Friday, 01 July 2022


Dari Bahan Sederhana Menjadi Santapan Nikmat

03 Jul 2020, 10:31 WIBEditor : Ahmad Soim

Kamir Raziudin Brata | Sumber Foto:Memed Gunawan

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Judul di atas itu adalah iklan sebuah produk margarin pada tahun 70-an. Bahan baku yang sederhana sekalipun kalau dimasak dengan menggunakan margarin akan menjadi santapan lezat. Iklan lainnya yang melekat diingatan adalah “Giman selalu Berhasil”, karena rotinya selalu diolesi margarin ini.

Pada awal tahun 90-an, Ir Kamir Raziudin Brata (sekarang sudah bergelar Dr. Ir dan MS), seorang dosen di IPB, menekuni ide sederhananya sendirian, tanpa bantuan dana dari siapa pun. “Dari uang gaji sendiri, tanpa didukung dana penelitian,” kata Kamir Raziudin B.

Ide sederhananya adalah menggunakan lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 1 meter dalam jumlah banyak untuk dijejali dengan sampah organik. Lubang itu menurutnya akan berguna untuk membuat kehidupan organisme di dalam tanah, memperkaya unsur hara dan bahan organik tanah, meningkatkan serapan air, dan menangani sampah organik yang biasanya dibuang begitu saja menjadi sampah bermasalah.

Pemikiran ini sangat sederhana, ditunjang alasan yang masuk akal yang kira-kira semua orang bisa mengerti. Pada mulanya semua orang memandang sebelah mata. Tapi belasan tahun kemudian nama Kamir Raziudin Brata bertebaran di berbagai media nasional dan internasional, dan menjadi pembicaraan dalam lalu lintas medsos. Pria jangkung berkulit gelap yang sederhana itu diundang ke mana-mana, mulai dari Tanamn Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Grup Ibu-Ibu Arisan sampai dengan lembaga terhormat dan petinggi pemerintahan dan militer, atas nama Lubang Resapan Biopori atau LRB, yang sekarang sudah mendunia.

Di tangannya tergenggam penghargaan Kalpataru, penghargaan bagi aktivis lingkungan tertinggi yang diberikan oleh negara. Tidak itu saja, bor sederhana yang dia ciptakan untuk membuat lubang itu, yang juga sederha dan digerakkan dengan tenaga sendiri, menjadi lahan usaha banyak orang untuk memperoleh penghasilan. Seorang Kamir tidak berniat memproduksinya sendiri dan mengajukan hak paten. “Biarlah orang yang membuatnya, semoga temuan saya bermanfaat bagi orang banyak,” katanya lagi merendah.   

Melestarikan lingkungan hidup tak perlu teknologi yang sulit-sulit. Berbagi kepada yang miskin juga tidak perlu menunggu kaya. Itu falsafah Kamir Raziudin Brata yang sehari-hari mengajar mahasiswa di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Banyak kasus serupa, seperti halnya mengolah tanah sebelum musim hujan tiba, supaya pada saat hujan datang sudah siap tanam. Atau tandur jajar supaya memudahkan menyiang dengan alat yang disebut landak, juga berasal dari pemikiran sederhana tapi memberikan manfaat yang luar biasa. Atau sistem surjan, atau longyam, atau sabit bergerigi dan atau yang lainnya. 

Pelajaran yang bisa dipetik dari kasus ini adalah, kita sering melupakan temuan berharga yang banyak dimulai dari pemikiran sederhana. Kita terbiasa menghargai upaya yang rumit dan susah, memberikan kredit tinggi pada hasil penelitian yang modelnya rumit dan prosesnya sulit walaupun manfaatnya belum jelas. Sering pula  datanya  bermasalah, asumsinya tidak tepat dan modelnya jauh dari kenyataan.

Semoga kedepan apresiasi dan dukungan pendanaan mengucur pada pemikiran dan upaya sederhana. Dari sana sering muncul temuan besar yang dinikmati masyarakat banyak.  Jangan ragu memulai dengan pemikiran dan model yang sederhana.

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018