Minggu, 20 Oktober 2019


Ratusan Pompa Turun Siagakan Kekeringan Indramayu

02 Jul 2019, 13:40 WIBEditor : Gesha

Di Kandanghaur Indramayu, ratusan pompa berjejer di saluran sekunder | Sumber Foto:RAHMANTO

Data dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, hingga 2 Juli 2019 di Kabupaten Indramayu tercatat sebanyak 14.617 hektar luas pertanaman padi terancam kekeringan dari luas tanam mencapai 97.107 hektar atau hanya sekitar 7,83%

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu --- Kekeringan tengah mengintai beberapa daerah di Jawa Barat! Ratusan pompa sudah turun untuk disiagakan di Indramayu agar petani dapat terus mendapatkan pasokan air.

Seperti yang terlihat di Desa Sidamulya Kecamatan Bongas Kabupaten Indramayu ketika Direktur Irigasi Pertanian, Rahmanto melakukan monitoring kekeringan di Jawa Barat.

Penyuluh terlihat mendampingi untuk mengupayakan petani mendapatkan air dengan pompanisasi di saluran sekunder. "Yang penting tanaman padinya terselamatkan. Namun dampaknya petani di ujung (hilir) tidak kebagian air," tuturnya.

Data dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, hingga 2 Juli 2019 di Kabupaten Indramayu tercatat sebanyak 14.617 hektar luas pertanaman padi terancam kekeringan dari luas tanam mencapai 97.107 hektar atau hanya sekitar 7,83 persen.

Rahmanto menyebutkan mayoritas yang terkena dampak kekeringan adalah sawah tadah hujan yang tidak mengalami hujan lebih dari 30 hari.

Kabupaten Indramayu memang dikenal sebagai daerah dengan potensi air yang rendah dan mayoritas petani tidak mengindahkan rekomendasi petugas untuk bertanam. "Potensi sumber air juga hanya bisa mengairi sawah yang terdekat dengan sumber air," tuturnya.

Karenanya, pompanisasi bisa menjadi jalan bagi sawah yang terletak jauh dari sumber air. Namun, penggunaan pompanisasi juga membutuhkan upaya lainnya agar petani mendapatkan air yang merata.

Lebih lanjut Rahmanto menuturkan jika pemerintah telah mengupayakan berbagai upaya untuk mengatasi kekeringan tersebut, utamanya bagi daerah yang terkenal rawan kekeringan.

Mulai dari perbaikan saluran irigasi (jitut dan jides), mobilisasi pompa air untuk mengamankan standing corp terutama pada daerah yang masih memiliki sumber air (sumur pantek, sungai dan lain sebagainya).

Kemudian melakukan penerapan teknologi yang efektif dan efisien supaya areal yang terairi lebih luas, seperti gilir giring, intermiten dan sebagainya.

Sedangkan pada areal yang akan tanam, dilakukan perhitungan kecukupan air hingga panen dengan memanfaatkan informasi iklim (KATAM TERPADU). Dan petani direkomendasikan menggunakan varietas padi tahan kekeringan dan umur genjah.

Pemantauan standing corp melalui remote sensing juga tetap dilakukan pemerintah untuk tindakan penyelamatan atas wilayah yang mengalami kekeringan

Atisipasi kekeringan terus akan dilakukan. Utamanya agar dampak kekeringan tidak semakin meluas dan daerah yang mengalami kekeringan bisa terselamatkan produksinya

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018