Kamis, 27 Juni 2019


Pengelola UPJA harus Jeli Lihat Peluang Penyewaan Alsintan

12 Jun 2019, 13:25 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang mengolah lahan dengan traktor | Sumber Foto:Suparman

Alsintan yang dikelola UPJA tak boleh berhenti. Karena itu, untuk mengoptimalkan penggunaan alsintan di setiap UPJA, pengurusnya harus ekstra aktif mencari peluang

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Pemerintah telah menggelentorkan ribuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk membantu petani dalam usaha tani. Sebagian bantuan tersebut dikelola unit pelayanan jasa alsintan (UPJA). Ada juga yang dikelola Brigade Alsintan yang ada di daerah.

Karena itu pemerintah meminta UPJA untuk mengoptimalkan penggunaan alsintan ke petani.  UPJA yang mengelola alsintan diharapkan aktif mencari peluang ke daerah lain agar penyewaan alsintannya bisa berjalan lancar.

Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy mengatakan, alsintan yang dikelola UPJA tak boleh berhenti. Karena itu, untuk mengoptimalkan penggunaan alsintan di setiap UPJA,  pengurusnya harus ekstra aktif mencari peluang.

Sarwo Edhy meminta pengurus UPJA yang mengelola alsintan harus jeli membaca potensi pengguna alsintan di wilayah dan daerah sekitarnya. Misalnya, jika di daerahnya sudah selesai panen, maka combine harvester-nya bisa dialihkan ke daerah lain yang sedang panen. Begitu juga kalau di daerahnya sudah selesai olah lahan dan tanam, traktor dan rice transplanter-nya bisa disewakan ke daerah lain.

Inventarisasi Alsintan

Sarwo mengatakan,  untuk mengoptimalkan alsintan yang dikelola UPJA, Ditjen PSP Kementan saat sedang melakukan inventarisasi alsintan yang sudah diberikan ke sejumlah UPJA, kelompok usaha bersama (KUB), koperasi dan Brigade Alsintan.

“UPJA atau KUB yang mengelola alsintan tersebut akan kami kumpulkan di setiap provinsi. Kemudian kami lakukan sosialisasi agar bisa mengoptimalkan penggunaan alsintan.  Kami juga memberi bekal kepada pengurus UPJA cara mengelola alsintan yang baik,” tutur Sarwo.

Sarwo menegaskan, apabila ada pengurus UPJA yang dinilai kurang maksimal  dan tak responsif dalam mengembangkan usaha alsintan, maka Ditjen PSP Kementan bisa membubarkan dan segera membentuk UPJA baru untuk mengelola bantuan alsintan dari pemerintah.

“Bisa juga bantuan alsintannya kita alihkan ke UPJA atau KUB lainnya. Sebelum dilakukan pengalihan, kami akan koordinasi dahulu dengan pihak kabupaten dan provinsi,” papar Sarwo Edhy.

Sarwo  mengungkapkan, sampai saat ini Kementan masih memberi bantuan alsintan ke sejumlah UPJA, KUB (Kelompon Usaha Bersama), koperasi ataupun ke Brigade Alsintan.  Jika UPJA dikelola kelompok tani maupun gabungan kelompok tani, maka KUB terbentuk dari sejumlah penyuluh pertanian. Bahkan, alsintan yang dikelola Brigade Alsintan saat ini sudah merambah sampai ke sejumlah kecamatan.

Sarwo berharao, semua bantuan alsintan yang dikelola UPJA ataupun KUB bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.  Mengingat, petani yang menggunakan alsintan usaha taninya lebih efektif dan efisien.

"Kalau dulu petani membajak sawah dengan alat tradisional butuh waktu 5-6 hari/hektar. Dengan memanfaatkan traktor, petani hanya butuh waktu 3 jam/ha. Sehingga, penggunaan alsintan 40% lebih efisien," kata Sarwo Edhy.

Menurut Sarwo Edhy, poktan atau gapoktan bisa membentuk UPJA, koperasi dan KUB untuk mengembangkan alsintan bantuan pemerintah. Alsintan bantuan pemerintah apabila dikelola dengan baik akan memberi keuntungan bagi pengelola UPJA atau KUB.

Bahkan,  penggunaan alsintan akan mampu mendorong indeks pertanaman (IP) petani dari yang semula 2 kali menjadi 3 kali/tahun. Petani yang menggunakan alsintan hampir bisa dipastikan produktivitas tanamannya meningkat.

“Pastinya, apabila alsintan bisa dikelola dengan baik akan memberi penghasilan tambahan bagi poktan atau gapoktan. Sebagai contoh, kelompok mahasiswa di Sumatera yang mengelola alsintan dengan mendirikan KUB selama tiga bulan sudah mampu meraup untung Rp 170 juta," tutur Sarwo Edhy.

Sarwo mengungkapkan, pemerintah telah memberikan bantuan alsintan sekitar 720 ribu unit dengan berbagai jenis. Jumlah itu diperkirakan naik hampir 500?ri sebelumnya.  Data Ditjen PSP, sejak tahun 2015, pemerintah memberikan bantuan alsintan sebanyak 54.083 unit, tahun 2016 sebanyak 148.832 unit, pada tahun 2017 sebanyak 82.560 unit, dan pada tahun 2018 sebanyak 112.525 unit. Alsintan tersebut telah diberikan kepada kelompok tani/gabungan kelompok tani, UPJA dan brigade alsintan.

Sedangkan tahun 2019, Kementan akan mengalokasikan alsintan sebanyak 50 ribu unit. Alsintan tersebut berupa Traktor Roda dua (20 ribu unit), Traktor Roda empat (3 ribu unit), Pompa Air (20 ribu unit), Rice Transplanter (2 ribu unit), Cultivator (4.970 unit) dan Excavator (30 unit). ***

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018