
Kondisi pasar pupuk dunia
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Konflik di kawasan Timur Tengah dengan terjadinya perang AS-Israel dengan Iran membuat pasar pupuk dunia bergejolak. Pasalnya, beberapa bahan baku pupuk berasal dari negara-negara yang berlokasi di wilatah tersebut. Bahkan Iran merupakan pemasok utama pupuk urea dunia.
SVP Pemasaran PT Pupuk Indonesia (Persero), Junianto Simare Mare, dalam webinar bertajuk “Dampak Geopolitik Global terhadap Sektor Pertanian dan Pupuk Nasional” yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerja sama dengan Pupuk Indonesia, Rabu (22/4) mengakui, meski memiliki kekuatan di sisi produksi dan distribusi, tidak menampik konflik di kawasan Selat Hormuz membawa dampak signifikan terhadap pasar global.
Kawasan tersebut menurutnya, merupakan jalur vital perdagangan berbagai bahan baku pupuk, seperti fosfat, kalium (KCl), dan sulfur. Bahkan, kontribusi ekspor global yang melewati Selat Hormuz terbilang besar, yakni sekitar 34 persen untuk urea, 21 persen untuk fosfat, dan hingga 50 persen untuk sulfur.
Selain itu, ungkap Junianto, sejumlah negara produsen utama juga berada di kawasan tersebut. Iran, misalnya, menyumbang sekitar 16 persen produksi urea dunia, sementara China dan Nigeria masing-masing berkontribusi 14 persen dan 12 persen.
Untuk komoditas fosfat, negara seperti Yordania menjadi salah satu produsen utama, sedangkan sulfur banyak dipasok dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Qatar. “Penutupan Selat Hormuz tentu memberikan tekanan terhadap rantai pasok global," katanya.
Bagaimana dengan Indonesia? Junianto mengatakan, hingga kini dampaknya relatif dapat dikendalikan, terutama untuk produk urea. Hal ini tidak terlepas dari ketersediaan bahan baku utama urea, yaitu gas alam, yang masih dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak bergantung pada impor untuk produksi urea, bahkan memiliki kapasitas yang melebihi kebutuhan nasional. Pada tahun 2026, Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea sebesar 7,9 juta ton. Sementara itu, kebutuhan domestik diperkirakan mencapai 6,4 juta ton, termasuk untuk pupuk bersubsidi.
Surplus produksi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisinya sebagai pemain penting di industri pupuk global. “Ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk tampil sebagai salah satu pemasok urea di pasar internasional, terutama di tengah terganggunya pasokan global,” kata Junianto.
Sementara itu, untuk bahan baku lain seperti KCl dan fosfat, Junianto mengatakan, Pupuk Indonesia memperoleh pasokan dari negara-negara di luar kawasan konflik, seperti Rusia, Kanada, Belarus, Mesir, dan Maroko. Dengan demikian, kedua komoditas tersebut relatif tidak terdampak langsung oleh penutupan Selat Hormuz.
Untuk sulfur, sebagian pasokan memang berasal dari kawasan Timur Tengah, seperti Qatar dan Kuwait. Menyikapi potensi gangguan tersebut, Pupuk Indonesia telah menyiapkan langkah mitigasi dengan mencari sumber alternatif guna memastikan kelangsungan produksi.
“Kami terus melakukan diversifikasi sumber pasokan bahan baku agar tidak bergantung pada satu kawasan tertentu,” imbuhnya.
Dengan berbagai strategi tersebut, Pupuk Indonesia optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri pupuk dalam negeri. Komitmen ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.
“Kami akan terus menjalankan mandat penyediaan dan penyaluran pupuk bersubsidi, menjaga ketersediaan pupuk nasional, serta memperkuat kemandirian industri. Tujuan akhirnya adalah memastikan sektor pertanian tetap produktif dan cita-cita swasembada pangan dapat tercapai,” tutur Junianto.