
Pembukaan Train the Trainer
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Pengunaan pestisida kimia di tingkat petani cukup memprihatinkan. Sebab, banyak petani yang menggunakan sarana produksi pembasmi hama itu justru berlebihan (overdosis), sehingga yang terjadi hama menjadi resistensi.
Untuk membantu petani dalam aplikasi pestisida dengan baik, Asosiasi Cropcare Indonesia (ACI) menyarankan agar menggunakan pestisida sesuai anjuran yang tertera dalam kemasan. Selain itu, jangan mencampur sendiri pestisida yang satu dengan yang lain
“Satu jenis pestisida dibuat sesuai hasil tes di lapangan. Misalnya pestisida untuk hama sundep, efektif untuk hama tersebut, bukan untuk hama yang lain,” kata Ketua Umum ACI, Joko Suwondo di sela-sela Train the Trainer anggota ACI di Bogor, beberapa waktu lalu.
Joko melihat selama ini petani juga kurang tepat dalam menggunakan atau mengaplikasikan pestisida, terutama waktu menyemprotkan. Contohnya, jika ingin membasmi hama sundep, seharusnya disemprotkan sebelum hama itu masuk ke batang padi.
“Kalau penyemprotan pestisida ketika hama itu sudah masuk batang padi, maka tidak akan efektif,” ujarnya. Saran lainnya lanjut Joko, adalah petani harus menggunakan pestisida sesuai petunjuk dalam label, sehingga sesuai dengan dosis anjuran. “Petani kadang ada yang mengurangi dosis sehingga hama tidak mati. Tapi ada juga yang berlebihan dosisnya,” tambhanya.
Pestisida modern
Joko mengakui, untuk jenis pestisida modern yang kini diproduksi industri pestisida memang berbeda dengan yang lalu. Jenis pestisida saat ini lebih alami, sehingga lebih lama bereaksi terhadap hama penyakit, tapi tingkat keampuhannya lebih tinggi. “Jadi ketika pestisida itu disemprotkan ke tanaman, hama memang tidak langsung mati dan agak lama prosesnya,” ujarnya
Tapi dengan formulasi yang lebih maju yakni ODI (Oil Disparsible), pestisida modern lebih ramah lingkungan. Bahkan dengan dosis yang lebih sedikit, cukup bagus untuk mengatasi hama tanaman. Berbeda dengan formulasi pestisida EC yang mudah meledak. “Karena ada tekanan terhadap penggunaan pestisida ramah lingkungan, kini industri pun berlomba-lomba membuat formulasi yang ramah lingkungan,” kata Joko.
Untuk membantu petani menggunakan pestisida yang benar, Joko mengungkapkan, ACI mengadakan pelatihan untuk Train the Trainer untuk petugas lapangan anggota Cropcare. Dengan pelatihan ini diharapkan petugas bisa memberikan penyuluhan kepada petani cara menggunakan pestisda yang benar, baik dalam aplikasi, penyemprotan dan memberikan dosis.
Joko tak menyangkal kini beredar pestisida palsu, baik pestisida tersebut sudah tidak terdaftar lagi atau dilarang, maupun pestisida yang masih terdaftar tapi dipalsukan. “Jika mengetahui ada pestisida palsu, saya minta petani segera laporkan. Jadi saat membeli petani mengecek lebih teliti pestisida tersebut,” tegasnya.