembada padi tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, tapi juga pada peningkatan efisiensi dan produktivitas sistem produksi.

“Dukungan alat dan mesin pertanian menjadi instrumen kuncinya,” kata Gunawan saat webinar PERTANIAN GO MODERN, SWASEMBADA PANGAN MAKIN KUAT yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (25/2).

Beberapa peran alsintan diantaranya, mengatasi keterbatasan tenaga kerja, penurunan jumlah dan usia petani. Selain itu, Meningkatkan produktivitas dan intensitas tanam, menekan susut/kehilangan hasil (losses). ”Pekerjaan bertani juga lebih efisiensi, teruatama biaya produksinya,” ujarnya.

Pemerintah ungkap Gunawan menyiapkan anggaran untuk alsintan tanaman pangan sebanyak Rp 4,19 triliun untuk program optimalisasi lahan dan cetak sawah. Sedangkan untuk pengembangan komoditas hortikultura sebesar Rp 13,80 milar, perkebunan Rp 6,50 miliar dan peternakan Rp 1,65 miliar.

Untuk tahun ini, total bantuan alsintan sebanyak  38.969 unit. Terdiri, terbanyak untuk pompa air 11 ribu unit dan handsprayer 13.759 unit. Sedangkan traktor roda empat sebanyak 2.950 unit, traktor roda dua crawler 1.270 unit dan traktor roda dua 7.102 unit. Sementara rica trasplanter sebanyak 2.750 unit dan drone 138 unit.

Harapan Pelaku Usaha

Sementara itu Ketua Asosiasi Industri Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (ALSINTANI), Mindo Sianipar mendorong anggotanya membantu pemerintah menyediakan alsintan. Namun demikian ia berharap pemerintah membuat perencanaan sejak awal dengan mengundang ALSINTANI.

Dengan demikian, harus ada kerjasama ALSINTANI dengan Kementerian Pertanian supaya bantuan alsintan ke petani bisa digunakan berkelanjutan. Sebab, selama ini banyak kasus bantuan alsintan kepada petani yang yang mangkrak atau terbengkalai. ”Itu terjadi karena petani tidak mempunyai kemampuan teknis dalam memelihara alsintan,” katanya.

Persoalan tersebut sebagai tantangan serius dalam mewujudkan pertanian modern yang berkelanjutan. Mindo menilai, modernisasi pertanian bukan sekadar menyalurkan bantuan alat, tetapi memastikan alat itu benar-benar digunakan dan memberi manfaat nyata.

”Jika kita ingin mewujudkan pertanian modern berkelanjutan, salah satu syaratnya  adalah alsintan itu mudah diperoleh, murah dan harga alat-alat mampu dijangkau petani atau kelompok tani, dan ada jaminan purna jual,” tuturnya.

Tanpa itu, bantuan yang awalnya diharapkan meningkatkan produktivitas justru berisiko menjadi beban baru bagi petani. Di sisi lain, menurut Mindo, petani juga harus mendapatkan pendampingan, termasuk dalam penggunaan dan pemeliharaan alsintan.

Untuk membantu petani dalam budidaya tanamana, Direktur Utama PT Suryaqua Teknologi Indonesia, Ardiyanto Indrakusuma mengatakan, pihaknya menawarkan pompa air tenaga surya. Sistem ini memanfaatkan panel surya untuk menangkap sinar matahari dan mengonversinya menjadi energi listrik yang menggerakkan pompa melalui kontroler otomatis.

Teknologinya relatif sederhana dan mudah dioperasikan masyarakat. Bahkan, sistem dapat dipantau jarak jauh dan diintegrasikan secara hibrida dengan genset atau PLN jika dibutuhkan tambahan daya.

Salah satu contoh adalah petani padi di Purworejo dan petani kakao di Sulawesi Selatan yang telah memanfaatkan pompa air tenaga surya. Karakter energi surya sangat selaras dengan kebutuhan pertanian. ”Modernisai ibukan hanya hilirisais, tapi pastikan enegri dan air tersedia dengan efisien dan berklanjutan,” ujarnya.

Sementara itu Direktur PT Daya Santosa Rekayasa, Petrus Andianto, pihaknya mengembangkan sistem pertanian modern melalui empat divisi utama yang saling terhubung. Divisi pertama, irigasi. Teknologi yang digunakan meliputi sistem drip irrigation, sprinkler, hingga high flow irrigation yang mampu mengatur distribusi air secara efisien.

Divisi kedua bergerak di bidang greenhouse atau rumah kaca. DSR mengembangkan smart greenhouse dengan sistem kontrol otomatis, termasuk teknologi blackout untuk mengatur intensitas cahaya sesuai kebutuhan tanaman.

Divisi ketiga digital farming, yang mengandalkan Internet of Things (IoT), sensor lingkungan, dan sistem monitoring jarak jauh. Divisi keempat fokus pada mekanisasi pertanian, mulai dari traktor, implement pengolahan tanah, hingga pengembangan sistem auto steering berbasis teknologi presisi.

Dengan dukungan teknologi modern, swasembada pangan kini sebuah keniscayaan dan bukan lagi sebuah mimpi. 

Bagi Sahabat Sinar Tani yang teleh mengikuti webinar ingin mendapatkan e sertifikat, materi dan melihat kembali kegiatan webinar di Youtube SINTATV bisa di link bawah ini.

Esertifikat : Klik Disini

Materi : Klik Disini

Esertifikat Berdasarkan Nomor :Klik Disini

 

Reporter : Yulianto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018