
Wamentan Sudaryono juga menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Bruce Brazier pada Rabu (15/4)
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di tengah konflik di Timur Tengah, ternyata pupuk urea Indonesia diminati banyak negara-negara dunia. Peluang ekspor pun terbuka.
Namun, Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa kebijakan ekspor akan dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan siklus tanam nasional.
“Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” kata Rahmad usai menemani Wamentan Sudaryono bertemu dengan Dubes India, di gedung Kementerian Pertanian, Kamis (16/4).
Ia menambahkan, kondisi ini sekaligus menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk di tingkat regional.
“Ini membuktikan resiliensi Indonesia di tengah gejolak global. Di sektor industri pupuk, kita tidak rentan, justru bisa mengambil peran membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” tambahnya.
Dari sisi ketersediaan, stok pupuk nasional dalam kondisi sangat memadai dengan dukungan produksi yang terus berjalan. Saat ini (stok pupuk) 1,2 juta ton, ditambah produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK. "Jadi sangat cukup,” kata Rahmad.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga siap mengambil peran lebih luas sebagai mitra strategis dalam mendukung ketahanan pangan global.
Sebelumnya, Wamentan Sudaryono juga menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Bruce Brazier pada Rabu (15/4) kemarin. Pertemuan ini membahas peluang kerja sama sektor pertanian, khususnya terkait impor pupuk urea dari Indonesia, di tengah dinamika global yang memengaruhi rantai pasok pupuk dunia.
Wamentan Sudaryono juga menjelaskan bahwa hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia bersifat timbal balik. Selain mengekspor urea, Indonesia juga mengimpor bahan baku pupuk seperti fosfat, termasuk DAP (Diammonium Phosphate), dari Australia.
“Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat,” ujarnya.