Jumat, 19 Juli 2019


Mentan Amran Tengok Lokasi Serasi di Batola

26 Mei 2019, 15:46 WIBEditor : Yulianto

Mentan Amran Sulaiman saat menengok lokasi Serasi di Batola | Sumber Foto:Humas Kementan

jika program ini berjalan dengan baik, maka petani bisa untung dua kali lipat. Sesuai dengan mimpi besar yang dicita-citakan pemerintah menyejahterakan petani salah satunya melalui program Serasi

TABLOIDSINARTANI.COM, Batola. Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) menjadi upaya pemerintah untuk mengoptimasi lahan rawa. Salah satunya berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Nah, untuk memastikan program tersebut berjalan, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Sabtu (25/5) meninjau langsung dua lokasi lahan rawa di Kabupaten Barito Kuala (Batola).

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah lahan rawa yang ada di Desa Tumih, Kecamatan Wanaraya untuk meninjau areal pembuatan tanggul dengan brigade alat excavator. Kepada operator excavator Mentan berpesan agar bekerja keras dan memanfaatkan alat berat dengan maksimal. Mengingat Kabupaten Batola adalah salah satu daerah yang terbesar mendapatkan dana program ini, yakni Rp 200 miliar lebih. Saat ini, alokasi program Serasi di Batola seluas 56.042 hektar (ha).

"Kita ingin menggerakan pertanian secara moderen sesuai yang diharapkan Bapak Presiden. Karena kita ini bekerja bukan untuk ketersediaan pangan di Kalsel saja, tetapi untuk Indonesia," ujar Amran dihadapan Komandan Korem (Danrem) 101/Antasari, Kolonel Inf M Syech Ismed SE. MHan, yang membantu pengamanan mekanisasi pertanian di Batola.

Lokasi berikutnya yang dikunjungi adalah Desa Kokida, Kecamatan Barambai. Mentan berbincang dengan petani di Posko Serasi Gapoktan Kokida, yang merupakan satu contoh keberhasilan program Serasi. Amran memerhatikan dari dekat air mengalir di saluran irigasi yang sudah berfungsi dengan baik.

Amran yakin jika program ini berjalan dengan baik, maka petani bisa untung dua kali lipat. Sesuai dengan mimpi besar yang dicita-citakan pemerintah menyejahterakan petani salah satunya melalui program Serasi.  “Untuk membuat ini semua anda dipungut biaya ndak?” tanya Amran pada petani.

“Tidak, malah kita dikasih uang untuk operasional pembuatan saluran irigasi,” jawab Surono seorang petani.  Surono mengaku, dengan irigasi yang baik ia optimistis pendapatannya akan meningkat seiring produksi padi yang juga akan terus meningkat.

“Sekarang kita punya varietas baru namanya Inpara 2, yang sudah terbukti produktivitasnya di lahan rawa. Maksimal bisa 6 ton per ha. Bisa nggak?,” tantang Amran.  “Itu baru sekali, kalau bisa tanam 3 kali setahun, berapa kali lipat pendapatan Petanian meningkat? Terlebih nanti di sini akan mekanisasi semua. Kita transformasi dari pertanian tradisional ke pertanian mekanik,” lanjut Amran.

Di lokasi yang sama Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menjelaskan di Kalsel potensi lahan rawa ada sekitar 257.300 ha. Dari jumlah tersebut yang sudah ada CP/CL (Calon Petani/Calon Lahan) seluas 160.481 ha. Sudah disurvey seluas 43.188 ha dan sudah didesain seluas 38.121 ha. Sementara yang dalam proses pekerjaan fisik kontruksi seluas 2.143 ha.

Dengan program ini, Sarwo Edhy menargetkan lahan yang belum pernah tanam bisa tanam sekali, yang sudah tanam sekali bisa dua kali, yang sudah tanam dua kali bisa dijadikan tiga kali. Sehingga terjadi optimalisasi dan nambah produksi untuk petani.

"Saat ini petani di Barambai, sudah tanam dua kali. Namun tanam pertama dengan menggunakan varietas lokal, produktivitasnya rendah yaitu 1,5-2 ton/ha. Sementara tanam kedua dengan varietas unggul, produktivitas naiknya 3-4 ton/ha," jelas Sarwo Edhy.

Rendahnya produktivitas pada tanam pertama juga disebabkan suplai air ke sawah sangat kurang. "Dengan Program Serasi, diharapkan masalah air dapat diatasi, begitu juga bibit," harap Sarwo Edhy.

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018