Sabtu, 19 Oktober 2019


Bendungan Direhabilitasi, Ribuan Hektar Sawah di Serang Terancam Kekeringan

25 Jul 2019, 15:32 WIBEditor : Gesha

Selama direhabilitasi, bendungan melakukan jadwal buka tutup pintu air bendungan sehingga suplai ketersediaan air ke irigasi teknis (sekunder) sangat berkurang. | Sumber Foto:Arifullah

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Serang --- Musim kemarau di tahun 2019 ini seolah pahit dirasakan oleh petani di Serang, Banten. Seharusnya di Mei-Juli 2019 ini, petani sudah memulai tanam. Sayangnya, disaat bersamaan Bendungan Pamarayan tengah direhabilitasi sehingga pasokan air untuk petani tidak ada dan ribuan hektar sawah terancam kekeringan.

"Kurang lebih sekitar 8000 hektar sawah yang terdampak kekeringan karena direhabnya bendungan tersebut," tutur penyuluh pertanian dari BPP Kecamatan Tirtayasa, Arifullah kepada tabloidsinartani.com.

Selama direhabilitasi, bendungan melakukan jadwal buka tutup pintu air bendungan sehingga suplai ketersediaan air ke irigasi teknis (sekunder) sangat berkurang. "Padahal, sebagian besar petani di Serang melakukan tanam mulai dari Mei - Juli 2019 di masa tanam ASEP ini. Mereka hanya mengandalkan dari saluran irigasi teknis yang dialiri dari bendungan utama yaitu Bendungan Pamarayan tersebut," tukasnya.

Untuk diketahui, Bendungan Pamarayan Barat sendiri mengairi area persawahan di Serang Utara (Kecamatan Ciruas, Pontang, Tirtayasa, Cikeusal, Lebakwangi dan Keramatwatu). Sistem buka tutup bendungan ini akan dilakukan selama 3 bulan ke depan, sehingga pasokan air yag sangat dibutuhkan para petani saat menjadi terganggu. "Apalagi sawah di sekitaran Serang Utara saat ini sudah ada pertanaman padi," tuturnya.

Karenanya, sejak Senin (22/7), perwakilan Poktan di Cipontirta (Ciruas, Pontang dan Tirtayasa serta Tanara) duduk bersama menyikapi ketiadaan air. Bahkan sampai mendatangi PT WIKA untuk memecahkan bersama persamalahan tersebut.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana menuturkan Pemerintah Serang melalui dinas pertanian melakukan beberapa langkah terkait antisipasi kekeringan tersebut yaitu melakukan inventarisasi tanaman yang sudah tertanam. "Termasuk, memetakan wilayah/kecamatan yang terdampak dari adanya rehab bendungan tersebut, melakukan koordinasi dengan pihak balai besar yang mengelola bendungan pamarayan agar ada kebijakan yang tidak merugikan petani dengan adanya rehab bendungan tersebut, dan membuka posko mitigasi kekeringan," bebernya.

Bahkan melalui penyuluh,POPT dan UPTD yang ada dilapangan akan selalu menginformasikan terkait langkah-langkah antisipasi kekeringan tersebut termasuk menyampaikan kalender tanam (KATAM Terpadu) untuk musim berikutnya.

Kepala Bidang Irigasi pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Serang, Nurlaelah mengatakan di tahun 2019 ini ada 35 daerah irigasi yang tengah diperbaiki (rehab). Bahkan kebijakan buka tutup bendungan Pamarayan membuat beberapa kalangan diuntungkan dan juga dirugikan. "Kita buka tutup sesuai kesepakatan bersama di tahun kemarin. Kemudian ditutup nanti Oktober sesuai kesepakatan bersama," bebernya.

Dalam buka tutup ini pun disesuaikan dengan kebutuhan petani dan mengikuti aturan pola tanam sesuai SK Gubernur. "Kan bergilir. Tiap daerah masa tanamnya berbeda-beda. Kadang tanam kurang air yang menjadi masalah . Banyak yang enggak patuh," tukasnya.

Reporter : Arifullah/Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018