Friday, 01 July 2022


Menunggu Kebangkitan Tanaman Obat

29 Jun 2020, 07:05 WIB

Empon empon untuk jamu | Sumber Foto:Memed Gunawan

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - E-paper Tabloid Sinar Tani Edisi 3849 mengusung topik  menarik: New Normal, Kembali ke Era Jamu.  Jamu, obat jaman baheula, yang kuno, yang tradisional, yang dilihat sebelah mata oleh orang moderen, tiba-tiba pamornya melonjak. Apalagi Presiden juga rutin minum jamu, membuatnya selalu bugar dalam kegiatannya yang sibuk luar biasa. 

Jamu mulai naik daun dan dicari orang. Empon-empon yang pahit, kunyit asam yang enak pesanannya mencuat dan harganya naik. Tak heran kalau jahe merah susah didapat, kunyit menghilang, dan temulawak lenyap. 

Sesungguhnya tak sepenuhnya benar kalau jamu ditinggal penggemarnya. Buktinya industri jamu berkembang, orang paling kaya antara lain pengusaha pabrik jamu, dan embak-embak penjual jamu gendong tetap mengendong, bahkan para penggendongnya semakin sejahtera dan membuat rumah baru di kampungnya. Demikian juga upaya  pemerintah untuk mendukungnya tidak kurang. Kementerian Pertanian mempunyai Pusat Penelitian Tanaman Obat yang besar, didukung para peneliti berkaliber pendidikan S1, S2 dan S3.  Kementerian  Kesehatan membawahi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional  yang singkatannya tidak singkat: B2P2TOOT, sebagai lembaga IPTEK untuk upaya pelestarian, pembudidayaan, dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional. 

Iklim di daerah Tawangmangu cocok untuk budidaya tanaman obat (photo: Memed Gunawan)

Kasus kekurangan bahan baku jamu bukan berita baru, praktek impor bahan baku jamu sudah lama dilakukan pabrik jamu. Mungkin mereka tidak merasa aman bahwa pasokan bahan baku akan kontinu sesuai dengan kebutuhan untuk proses produksi yang tidak bisa menunggu tak tentu waktu. Walaupun sudah digadang-gadang sejak lama dibangunnya kerjasama kemitraan antara petani dengan pabrik jamu.  Sekarang, seperti Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) Dwi Ranni Pertiwi bahan baku jamu masih mengandalkan impor dari China.   Nasib tanaman obat, bahan baku jamu tak berbeda dengan saudaranya, kedelai atau cengkeh, pada pabrik tahu dan pabrik rokok, yang tergantung pada pasokan impor.  

BPS mencatat, pada tahun 2019  lahan tanaman obat di Indonesia adalah 27.539 hektare dengan total produksi 640.727 ton didominasi oleh jahe. Pada  tahun tersebut  produksi tanaman jahe adalah sebesar 216.587 ton, dengan volume ekspor sebesar 23.551,9 ton senilai 13,53 juta dollar. Tetapi dengan nilai ekspor yang tinggi tersebut, luas panennya malahan mengalami penurunan sebesar 18,37 persen dan produksinya turun 36,36 persen.  Pusat Penelitian Tanaman Obat akan mengembangkan kawasan jahe, merah, jahe gajah, jahe emprit dan rempah lainya di sejumlah daerah. Pusat Penelitian Tanaman Obat sudah lama ada di jajaran lembaga penelitian  yang terhormat. Hasilnya tak kurang, kualitasnya juga bagus, dan menghasilkan varietas unggul jahe merah, jahe emprit, kunyit, temulawak, kencur, pala, lada, cengkeh, dan kayumanis,. 

Indonesia kaya akan tanaman obat, antara lain Jahe, Laos (Lengkuas), Kencur, Kunyit , Lempuyang, Temulawak, Temuireng, Temukunci, Dringo, Kapulaga, Mengkudu, Mahkota Dewa, Kejibeling, Sambiloto,  dan Lidah buaya. Kondisi agroklimat juga mendukung. Kebun Tanaman Obat di kawasan Tawangmangu sebagai contoh adalah lokasi yang tepat. Udaranya sejuk di ketinggian yang pas, luasnya cukup dan berdekatan dengan tempat prosesingnya sampai menjadi jamu dan obat herbal. Teknologi? Tidak ada masalah, penelitian punya segudang bekal untuk menghasilkan produk terbaik. Petani produsen pun tidak kurang pintar. Jadi?

Masalah terbesar lagi-lagi terletak pada kelembagaan pemasaran yang kurang berperan. Keterkaitan hulu-hilir yang tidak direkat dengan pembagian peran dan tanggungjawab yang jelas dan dipatuhi, pembagian keuntungan dan kesejahteraan yang sesuai dengan perannya masing-masing, yang adil dan saling membesarkan. Jalannya memang tidak mudah, tapi itulah satu-satunya jalan yang harus dilalui. Wallahualam.

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018