Monday, 21 September 2020


Menghidupkan Kembali Pangan Lokal untuk Milenial

12 Jul 2020, 17:23 WIBEditor : Ahmad Soim

Memed Gunawan dan Koro Pedang | Sumber Foto:Ahmad Soim

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

 TABLOIDSINARTANI.COM - Menarik juga ulasan Gatra pada Edisi Februari 2020 tentang Inovasi Pangan Lokal yang saya tulis. Dalam tulisan ini, Saya coba mengambil intisarinya.  Indonesia memiliki potensi pangan lokal dan sejarah yang sangat kaya. Bayangkan saja, menurut Kementan paling tidak terdapat sekitar 100 jenis pangan sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran, dan 450 jenis buah-buahan.

Pola makan juga sangat beragam. Beras memang dominan, tapi yang namanya jagung, tiwul, ubi jalar, sagu singkong dahulu sangat umum merupakan makanan pokok. Masyarakat terbiasa makan jagung, sagu, ubi jalar dan singkong sebagai makanan pokok, atau rebus kacang-kacangan dan produk palawija lainnya sebagai makanan sehari-hari maupun cemilan di antara waktu makan.

Tiba-tiba saja, dalam jangka waktu yang singkat kita terperangkap mengonsumsi beras dan terigu dalam jumlah besar.  Kini, mengonsumsi makanan non beras tiba-tiba kita merasa jadi orang miskin yang perlu dikasihani. Media juga selalu memberitakan seperti itu. Akhirnya sejumlah besar devisa mengalir ke luar, impor beras dan terigu merajai impor pangan untuk memenuhi permintaan  di dalam negeri yang terus meningkat.

Generasi milenial tidak mengenal berbagai macam cemilan yang namanya begitu beraneka seperti talas, ganyong, sukun, suweg, bengkuang, hui kamayung, kedele, kacang bogor, gadung, gembili, garut, iles-iles dan sederet nama lain yang sudah tidak ada lagi di buku pelajaran.

 Ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Kita ikut bertanggungjawab. Berbagai bentuk bantuan pangan untuk mengatasi kekurangan pangan telah diselesaikan dengan mengirim beras sehingga terjadi perubahan selera, sehingga semakin lama semakin terjadi ketergantungan pada beras.

Sementara itu, semakin terbukanya ekonomi dunia, jenis makanan baru yang memberikan citra moderen, instant, disajikan di lokasi yang strategis dan menyenangkan, membanjiri pasar dengan promosi yang masif. Tak salah kalau segera mendapat respon dari konsumen. Mereka membeli citra dan kenyamanan, bukan nutrisi, apalagi memikirkan persoalan diversifikasi pangan yang menjadi kepedulian pemerintah. 

Pangan nasional yang khas, sehat, asli dan dulu tersedia, banyak yang sudah terlupakan dan menjadi sejarah masa lalu.  Mengonsumsi makanan non beras itu adalah semacam nostalgia belaka. Kuliner memang menampilkan makanan lokal yang diproses menarik dan khas. Makanan lokal, dengan produksi yang terbatas itu menjadi makanan eksklusif yang hanya dikonsumsi sekali-sekali saja, untuk nostalgia, merajut kenangan, sambil terus makan nasi dalam jumlah besar. 

Menghidupkan kembali pangan lokal adalah pekerjaan besar yang memerlukan kerja keroyokan. Banyak pihak terlibat dan perlu komitmen kuat bersama. Perlu koordinasi. Tidak mudah tapi harus. Dan prioritas. 

Dengan kondisi masih terkendala produktivitas, produksi, pemasaran dan prosesing, tidak pelak lagi upaya inovasi pangan lokal memerlukan energi tinggi dan serius. Seluruh komponen yang terlibat perlu bersinergi dengan baik. Lembaga penelitian yang menangani pangan lokal selain beras harus fokus untuk menemukan tanaman yang berproduktivitas tinggi yang betul-betul unggul untuk dipromosikan kepada masyarakat.

Sejalan dengan penelitian dan penyuluhan, pengembangan kebun bibit yang baik adalah satu langkah berikutnya. Varietas tanaman pangan banyak yang sudah dikenal baik dan diunggulkan masyarakat, tetapi bibitnya masih sulit diperoleh.  Kebun bibit juga perlu mendapat pengawasan yang ketat untuk menghindari terjadinya pemalsuan bibit.

Di bidang pemasaran dan penyajian, pangan lokal masih jauh tertinggal dibandingkan dengan serbuan makanan moderen yang meroket dengan cepat. Upaya memajukan pangan lokal dengan mewajibkan hotel menyajikan pangan lokal tidak berpengaruh banyak, dan tanpa adanya upaya serius dalam menghadirkan produk pangan lokal yang berkualitas baik dengan penyajian yang menarik, justru yang akan muncul adalah counter productive citra pangan lokal di mata masyarakat.

Sementara itu demo pengolahan makanan non beras yang lebih bersifat seremonial sebaiknya diubah menjadi pendidikan masyarakat untuk mengolah pangan lokal yang lebih realistis, lebih luas dengan memberikan pemahaman manfaat dan dampaknya terhadap konsumsi keseluruhan. 

Akses konsumen terhadap komoditas pangan lokal merupakan aspek berikutnya yang sangat penting. Perubahan besar telah terjadi, di mana konsumen tidak lagi memulai dari awal dalam mempersiapkan makanannya dengan mengupas, menguliti, mencuci dan membersihkan serta membuang sampahnya.

Kepraktisan seperti yang pernah tercipta dulu dengan membuat beras jagung, singkong parut yang siap dimasak, tepung sagu atau keripik harus dihadirkan kepada masyarakat di pasar. Proses ini pada skala kecil mungkin belum menguntungkan bagi usaha swasta sehingga pada saat awal perlu mendapat dukungan dari pemerintah.

Ketimpangan penampilan pangan lokal dengan sumber pangan lainnya cukup menyolok. Bahan pangan lokal masih dalam bentuk aslinya tidak berbeda seperti yang terlihat pada saat baru dipanen. Pangan lokal terbukti mengandung gizi yang tinggi dan secara ekonomi dapat dijangkau masyarakat karena tersedia di lokasi setempat dengan biaya angkut lebih rendah. Biaya angkut dan kehilangan selama dalam pengangkutan merupakan komponen biaya yang tinggi. 

Yang akan sangat berat adalah mengubah persepsi masyarakat yang terlanjur melihat pangan lokal sebagai komoditas inferior. Mengangkat citra komoditas yang terlanjur mendapat predikat yang buruk memerlukan waktu dan pendekatan yang hati-hati.

Yang tidak kurang pentingnya adalah bagaimana membangun citra pangan lokal yang lebih baik dan mendapat kepercayaan konsumen. Saat ini banyak pangan lokal yang tercemari zat berbahaya seperti boraks, formalin, pewarna makanan berbahaya, penjualan makanan kadaluwarsa dan mengabaikan kebersihan. Kasus-kasusnya terungkap tetapi kejadiannya terus berulang membuat masyarakat waswas untuk mengonsumsi pangan lokal yang dijual di pasar. 

Dunia kuliner yang sedang tumbuh di Indonesia adalah momentum yang baik untuk mengembalikan kecintaan terhadap pangan lokal. Inilah saatnya. Semoga.

 

 

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018