
Pupuk Indonesia jamin ketersediaan pupuk untuk petani, meski ada gejolak di dunia
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan pupuk global.
Jalur tersebut selama ini menjadi urat nadi perdagangan berbagai komoditas penting, termasuk bahan baku pupuk. Namun, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan kondisi tersebut tidak akan mengganggu ketersediaan, bahkan menjamin ketersediaan pupuk untuk petani.
Kepastian itu disampaikan SVP Pemasaran PT Pupuk Indonesia (Persero), Junianto Simare Mare, dalam webinar bertajuk “Dampak Geopolitik Global terhadap Sektor Pertanian dan Pupuk Nasional” yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerja sama dengan Pupuk Indonesia, Rabu (22/4).
Dalam paparannya, Junianto menegaskan, Pupuk Indonesia sebagai BUMN memiliki mandat strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional melalui penyediaan pupuk, khususnya pupuk bersubsidi. Karena itu, berbagai langkah antisipatif telah disiapkan untuk menghadapi dinamika global yang tidak menentu.
“Apapun yang terjadi di tingkat global, kami memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap terpenuhi. Ini adalah bagian dari komitmen kami dalam mendukung program swasembada pangan,” ujarnya.
Sebagai holding industri pupuk nasional, Pupuk Indonesia memiliki sembilan anak perusahaan produsen pupuk yang tersebar di berbagai wilayah strategis. Di antaranya adalah PT Pupuk Iskandar Muda di Aceh, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang di Sumatera Selatan, PT Pupuk Kujang di Cikampek, PT Petrokimia Gresik di Jawa Timur, serta PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang.
Selain itu, perusahaan juga didukung empat anak usaha non-pupuk yang bergerak di bidang engineering, procurement, and construction (EPC) melalui PT Rekayasa Industri (Rekind), sektor logistik oleh PT Pupuk Indonesia Logistik, sektor pangan melalui PT Pupuk Indonesia Pangan, serta perdagangan melalui PT Pupuk Indonesia Niaga.
Untuk memastikan distribusi berjalan lancar hingga ke tingkat petani, Junianto mengatakan, Pupuk Indonesia didukung jaringan logistik yang luas dan terintegrasi. Infrastruktur tersebut mencakup 12 armada kapal, sekitar 6.000 unit truk, lebih dari 500 gudang, serta sekitar 27.000 kios pupuk yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dari sisi kapasitas produksi, Pupuk Indonesia menempati posisi strategis di tingkat global. Perusahaan ini tercatat sebagai salah satu produsen amonia dan urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, hingga Afrika Utara.
Kapasitas produksi urea mencapai sekitar 9,4 juta ton per tahun, melampaui sejumlah produsen besar dunia seperti China dan Qatar. Sementara itu, produksi pupuk NPK mencapai 4,6 juta ton dan pupuk lainnya sekitar 0,8 juta ton per tahun.
Seperti diketahui, di tengah memanasnya geopolitik dunia, ternyata pupuk urea Indonesia justru malah diburu negara-negara dunia. Seperti terungkap saat pertemuan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, Rabu (15/4).
Setelah Pemerintah Australia, giliran Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty menemui Sudaryono yang juga Komisaris PT. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) di Kantor Kementerian Pertanian, Kamis (16/4). Salah satunya membahas peluang ekspor urea Indonesia ke negara-negara tersebut.
Tak hanya Australia dan India, negara seperti Filipina dan Brasil ternyata telah menjalin komunikasi intensif dengan Pemerintah Indonesia. Bahkan, beberapa diantaranya disebut siap membeli dengan harga tinggi demi mengamankan stok.
Lonjakan kebutuhan global berdampak langsung pada harga. Urea yang sebelumnya berada dikisaran 600–700 dolar AS melonjak mendekati 900 dolar AS per ton. Kenaikan ini dipicu pasokan yang terbatas dan meningkatnya kebutuhan dari berbagai negara
"Alhamdulillah karena kita diberikan kekayaan alam yang luar biasa. Tuhan sangat menyayangi Indonesia, sehingga kebutuhan bahan baku untuk produksi pupuk urea tidak ada yang impor. Ini karena kita masih memanfaatkan gas alam yang ada di dalam negeri," tutur Junianto.