Sunday, 06 September 2026


Urea RI Diburu, Pemerintah Tegaskan Pasokan Dalam Negeri Prioritas Utama

16 Apr 2026, 12:06 WIBEditor : Herman

Wamentan Sudaryono saat jumpa pers di Kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Di tengah krisis pupuk global yang kian memanas akibat konflik geopolitik, Indonesia justru berada di posisi yang menguntungkan. Sejumlah negara kini berlomba mengamankan pasokan pupuk urea dari Indonesia, yang dinilai memiliki kapasitas produksi kuat dan relatif stabil.

Momentum ini mengemuka setelah Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, di Jakarta. Pertemuan tersebut membahas peluang ekspor urea ke Australia di tengah terganggunya rantai pasok pupuk dunia.

Gangguan ini tak lepas dari situasi di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital distribusi pupuk global. Sekitar sepertiga pasokan pupuk dunia melewati kawasan tersebut. Ketika distribusi terganggu, banyak negara langsung mengalami tekanan pasokan.

“Kondisi ini membuat banyak negara membutuhkan urea. Indonesia menjadi salah satu produsen yang diandalkan,” ujar Sudaryono.

Lonjakan kebutuhan global berdampak langsung pada harga. Urea yang sebelumnya berada di kisaran 600–700 dolar AS per ton kini melonjak mendekati 900 dolar AS. Kenaikan ini dipicu kombinasi antara pasokan yang terbatas dan meningkatnya kebutuhan dari berbagai negara.

Tak hanya Australia, negara seperti India, Filipina, dan Brasil juga telah menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya disebut siap membeli dengan harga tinggi demi mengamankan stok.

“India sudah menghubungi, Filipina dan Australia juga mengirim surat resmi. Mereka siap membeli dengan harga berapapun,” ungkap Sudaryono.

Meski ekspor menjadi peluang besar, kerja sama dengan Australia tidak bersifat satu arah. Indonesia juga masih membutuhkan bahan baku pupuk dari luar negeri, terutama fosfat jenis DAP (Diammonium Phosphate) yang diimpor dari Australia.

“Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan, yang penting kepentingan nasional tetap terjaga,” jelasnya.

Dari sisi produksi, Indonesia memiliki modal besar. Untuk pupuk Urea, Wamentan menegaskaskan Indoensia bisa mencukupi tanpa harus import. Kapasitas pupuk urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,3–9,4 juta ton per tahun.

Pada 2026, produksi ditargetkan menyentuh 7,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 6,3 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan subsidi dalam negeri, sehingga masih terdapat potensi surplus sekitar 1,5 juta ton untuk ekspor.

Namun pemerintah menegaskan, ekspor hanya dilakukan jika kebutuhan petani dalam negeri telah sepenuhnya terpenuhi.

“Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Itu tidak akan kita ganggu,” tegas Sudaryono.

Tingginya permintaan global juga membuat pemerintah mengubah strategi. Rencana penutupan sejumlah pabrik pupuk yang dianggap tidak efisien kini dibatalkan.

Sebaliknya, pemerintah akan melakukan peremajaan fasilitas produksi untuk meningkatkan kapasitas sekaligus efisiensi.

“Pabrik yang tadinya mau ditutup, sekarang tidak jadi. Karena permintaan dunia sangat tinggi,” katanya.

Di tengah meningkatnya permintaan global, pemerintah memastikan stok pupuk nasional dalam kondisi aman. Jika terjadi kelangkaan di lapangan, hal tersebut lebih disebabkan oleh distribusi yang belum merata akibat tingginya serapan.

“Kalau di kios kosong, biasanya 1–2 hari sudah ada lagi. Itu karena distribusi berjalan cepat, bukan karena stok tidak ada,” jelasnya.

Dengan kemampuan produksi mandiri berbasis gas alam domestik, Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara lain. Ketergantungan terhadap impor untuk urea relatif kecil, sehingga pasokan lebih terjamin.

Kondisi ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk naik kelas, dari sekadar memenuhi kebutuhan domestik menjadi pemain penting dalam rantai pasok pupuk global.

 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018