
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono saat tanam padi menggunakan alsintan di Grobogan
TABLOIDSINARTANI.COM, Grobogan---Kementerian Pertanian saat ini terus mendorong transformasi pertanian dari tradisional menjadi modern melalui penggunaan alat mesin pertanian. Dengan mekanisasi usaha pertanian akan lebih menguntungkan, karena menghemat waktu, biaya dan tenaga kerja.
Dalam kunjungan kerjanya di Desa Godong, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa (3/3), Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut mekanisasi merupakan salah satu transformasi pertanian yang menguntungkan. “Transformasi dari mekani-sapi menjadi mekanisasi. Yang dulu pakai sapi dan manusia, sekarang kita menggunakan alat mesin pertanian.” katanya.
Dirinya mengakui kini mencari tenaga tanam juga tidak semudah dulu. Karena itu, peran mekanisasi menjadi penting. Bukan hanya agar presisi, tapi juga menjadi lebih tepat. Sebab dalam budidaya padi jarak tanam ada teorinya, agae pertumbuhan tanaman lebih optimal.
Dengan mekansisasi menggunakan alat mesin pertanian, masa tanam dan panen akan lebih cepat. “Kita hemat waktu, dalam setahun bisa lebih dari 1 kali. Produktivitas juga semakin meningkat. Seperti di sini (Desa Godong), setelah menggunakan alat mesin pertanian bisa mendapatkan tambahan Rp 6,5 juta/ha,” ucapnya.
Untuk itu, melalui Program Brigade Pangan (BP), Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong penguasaan alat mesin pertanian kepada petani dan penyuluh. Hal ini untuk mencapai swasembada pangan nasional.
Dalam laporannya, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti mengatakan, Jawa Tengah merupakan wilayah strategis untuk menyokong swasembada pangan nasional. Jawa tengah merupakan peringkat ke 3 dalam capaian produksi beras nasional dengan produksi 9.304.063 ton GKG atau 5.730.417 ton beras dengan luas baku sawah 970.354 ha, sehingga memberikan dampak signifikan pada produksi nasional.
Karenanya, peran Brigade Pangan harus terus dioptimalkan. Saat ini di Jawa Tengah sudah terbentuk 58 Brigade Pangan di 12 Kabupaten untuk luas lahan Optimalisasi lahan seluas 11.279 ha. Pada tahun 2026 akan dibentuk 99 BP di 20 Kabupaten.
Sementara itu, Wakil Bupati Grobogan, Sugeng Prasetyo menyambut baik program Kementerian Pertanian. “Kami mendukung upaya Kementan dalam Optimasi lahan (Oplah), untuk meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman (IP) lahan pertanian, dari 1 kali tanam menjadi 2-3 kali setahun,” ucapnya.
Sugeng mengakui, strategi Kementan tersebut harus didukung bersama untuk mencapai swasembada pangan dengan mengubah lahan kurang produktif menjadi lebih efisien.