Wednesday, 21 October 2026


Gerakan Tanam MT III, Petani Cilacap Terapkan PM-AAS

24 Aug 2026, 09:11 WIBEditor : Herman Pratikno

Gerakan Tanam Serentak Musim Tanam (MT) III yang digelar Kelompok Tani (Poktan) Karya Mantep, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap ---  Upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional terus dilakukan petani di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Salah satunya melalui Gerakan Tanam Serentak Musim Tanam (MT) III yang digelar Kelompok Tani (Poktan) Karya Mantep, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu.

Gerakan tanam serentak tersebut berlangsung di lahan sawah seluas sekitar 5 hektare. Menariknya, petani tidak hanya menerapkan pola tanam konvensional, tetapi mulai mengadopsi sistem Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS), khususnya metode tanam benih langsung atau Tabela.

Dalam penerapannya, metode Tabela menggunakan alat sederhana berupa drum seeder. Teknologi tersebut memungkinkan benih padi ditanam langsung pada lahan yang telah dibajak, digaru, dan diratakan.

Ketua Poktan Karya Mantep, Desa Karanggintung, Afif Irfai, didampingi Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Gandrungmangu, Eti Solikhatun Yuliana Kusumadewi, mengaku bersyukur karena pada MT III ketersediaan air di wilayahnya masih cukup baik.

“Alhamdulillah, kami dari Poktan Karya Mantep berterima kasih. Kami berharap kegiatan ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani, khususnya di Desa Karanggintung,” ujar Afif.

Menurutnya, penerapan metode Tabela diharapkan mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menekan biaya produksi. Salah satu keuntungan yang dirasakan petani adalah penghematan penggunaan tenaga kerja karena proses penanaman dapat dilakukan dengan alat sederhana.

“Harapannya, hasil panen meningkat dengan metode Tabela ini,” katanya.


Metode Tabela yang diterapkan Poktan Karya Mantep menggunakan alat berbentuk paralon berukuran cukup besar yang telah diberi sejumlah lubang. Di dalamnya dimasukkan butiran benih padi. Alat tersebut dilengkapi dua roda di sisi kanan dan kiri serta tongkat pegangan untuk memudahkan petani menariknya di lahan.

Cara kerjanya cukup sederhana. Setelah lahan selesai dibajak, digaru, dan diratakan, alat ditarik mengikuti jalur tanam. Benih padi kemudian keluar secara otomatis melalui lubang pada paralon dan jatuh ke permukaan tanah.

“Metode Tabela lebih menghemat biaya tenaga kerja,” jelas Afif.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penerapan Tabela membutuhkan perawatan tanaman secara lebih cermat. Petani harus memperhatikan pertumbuhan gulma serta potensi serangan hama dan penyakit tanaman.

“Perlu diperhatikan khusus untuk menyiangi gulma serta mengantisipasi hama dan penyakit,” katanya.

Untuk memastikan budidaya berjalan optimal, Poktan Karya Mantep akan terus berkonsultasi dengan penyuluh pertanian. Menurut Afif, pendampingan PPL sangat penting, terutama ketika petani menghadapi kendala dalam penerapan metode Tabela.

“Ketika kita menemui kendala pada tanaman padi dengan metode Tabela, kami bisa berkoordinasi dengan PPL,” ujarnya.

Selain penerapan teknologi tanam, kelompok tani juga telah mengusulkan bantuan pompa air serta paralon atau selang untuk mendukung pengairan sawah.

“Harapannya bantuan tersebut bisa turun,” ucapnya.

Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Cilacap, Surur Hidayat, mengatakan Gerakan Tanam Serentak merupakan bagian dari gerakan yang terus didorong Kementerian Pertanian untuk meningkatkan luas tanam dan produksi pangan.

“Setiap setengah bulan sekali ada gerakan tanam nasional,” jelas Surur.

Kabupaten Cilacap pada kegiatan kali ini menjadi salah satu lokasi yang mewakili Jawa Tengah. Pemilihan Desa Karanggintung sebagai lokasi gerakan tanam didukung kondisi lahan yang masih memiliki ketersediaan air.

“Kebetulan lokasi sawah masih ada air. Gerakan tanam ini dilakukan untuk menopang dan mencukupi kebutuhan pangan nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan sumber air dari kawasan pegunungan membuat sebagian lahan di Desa Karanggintung mampu ditanami hingga tiga kali dalam setahun.

“Lahan bisa tiga kali tanam karena airnya lancar dari sumber mata air daerah pegunungan. Alhamdulillah,” katanya.

Penyuluh pertanian pun terus mendampingi petani agar MT III dapat berlangsung dengan baik dan memberikan hasil optimal.

Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Arif Surahman, mengatakan gerakan tanam serentak merupakan salah satu strategi meningkatkan luas tambah tanam sekaligus produksi pangan untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

“Jawa Tengah salah satunya di Desa Karanggintung, Gandrungmangu, Cilacap,” ujarnya.

Menurut Arif, kondisi lahan di wilayah tersebut cukup mendukung karena sumber air tersedia dengan baik. Bahkan, petani sudah mampu melakukan pertanaman hingga tiga kali dalam setahun.

“Ini merupakan prestasi tersendiri. PPL harus mendampingi secara aktif para petani supaya pertanaman ini berhasil,” harapnya.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang, R. Hermawan, mengatakan gerakan tanam juga menjadi bagian dari optimalisasi lahan (Oplah) yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian.

“Harapan Menteri Pertanian, Oplah bisa meningkatkan produktivitas,” jelasnya.

Menurut Hermawan, pengelolaan lahan Oplah dapat melibatkan Brigade Pangan yang beranggotakan sekitar 15 anak muda. Skema tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya regenerasi petani.

“Brigade Pangan yang terdiri dari 15 orang anak muda bisa mengelola Oplah. Ini sekaligus menjadi bagian dari regenerasi petani dan memungkinkan pertanaman dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menilai gerakan tanam serentak juga penting sebagai percontohan bagi petani lain. Keberhasilan petani dalam menerapkan pola tanam hingga tiga kali diharapkan dapat mendorong wilayah lain meningkatkan indeks pertanaman.

“Gerakan tanam ini menjadi percontohan dan model. Harus dilakukan secepat mungkin agar petani mendapatkan indeks pertanaman tiga,” katanya.

Polbangtan Yogyakarta-Magelang, lanjut Hermawan, turut menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab dalam pendampingan Brigade Pangan yang mengelola lahan Oplah.

“Kami berkontribusi mendampingi petani melalui PPL,” pungkasnya.

Reporter : Wasis
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018