Selasa, 17 September 2019


Ini Rekomendasi Pemerintah untuk Antisipasi Musim Kemarau

24 Mei 2019, 07:05 WIBEditor : Gesha

Perbaikan jaringan irigasi menjadi salah satu cara antisipasi dini kemarau | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Kementerian Pertanian mengingatkan petani untuk mengantisipasi secara dini musim kemarau pada Juli-September 2019 yang akan berdampak pada kekeringan pada lahan sawah. BMKG memprediksi pada bulan-bulan tersebut merupakan puncak musim kemarau dan curah hujan akan menurun signifikan.

Berdasarkan pemantauan kekeringan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan periode pelaporan 17 Mei 2019, luas lahan sawah yang terkena kekeringan mencapai 4.029 hektar (ha) dan puso 49 ha. Seluruhnya terjadi pada Januari hingga Maret 2019.

Direktur Irigasi Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP), Rahmanto mengatakan, pada daerah yang endemik kekeringan, pemerintah merekomendasikan agar dinas pertanian dan kelompok tani untuk segera melakukan aksi tanggap.

Diantaranya, mengawal ketat jadwal dan pola tanam terutama yang sesuai dengan ketersediaan airnya.

“Petani juga agar melaksanakan jadwal gilir-giring sesuai dengan yang telah disepakati. Salah satunya dengan menertibkan petani yang melakukan gadu liar, sehingga memanfaatkan air irigasi yang seharusnya menjadi hak petani pada bagian hilir,” kata Rahmanto di Jakarta, Kamis (23/5).

Aksi tanggap lainnya yang bisa segera dilakukan yakni mengidentifikasi sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan dan menyalurkannya dengan pompa pada lahan sawah yang masih terdapat standing crop.

“Kami juga menghimbau Pemda aktif dalam mendaftarkan petani dalam Asuransi Usaha Tani Padi agar terlindungi dari resiko kerugian akibat kekeringan,” katanya.

Menurut Rahmanto, saat ini monitoring lahan sawah yang rawan dan mengalami kekeringan dapat dilakukan secara online dengan adanya sistem informasi monitoring padi yang dimiliki Kementan serta dipadukan dengan monitoring hari tanpa hujan yang dimiliki BMKG.

Dengan demikian, lahan sawah yang berpotensi dan sedang mengalami kekeringan dapat dipantau secara berkala, sehingga antisipasi dan penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

“Ditjen PSP juga telah menyiapkan lebih dari 5.200 unit pompa untuk mengantisipasi kekeringan 2019. Selain itu pompa-pompa yang sudah disalurkan sejak 2016-2018 juga masih dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi musim kemarau 2019,” tambahnya.

Optimalkan Sumber Air

Dalam upaya mencapai target produksi padi nasional sebesar 84 juta ton pada 2019, Kementerian Pertanian berupaya mengoptimalkan lahan sawah yang masih memiliki sumber air yang mencukupi pada musim kemarau, terutama menyediakan infrastruktur irigasi untuk menjamin ketersediaan air.

Pemerintah juga menyiagakan alat dan mesin pertanian untuk mempercepat proses pertanaman dan panen, serta asuransi pertanian.

Dengan antisipasi dini itu dapat memberikan jaminan kepada petani agar tidak mengalami kerugian jika terjadi puso akibat kekeringan.

Berdasarkan informasi dan kalender tanam, potensi luas tanam padi pada periode musim kemarau 2019 mencapai 3,3 juta ha.

Sebagian besar lahan tersebut berada pada daerah irigasi teknis yang sumber airnya terjamin melalui pengelolaan waduk.

Hingga periode awal Mei 2019, luas standing crop tanaman padi mencapai 2,9 juta ha. Luas lahan itu sebagian besar masih berada pada fase awal dengan umur tanaman 1-30 hari.

“Kondisi ini harus terus dipantau terkait dengan pemenuhan ketersediaan airnya sehingga terhindar dari resiko kekeringan,” kata Rahmanto. ***

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018