Senin, 18 November 2019


Embung Motivasi Petani untuk Bertanam

13 Mar 2019, 15:17 WIBEditor : Yul

Manfaat embung ternyata dirasakan langsung petani.

TABLOIDSINARTANI.COM, BONDOWOSO -- Aneka infrastruktur air yang dibangun di berbagai daerah kini sudah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat tani. Bahkan memotivasi petani untuk terus memproduksi pangan.

Petani Desa Cangkring, Kecamatan Prajekan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur begitu senang saat menceritakan manfaat dua embung yang di desanya. Mengingat, setahun lamanya mereka kesulitan air untuk bertanam.Selama 1 tahun (2017) petani tidak bisa bertanam karena memang tidak ada airnya, karena DAM Plucong jebol," kata Mantri Tani Kecamatan Prajekan, Bagus.

Padahal, selama ini DAM Pluncong diandalkan untuk mengairi Desa Cangkring seluas 200 hektar (ha) dan Desa Walidono seluas 200 ha. Karena itu dengan adanya embung di Desa Cangkring, ungkap Bagus, sangat berguna untuk memfasilitasi pengairan yang sempat terputus karena DAM Pluncong jebol.

Untuk membangun embung, petani yang tergabung dalam kelompok tani atau Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA mendapat bantuan swakelola dana sebesar Rp 120 juta/unit.

Lebih lanjut Bagus menuturkan embung pertama di Desa Cangkring memiliki solar cell dan sistem pompa untuk pengisian air embung dengan kapasitas tampung 500 meter kubik tersebut.Memang sebelumnya sudah ada (solar cell), untuk memompa air bersih. Tapi sayang sekali sering terbuang dan hanya bisa mengalir kalau siang hari," katanya.

Embung yang dikelola HIPPA Unggul ini memberikan dampak pada pertanaman menjadi lebih luas. Jika sebelumnya hanya 25 ha, tapi kini menjadi 45 hektar. Pertambahan luas tanam itu, karena lahan yang semula suboptimal (terbengkalai) dengan adanya air dari embung bisa ditanami jagung. Bahkan bisa panen dua kali setahun.

Sementara itu Kelompok Tani Cangkring Jaya 5 yang berada di lintasan sungai juga merasakan dampak yang sama. Bahkan bisa memanfaatkan lahannya untuk tanam hingga tiga kali dalam setahun, padi-padi-jagung atau padi-padi-padi. Pokoknya petani semakin antusias dengan adanya embung ini. Karena dulu hanya 15 ha lahan yang tertanami. Namun kini sudah 35 ha yang tertanam dan terlayani aliran air,” tutur Bagus.

Desa lainnya di Kecamatan Prajekan pun merasakan hal yang sama dengan adanya embung pertanian di daerahnya. Seperti Desa Sempol yang berada di kaki gunung. Selama ini desa tersebut hanya mengandalkan tadah hujan untuk bertanam, tapi kini sudah menghijau dengan hamparan padi sawah.

“Luasannya sudah 200 ha sawah yang terairi embung dengan kapasitas 500 meter kubik. Sekarang sudah ditanami padi yang sekarang usianya 45 HST. Perkiraan produktivitas sekitar 6-7 ton/ha,” katanya.

Untuk di dataran rendah, Desa Sempol mendapatkan bantuan rehabilitasi jaringan irigasi tersier yang dikelola oleh HIPPA Sido Mulyo dengan panjang saluran 130 meter. Pergiliran air yang masuk ke jaringan irigasi tersier dilakukan dengan aturan 8 hari mengalir, 2 hari mati.

"Alhamdulillah dengan bantuan pompa, meskipun air mati, petani masih bisa memasukkan air ke irigasi dan bisa mengairi sawah dengan luasan 90-105 ha. Daerah Irigasi (DI) yang mengalir kesini adalah DI Sampean Baru," tuturnya.

Reporter : Gsh
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018