Friday, 01 July 2022


Susahnya Mengurus yang Kecil

10 Jul 2020, 10:31 WIBEditor : Ahmad Soim

Penyuluh dan petani Gorontalo | Sumber Foto:Ahmad Soim

Oleh Dr. Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Tidak mudah memberdayakan petani berskalausaha kecil kalau kendala yang membatasi gerakannya tidak sekaligus dibangun. Itulah kira-kira inti dari tulisan ini.

Contohnya, mewujudkan kegiatan Tanam-Panen-Simpan-Olah-Jual oleh petani kita susahnya minta ampun. Istilah cantik yang dipopulerkan oleh para cerdik cendikia dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani seakan satu solusi yang valid. Margin terbesar memang diperoleh oleh pedagang atau pengolah yang tidak perlu berlepotan lumpur dan menanggung risiko hama, kebanjiran dan kekeringan. Pantaslah apabila kegiatan produksi-pengolahan pasca panen-pemasaran bisa dilakukan oleh petani. Begitu teorinya.

Maka berbagai model kebijakan dibangun agar petani tergerak untuk melakukan pengolahan sebelum mereka menjualnya ke pasar, bahkan kalau bisa langsung ke konsumen. Ada bantuan traktor, perontok, pengering dan tentu saja bantuan modal usaha dan pemasaran. Dicoba juga pola Resi Gudang yang mungkin namanya juga belum dikenal petani. Petani tidak usah tergesa menjual tetapi menyimpan di gudang (tentu tidak gratis), menunggu sampai harga produknya naik. Tidak berhasil! Petani memang susah diatur.

Ini bukan yang pertama. Pada kasus padi, perubahan substansial dalam ketenagakerjaan, pola pengupahan, dan penjualan hasil terjadi di pedesaan. Ada dinamika kelembagaan pedesaan yang sangat menarik untuk diamati oleh para peneliti.  Perubahan dari cara panen dengan ani-ani menjadi dengan sabit, pengupahan pemanen yang menurun dari 1/5 menjadi 1/10 hasil panen, munculnya sistem ceblokan, yaitu pembatasan jumlah pemanen karena hak memanen hanya diberikan kepada penandur yang dibayar separuh  upah, dan perubahan penjualan hasil menjadi tebasan.

Dengan tebasan, padi dijual langsung di sawah, dan segera dipanen oleh tim yang dibawa penebas dengan sabit, dirontokkan dan langsung diangkut dengan truk. Itu terjadi di pedesaan Jawa yang merupakan  sentra produksi padi Indonesia. 

Pola tebasan ini menjadi populer dan berlangsung hingga sekarang. Petani tidak membawa hasil panennya ke rumah dan mengeringkan sendiri padi atau gabahnya, tetapi langsung menjualnya di sawah. Dengan tebasan, petani menjual hasilnya dengan harga lebih rendah. Betulkah cara ini merugikan petani? Ternyata tidak. Dengan kondisi tertentu yang dihadapi petani ini adalah keputusan rasional.

Penelitian oleh Nurul Fathiyah dan kawan-kawan, salah satunya, menunjukkan  pendapatan petani lebih tinggi dengan tebasan dari pada dengan panen sendiri. Ada masalah terkait dengan skala usaha kecil yang dalam beberapa kegiatan tidak efisien. Dengan tebasan petani terbebas dari memanen sendiri, mengawasi pemanen agar tidak dicurangi, membebaskannya dari biaya angkut dari sawah ke rumahnya, dan biaya mengeringkan dan menyimpan.

Skala usaha kecil membatasinya dari kegiatan tersebut apalagi setelah biaya tenaga kerja secara relatif meningkat. Kondisi ini  diperkuat lagi apabila lokasi produksi jauh dari rumah petani, dan rumah petani jauh dari pasar atau Bulog yang membeli produk petani, sehingga biaya angkutan akan sangat membebani.

Penjualan ke tengkulak juga salah satu opsi yang sering dilakukan petani. Kelihatan ada satu mata rantai baru bernama tengkulak yang menghalangi  hubungan langsung antara petani dan pembeli di sektor hilir yang mengurangi pendapatan petani. Mata rantai itu harus dipotong, itu umumnya solusi yag dibangun.

Akan tetapi kalau melihat lebih jauh lagi akar penyebabnya,  semua yang dilakukan petani itu merupakan respon petani terhadap kondisi yang dihadapinya. Seperti pada kasus tebasan, proses yang harus dilalui petani antara produksi-pasar, di sana ada biaya yang harus dibayar petani. Pilihan petani adalah pilihan “the best among the worst”. Aksesibilitas, fasilitas, infrastruktur, sifat komoditas, keamanan akhirnya berperan dalam menentukan pilihan petani. Pilihan petani adalah respon terhadap kondisi yang dihadapinya. 

Solusi untuk membantu menyejahterakan petani padi yang lahannya hanya 0.3 Ha akhirnya mentok ke semua jurusan, kecuali kalau mereka dibesarkan dalam kesatuan usaha yang mencapai skala usaha yang efisien, disertai dengan membangun sistem pendukung yang utuh.   

Petani membangun kelembagaan usaha bersama dan pihak yang berwenang membangun infrastruktur pendukungnya. Rekayasa kelembagaan petani tidak mungkin dapat dibangun tanpa membuat mereka menghimpun dirinya menjadi satu kesatuan usaha sehingga terjadi efisiensi dalam berbagai kegiatan produksi, pembelian faktor produksi dan penjualan hasil.

Apa yang dapat dipetik dari cerita ini? Penyuluhan kelihatannya harus lebih difokuskan pada pengembangan kelembagaan usaha petani. Pengenalan teknologi diperlukan tetapi dengan pengetahuan petani sekarang, penerapan teknologi baru dapat cepat dilakukan.

Sementara membangun kerjasama petani untuk membangun usaha bersama sangat lambat dan keberhasilannya tergolong kecil. Dibangun dulu kelembagaan usaha dan infrastrukturnya, lalu didorong dengan kebijakan yang memberi kemudahan untuk berkembang. Mengurus yang kecil memang perlu kiat sendiri dan tak jarang jadi makan hati. Dan makan biaya juga. Logika sering tidak jalan karena berbenturan dengan sumbatan karena persoalan kecil tadi.

Mengurus yang kecil selalu lebih susah dari pada mengurus yang besar. Sama halnya juga menaklukan penyakit dan hama yang kecil bahkan tak terlihat, lebih susah dari  pada menaklukan yang besar. Virus, bakteri, dan kuman tak pernah berhasil ditaklukan, tetapi gajah, harimau dan binatang yang besar hampir punah karena babakbelur ditaklukan oleh manusia. Menulis dan memberi komentar juga lebih gampang dari pada mengerjakannya. Wallahualam

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018