
Stok pupuk per 2 Agustus 2026
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya mendukung keberhasilan Program Pertanian Modern Advance Agricultural System (PM-AAS) yang ditargetkan menjangkau 1 juta hektare (ha) lahan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui jaminan ketersediaan pupuk yang tepat jumlah, tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat mutu, sehingga kebutuhan petani dapat terpenuhi selama pelaksanaan program.
SVP Indonesia Agrichemical Research Institute (IARI) PT Pupuk Indonesia, Gita Bina Nugraha, mengatakan pupuk menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan PM-AAS karena berkontribusi besar terhadap peningkatan produktivitas tanaman.
"Dalam budidaya tanaman, kontribusi agroinput, khususnya pupuk, dapat mencapai sekitar 62 persen terhadap peningkatan produktivitas," ujar Gita dalam webinar bertema Pertanian Modern Advance Agricultural System (PM-AAS): Revolusi Budidaya Padi yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia, Rabu (5/8).
Menurutnya, penerapan PM-AAS membawa perubahan pada pola budidaya, termasuk kebutuhan pupuk yang lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional. Kondisi tersebut harus diantisipasi sejak awal agar tidak menghambat peningkatan produktivitas yang menjadi target utama program. "Kebutuhan pupuk pada sistem PM-AAS memang berubah. Karena itu, ketersediaannya harus benar-benar dipastikan agar penerapan teknologi di lapangan berjalan optimal," katanya.
Untuk menjamin pasokan, Pupuk Indonesia didukung lima anak perusahaan, yakni Pupuk Iskandar Muda di Aceh, Pupuk Sriwidjaja Palembang, Pupuk Kujang Cikampek, Petrokimia Gresik, dan Pupuk Kalimantan Timur. Selain itu, perusahaan juga diperkuat empat anak usaha nonpupuk.
"Kami memiliki kapasitas produksi yang sangat memadai. Dari sisi volume maupun jenis pupuk, kami siap memenuhi kebutuhan nasional. Ini menjadi modal penting untuk mendukung berbagai target strategis pemerintah, termasuk PM-AAS," ungkapnya.
Saat ini, kapasitas produksi Pupuk Indonesia mencapai sekitar 9,4 juta ton pupuk urea dan 4,6 juta ton pupuk NPK, belum termasuk berbagai jenis pupuk lainnya. Kapasitas tersebut ditopang infrastruktur distribusi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sebanyak 12 kapal pengangkut, sekitar 6.100 armada darat, 509 gudang penyangga, dan hampir 27.000 kios atau PPTS telah disiapkan untuk memastikan pupuk dapat menjangkau petani di berbagai daerah. "Artinya, baik dari sisi kapasitas produksi maupun infrastruktur distribusi, kami siap mengawal program strategis pemerintah, termasuk PM-AAS," tegas Gita.
Perusahaan juga memastikan stok pupuk nasional dalam kondisi aman. Hingga 3 Agustus 2026, stok pupuk yang telah ditempatkan di gudang distributor maupun kios mencapai sekitar 1,4 juta ton. Dengan volume tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 36 hari dengan rata-rata penebusan harian sebanyak 30 ribu ton.
"Stok ini kami monitor setiap hari dan terus diperbarui. Tujuannya agar ketersediaan pupuk di lapangan tetap terjaga sesuai kebutuhan petani," ujarnya. Selain pupuk bersubsidi, lanjut Gita, pihaknya juga telah menyiapkan sekitar 400 ribu ton pupuk nonsubsidi yang terdiri atas urea, NPK, dan ZA sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan petani.
Untuk menjamin ketersediaan, Pupuk Indonesia melakukan pengawasan distribusi melalui Commond Centre. Seperti apa? Baca halaman selanjutnya.