Thursday, 12 March 2026


Alsintani: Banyak Alsintan Mangkrak karena Petani Kurang Pendampingan

25 Feb 2026, 11:10 WIBEditor : Gesha

Minimnya pendampingan teknis bagi petani membuat program modernisasi Kementerian Pertanian terancam tak berkelanjutan.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Banyak alat dan mesin pertanian bantuan pemerintah justru mangkrak di lapangan. Minimnya pendampingan teknis bagi petani membuat program modernisasi Kementerian Pertanian terancam tak berkelanjutan.

Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah seharusnya menjadi napas baru bagi sektor pertanian nasional. 

Mesin-mesin modern digelontorkan, teknologi diperkenalkan, harapan pun ditanam. 

Namun di balik gemuruh modernisasi itu, realitas di lapangan justru menunjukkan cerita berbeda. 

Tak sedikit alsintan yang akhirnya mangkrak, berdebu di gudang kelompok tani, karena minimnya pendampingan dan kesiapan petani.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (Alsintani), Mindo Sianipar, dalam webinar "Pertanian Go Modern, Swasembada Pangan Semakin Kuat" yang digelar Sinar Tani, Rabu (25/02), menyoroti persoalan tersebut sebagai tantangan serius dalam mewujudkan pertanian modern yang berkelanjutan.

Ia menegaskan, modernisasi pertanian bukan sekadar menyalurkan bantuan alat, tetapi memastikan alat itu benar-benar digunakan dan memberi manfaat nyata.

Menurutnya, pertanian modern hanya bisa berjalan jika peralatan mudah diperoleh, harganya terjangkau, serta dilengkapi jaminan layanan purna jual. 

Tanpa itu, bantuan yang awalnya diharapkan meningkatkan produktivitas justru berisiko menjadi beban baru bagi petani.

Di lapangan, persoalan tidak berhenti pada ketersediaan alat.

Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan petani dalam mengoperasikan teknologi tersebut.

Banyak petani masih menghadapi keterbatasan pengetahuan teknis, sehingga peralatan modern yang seharusnya mempercepat kerja malah sulit digunakan.

Situasi ini, kata Mindo, berkaitan erat dengan kondisi sumber daya manusia di sektor pertanian. 

Tingkat pendidikan petani yang rata-rata masih setara sekolah menengah pertama membuat proses adaptasi teknologi berjalan lebih lambat. 

Karena itu, kehadiran penyuluh pertanian menjadi sangat penting sebagai jembatan antara teknologi dan pengguna.

Penyuluh tidak hanya dituntut memahami teknik budidaya tanaman, tetapi juga mampu membimbing petani dalam mengoperasikan, merawat, hingga memaksimalkan penggunaan alsintan.

Tanpa pendampingan berkelanjutan, alat-alat modern berisiko hanya menjadi pajangan.

Perbedaan kemampuan penggunaan alat terlihat jelas di lapangan. 

Peralatan sederhana seperti pompa irigasi umumnya masih bisa dioperasikan petani. 

Namun ketika teknologi yang lebih kompleks seperti rice transplanter, dryer, atau mesin panen modern diberikan, dibutuhkan keterampilan teknis yang jauh lebih tinggi. 

Jika tidak disertai pelatihan, alat-alat tersebut kerap tidak digunakan.

Kondisi inilah yang kemudian melahirkan fenomena alsintan mangkrak, mesin yang seharusnya menggerakkan produktivitas justru terdiam tanpa fungsi.

Melihat persoalan tersebut, Alsintani mendorong penguatan kerja sama dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk memastikan adanya dukungan teknis bagi petani. 

Kerja sama ini diharapkan mencakup pelatihan penggunaan, perawatan alat, hingga pendampingan langsung di lapangan agar bantuan alsintan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pihak industri, lanjut Mindo, siap memberikan dukungan teknis khususnya untuk produk alsintan dalam negeri. 

Dengan pendampingan yang tepat, penggunaan alat dapat berkelanjutan dan tujuan peningkatan produktivitas pertanian bisa tercapai.

Dorongan mekanisasi pertanian sendiri menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kedaulatan pangan nasional. 

Sejak awal abad ke-20, penggunaan mesin seperti traktor pengolah tanah, mesin panen, hingga sistem irigasi modern telah membantu meningkatkan efisiensi kerja pertanian. 

Perkembangan teknologi kemudian melaju lebih cepat dengan hadirnya perangkat digital, sensor pertanian, hingga robot pemanen berbasis kecerdasan buatan.

Kebutuhan alsintan di Indonesia terus meningkat seiring dorongan pemerintah memperkuat sektor pangan. 

Data Direktorat Alsintan Kementerian Pertanian mencatat, pada 2016 pemerintah menyalurkan 168.195 unit alsintan kepada kelompok tani dengan total anggaran Rp3,7 triliun.

Namun pada 2024, jumlah bantuan menurun menjadi 91.108 unit dengan anggaran Rp1,706 triliun atau turun sekitar 45 persen. 

Bantuan tersebut meliputi traktor roda dua dan roda empat, pompa air, handsprayer, rice transplanter, hingga alat untuk pengembangan food estate.

Di sisi lain, industri alsintan dalam negeri dinilai terus berkembang. 

Sejumlah produk seperti traktor, pompa irigasi, dryer, rice milling unit, hingga combine harvester telah diproduksi dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang relatif tinggi, sebagian bahkan mencapai 40 persen.

Tantangan sektor pertanian Indonesia masih nyata, karena modernisasi bukan sekadar soal alat, tetapi juga kesiapan manusia yang mengoperasikannya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018