
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, M.Syakir mendapatkan gelar Professor Riset sekaligus tantangan dari Menteri Partanian, Amran Sulaiman
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Kementerian Pertanian kembali melakukan pengukuhan professor riset bagi penelitinya. Menariknya, setiap professor di lingkup Kementan selalu ditantang untuk bisa berbuat lebih dari hasil risetnya.
"Kepada Saudara Prof. Dr. Muhammad Syakir saya berikan penugasan khusus untuk menjadi Koordinator Nasional dalam mengembalikan kejayaan rempah Indonesia. Saudara harus mampu mengorkestra keterlibatan beragam pihak dalam upaya ini, mulai dari pengembangan perbenihan sampai dengan upaya merebut kembali pasar di mancanegara," tantang Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam pengukuhan gelar Professor Riset dari Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, M.Syakir di Bogor, Senin (15/10).
Tantangan Menteri Pertanian ini tentu saja bukan sekedar omong kosong belaka sebab dalam risetnya, M.Syakir memaparkan Modifikasi Budidaya Lada Perdu agar bisa memberikan produktivitas tinggi sekaligus bisa ditanam pada agroekologi yang beragam.
Tak hanya modifikasi budidaya saja, beragam teknologi pendukung seperti perbenihan dan sistem pemupukan juga sudah direncanakan secara matang. Sehingga optimisme untuk bisa membangkitkan kejayaan rempah bisa tercapai.
Untuk diketahui, selama ini budidaya tanaman lada dilakukan secara konvensional yaitu melalui tiang panjat. Sedangkan sistem lada perdu yang dipaparkan M.Syakir bisa menjadi teknologi alternatif.
"Apa yang sedang dikembangkan tersebut telah membuka peluang bagi pengembangan tanaman lada di berbagai agro-ekosistem, baik secara monokultur ataupun tumpang sari, dengan ongkos produksi yang lebih murah," tutur Menteri Amran.
Gelar Profesor Riset yang diterima oleh Kabadan Litbang Pertanian M. Syakir tersebut merupakan gelar ke 132 dari 1128 orang peneliti yang ada di Kementerian Pertanian.
Untuk diketahui, rintisan program pengembalian kejayaan rempah Nusantara sudah dilakukan Kementan di awal tahun 2018 dengan pemberian bibit lada dan pala sebanyak 30 juta batang secara gratis ke masyarakat.
"Dengan budidaya yang dijelaskan Kepala Badan tadi selama 2-3 tahun produksi bisa mencapai 220 ribu ton. Indonesia bisa menjadi nomor 1 di dunia kembali. Paling tidak 2021, dan pasti bisa !," ucap Menteri Amran optimis.
Lompatan Teknologi
Lebih jauh Menteri Amran memaparkan jika peneliti di lingkup Kementan kini tengah bersemangat menciptakan teknologi dan penelitian yang bisa membawa harumnya negara Indonesia di mata luar negeri.
Lompatan tersebut juga disebabkan oleh kepastian pemberian hak royalti bagi para peneliti yaitu sebesar 5 persen.
Menteri Amran mencontohkan royalti yang diterima salah satu peneliti Kementan yang mencapai Rp 2.6-6 Milyar per tahun. "Kita tidak bisa jadi negara maju tanpa teknologi," tukasnya.
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Laksana Tri Handoko pun mengapresiasi semangat para peneliti di lingkup Kementerian Pertanian. "Sebab kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kerjasama yang berdampak global," tuturnya.
Karena itu, LIPI mendorong agar Balitbang Pertanian terus meningkatkan skill para penelitinya melalui infrastruktur dan ketersediaan sarana penelitian. Hal tersebut dilakukan agar penelitian bidang pertanian bisa membawa hasil pada kemajuan bangsa dan kesejahteraan petani. (gsh)