
Petani kini dihantui kekeringan panjang
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Kondisi geopolitik dunia tengah memanas dengan meledaknya perang AS-Israel dengan Iran Bukan hanya di luar negeri, di dalam negeri juga tak kalah ‘panas’ dengan adanya prediksi El Nino (kemarau panjang). Dua kondisi tersebut perlu adanya kewaspadaan dalam ketahanan pangan.
Setelah hujan berkepanjangan selama tahun 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada tahun 2026 memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim panas lebih awal dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi upaya pemerintah mendongkrak produksi pangan.
Kemarau yang dateng lebih cepat ini dipicu berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari 2026 dan bergeser ke fase netral, selanjutnya berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun. Prediksi BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar atau 61,4 % wilayah Indonesia terjadi pada Agustus 2026. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6%) dan September (14,3%).
Wilayah yang memasuki puncak musim kemarau pada Juli, meliputi sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta merambah ke sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua. Memasuki Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau semakin meluas secara signifikan.
Kondisi kering ini akan mendominasi wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua.
Pada periode September, puncak musim kemarau masih dialami di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar NTT. Puncaknya juga akan dirasakan di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementan, Senin (30/3) menegaskan, pengalaman menghadapi El Nino 2023 menjadi pijakan penting dalam memperkuat strategi mitigasi saat ini. Saat itu, Indonesia dihadapkan pada ancaman kekeringan cukup berat, namun pemerintah berhasil menekan kebutuhan impor secara signifikan melalui berbagai intervensi cepat di lapangan.
“Dulu tahun 2023 itu ada El Nino juga yang tidak kalah kerasnya, dahsyatnya. Rencana waktu itu saya masih ingat dalam Ratas (Rapat Terbatas) kita mau impor (beras) 10 juta ton. Tapi dengan kerja keras, paralel, sambil kita kerja keras mengantisipasi El Nino, kita melakukan pompanisasi, irigasi, oplah (optimalisasi lahan), itu kita tekan sampai impor hanya sekitar 3 juta ton,” tuturnya.
Menghadapi potensi El Nino ekstrem yang diperkirakan berlangsung mulai April hingga enam bulan ke depan, Kementerian Pertanian berupaya memperkuat infrastruktur pertanian. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementan, Hermanto mengatakan, pihaknya akan mempercepat rehabilitasi dan pemeliharaan saluran irigasi tersier sebagai langkah strategis mengamankan produksi pangan.
Percepatan ini untuk mengoptimalkan pengelolaan air dalam upaya meningkatkan kesiapan menghadapi musim tanam saat kemarau. Saluran tersier menurut Hermanto, merupakan ujung tombak distribusi air ke lahan petani. Saat hujan berlebih, saluran yang tidak terpelihara akibat sedimentasi dan kerusakan bangunan pembagi kerap memicu genangan tidak merata hingga risiko puso.
“Karena itu, kami lakukan identifikasi kondisi saluran, normalisasi melalui pengerukan sedimen dan perkuatan talud, serta perbaikan pintu air agar debit dapat dikendalikan dan air terdistribusi merata,” ujar Hermanto.
Selain rehabilitasi fisik, pemerintah mendorong penerapan teknologi drainase terkendali dan panen air hujan. Air berlebih dapat ditampung sementara di petakan sawah atau embung, lalu dimanfaatkan kembali saat kebutuhan meningkat.
“Integrasi irigasi dan drainase ini menjadikan sistem lebih hemat air, adaptif terhadap iklim, dan efisien biaya,” katanya seraya menambahkan, koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum juga diperkuat guna memastikan sistem irigasi primer dan sekunder berfungsi optimal.
Varietas Adaptif Kemarau
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Fadjry Djufry mengatakan, Menteri Pertanian telah menginstruksikan seluruh pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah antisipatif, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan hingga penguatan sistem peringatan dini (early warning system).
“Kami juga mendorong petani memanfaatkan varietas padi adaptif guna mengantisipasi potensi kekeringan akibat musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada 2026,” katanya.
Kementerian Pertanian telah menghasilkan berbagai varietas unggul yang adaptif terhadap kondisi kekeringan. Varietas tersebut dirakit agar tetap mampu berproduksi pada kondisi ketersediaan air terbatas sekaligus memiliki umur panen yang relatif singkat.
Varietas padi tahan cekaman kekeringan seperti Inpari 38 hingga Inpari 46, serta varietas padi gogo kelompok Inpago dirancang agar tetap mampu berproduksi pada kondisi ketersediaan air terbatas. Ada juga varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana yang dapat dipanen lebih cepat sehingga membantu tanaman menghindari periode kekeringan.
“Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul tahan kekeringan ini secara lebih luas, khususnya di wilayah rawan kekeringan atau sawah tadah hujan, sehingga produksi padi nasional tetap terjaga dan ketahanan pangan dapat terus diperkuat,” tegasnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, potensi gangguan terhadap produksi pangan akibat El Nino dapat ditekan seminimal mungkin. “Kami optimistis, apabila mitigasi dilakukan sedini mungkin dan secara terkoordinasi, produksi padi nasional akan tetap terjaga,” kata Ketua Umum KTNA, Yadi Sofyan Noor.
KTNA pun mengajak seluruh pemangku kepentingan pertanian untuk segera menggerakkan langkah mitigasi sebagai upaya bersama menjaga ketahanan pangan nasional menghadapi musim kemarau.