Rabu, 12 Desember 2018


Pertanian Modern, Untungkan Petani Berlipat Lipat

02 Des 2018, 14:58 WIBEditor : GESHA

Adanya modernisasi, pertanian Indonesia menjadi efisien dan makin memberikan untung berlipat bagi petani | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Upaya pemerintah menjadikan Indonesia sebagai lumbung padi terus dilakukan. Salah satunya dengan merombak sistem pertanian lama menjadi modern. Perombakan akan dimulai dari sektor produksi hingga proses cek produksi.

Sebagai langkah awal, Kementan sudah menyiapkan pengembangan komoditas pertanian strategis menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Meski demikian, upaya dan cita-cita ini membutuhkan berbagai instrumen baik secara kebijakan dan regulasi maupun riset, inovasi, dan kewirausahaan.

"Secara perlahan jalan menuju ke sana sudah dibuka melalui peningkatkan massa panen dan mengoptimalkanya menjadi lebih cepat dengan kekuatan sistem yang sudah ditransformasi atau sistem modern," ungkap Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Prof. Andi M. Syakir.

Prof. Syakir menambahkan pertanian modern jauh berbeda dengan pertanian tradisonal. "Yang dikatakan pertanian moderen adalah produksinya 6 ton, panenya 3 kali dalam setahun, menggunakan ful mekanisasi, kemudian menggunakan management modern dan koperasi (petani) yang di koorperasikan," beber Prof Syakir.

Rencana memoderenisasi pertanian ini sudah dibawa ke rapat koordinasi nasional beberapa waktu lalu. Dan dirinua berharap, upaya ini menjadi ujung tombak dalam meningkatkan produktifitas serta kesejahteraan petani indonesia.

"Melalui program ini nantinya sistem program pertanian akan dikelola dengan managemen yang juga modern. Presentasi bagi hasilpun akan memeberi porsi yang menguntungkan para petani," kata Prof Syakir.

Sementara itu, manfaat modernisasi pertanian kini sudah dirasakan langsung oleh petani karena memiliki keuntungan yang jauh berlipat.

"Sistem rombakan ini diyakini mampu meningkatkan produktifitas petani hingga berlipat-lipat dari keuntungan biasanya. Dengan begitu, penentuan harga juga bisa langsung ditentukan oleh para petani," beber Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri.

Misalnya kepemilikan gabah, Kuntoro menjelaskan jika harga gabah menjadi 100 persen milik petani. "Kemudian dari gabah masuk ke prosesing ini ada keuntungan 49 persen, disini petani akan mendapat penghasilanya 6 kali lipat atau minimal 3 kali lipat 100 persen milik petani, " kata Boga.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018