Rabu, 19 Juni 2019


Rehabilitasi Irigasi Berdampak Signifikan Pada Produksi Pangan

22 Mei 2019, 19:45 WIBEditor : Gesha

Perbaikan Jaringan Irigasi berdampak langsung pada peningkatan produksi pangan | Sumber Foto:ISTIMEWA

Perhitungannya, jika berdampak pada penambahan IP 0,5, maka akan terjadi penambahan luas tanam 29.780 ha dan penambahan produksi padi sekitar 154.850 ton

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Rehabilitasi irigasi menjadi perhatian utama pemerintah untuk mendongkrak produksi pangan. Dalam kurun waktu 2015 hingga April 2019 dampak dari kegiatan tersebut mampu meningkatkan produksi padi sebanyak 8,21 juta ton.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy mengatakan, sejak pemerintah melaksanakan program rehabilitasi jaringan irigasi tahun 2015 hingga 2019 telah berdampak siginifikan dalam peningkatan produksi pangan, khususnya padi.

Bukan hanya lahan sawah yang dapat terairi kini mencapai 3,129 juta hektar (ha), tapi juga indeks pertanaman (IP) naik 0,5. Dampak lebih lanjutnya adalah pada peningkatan produksi sebanyak 8,21 juta ton.

Selain mampu meningkatkan produksi, rehabilitasi jaringn irigasi juga mampu mempertahankan produksi padi sebesar 16,36 juta ton. Artinya, total produksi padi selama lima tahun pada daerah yang terkena kegiatan rehabilitasi mencapai 24,37 juta ton.  “Karena berdampak siginifikan, kami berharap program ini dapat dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang,” katanya di Jakarta, Selasa  (21/5)

Karena dampaknya cukup nyata, Sarwo berpesan agar petani yang tergabung dalam P3A atau kelompok tani ikut menjaga jaringan irigasi yang sudah direhabilitasi. “Kalau ada bangunan irigasi yang rusak sedikit, saya minta P3A atau kelompok tani untuk segera memperbaiki. Jaringan irigasi agar dipelihara agar awet. Paling tidak umur ekonomisnya mencapai 30 tahun,” tuturnya.

Sarwo mengakui, sekitar 40% jaringan irigasi telah rusak. Bahkan hampir sekitar 50 tahun tidak pernah diperbaiki. Karena itu, pemerintah sejak awal sangat memperhatikan upaya memperbaiki jaringan irigasi. 

Embung dan Pompa Air

Selain merehabilitasi jaringan irigasi, sejak lima tahun terakhir pemerintah juga membangun sebanyak 2.962 unit embung. Sarwo Edhy mengatakan, dengan jumlah embung yang terbangun sebanyak 2.962 unit, jika estimasi luas layanan embung, dam parit, long storage seluas 25 ha, maka potensi akan mampu memberikan dampak pertanaman seluas 73.850 hektar (ha).

“Bila dapat memberikan dampak pada kenaikan IP 0,5, maka akan terjadi penambahan luas tanam 36.930 ha dan penambahan produksi padi sebesar 384.020 ton,” katanya.

Sarwo mengatakan, pengembangan embung bukan hanya untuk tanaman pangan, tapi juga mendukung upaya peningakatan produksi komoditas hortikultura dan perkebunan. Setidaknya ada 39 unit embung untuk komoditas hortikultura dan perkebunan. Jika diestimasikan per unit embung dapat melayani luas areal 10 ha, maka luas areal yang dapat pelayanan air di musim kemarau seluas 390 ha.

Sedangkan pengembangan embung untuk mendukung peternakan sebanyak 5 unit. Jika diestimasikan per unit embung melayani 10 ha, maka luas areal hijauan makanan ternak yang dapat di airi sebanyak 50 ha. “Kita harapkan dengan adanya embung, tidak lagi dikenal musim kemarau, karena akan selalu ada air,” katanya.

Lebih lanjut Sarwo mengungkapkan, pemerintah juga selama 3 tahun terakhir  (2016 – 2019) meningkatkan irigasi perpompaan. Total kegiatan irigasi perpompaan selama 3 tahun tersebut sebanyak 2.358 unit. Dengan estimasi luas layanan per unit seluas 20 ha, luas areal yang dapat diairi saat musim kemarau seluas 47.160 ha. Perhitungannya, jika berdampak pada penambahan IP 0,5, maka akan terjadi penambahan luas tanam 29.780 ha dan penambahan produksi padi sekitar 154.850 ton.

Sedangkan irigasi perpompaan untuk mendukung komoditas hortikultura dan perkebunan telah dibangun sebanyak 429 unit. Dengan estimasi per unit seluas 10 ha, maka luas areal yang dapat diairi pada musim kemarau seluas 4.290 ha.

Sedangkan irigasi perpompaan mendukung komoditas peternakan, khususnya populasi ternak ruminansia telah dibangun sebanyak 322 unit. Dengan estimasi 1 unit perpompaan dapat melayani kebutuhan air 10 ekor ternak, maka terdapat 3,220 ekor ternak yang terjamin ketersediaan air minum dan sanitasi kandang. “Kegiatan  perpompaan ini juga untuk membantu fasilitasi ternak, termasuk ketersediaan pakan,” ujar Sarwo. **

Reporter : Juli
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018