Wednesday, 23 September 2020


Bangun Jatuhnya Komoditas Unggulan Indonesia: Apakah Mungkin yang Jatuh Bisa Bangkit Kembali?

16 Jul 2020, 09:31 WIBEditor : Ahmad Soim

Perkebunan Karet Indonesia | Sumber Foto:Dok Soedjai K

Program Magister Agroteknologi Universitas Sumatera Utara dan Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia menyelenggarakan Webinar "Sejarah Perkebunan Indonesia". Berikut salah satu materinya.

Oleh Soedjai Kartasasmita – Pendiri Musium Perkebunan Indonesia

TABLOIDSINARTANI,COM - Kita harus bersyukur, Indonesia dianugerahi oleh Tuhan YME sumber daya alam yang tiada taranya di dunia sehingga tidak mengherankan kalau dalam zaman penjajahan Belanda, komoditas apapun yang didatangkan dari berbagai negara, kalau ditanam di Jawa maupun Sumatera ternyata menciptakan zaman keemasan bagi Pemerintah Kolonial Belanda dan para pelaku industrinya.

 Sama halnya dengan komoditas asli Indonesia seperti rempah-rempah dan tembakau Deli yang sempat menguasai pasaran dunia untuk jangka waktu yang cukup lama.

Namun ironisnya dalam perjalanan waktu beberapa komoditas yang pernah menjadi ikonnya industri perkebunan Indonesia seperti Kina, Tembakau Deli, Teh, Gula Tebu dan tanaman serat seperti Sisal, Agave dan Abaca sekarang karena berbagai sebab sudah punah atau paling tidak nyaris punah.

 Apakah masih ada harapan untuk komoditas-komoditas yang nyaris punah itu?

Jawabannya untuk beberapa komoditas potensinya masih ada asal disertai dengan penelitian yang up-to-date. Kina misalnya di masa depan akan banyak diperlukan lagi karena diramalkan oleh para pakar WHO bahwa penyakit malaria dalam waktu dekat ini akan bangkit kembali dalam skala yang benar-benar akan menggoncangkan dunia medis.

Tembakau Deli sekalipun masih banyak penggemarnya tipis kemungkinannya bisa bangkit kembali karena pangsa pasarnya sudah direbut oleh tembakau Mexico Sumatera, Brazil Sumatera dan Equador Sumatera. Di samping itu lahannya juga sudah banyak berkurang karena dimanfaatkan untuk keperluan lain. Perlu diketahui bahwa tidak sembarang lokasi cocok untuk ditanami Tembakau Deli.

 

Lalu Teh bagaimana?

Teh Sumatera sejak dulu dikenal sebagai teh yang superior sehingga diberi nama Sumatera Supreme Tea. Teh yang sangat diminati oleh konsumen di luar negeri adalah teh dari Bah Butong, Sidamanik, Marjandi dan Kayu Aro ( Provinsi Jambi).

Perlu diketahui bahwa rasa teh sumatera beda dengan teh yang dihasilkan di Jawa terutama karena lokasi kebun-kebun teh di Sumatera Utara ada di sebelah utara khatulistiwa.

Penting untuk diketahui oleh generasi sekarang bahwa karena adanya euphoria kelapa sawit banyak kebun teh dikonversi menjadi kebun kelapa sawit.

Teh sebetulnya masih mempunyai hari depan yang cemerlang disebabkan oleh 2 faktor, yakni  pandemic Covid-19 menyebabkan orang makin sadar bahwa minum teh bisa meningkatkan kesehatan manusia, dan di masa depan teh bisa mengisi kekosongan pasar kopi dan kakao yang disebabkan oleh anjloknya produksi kedua komoditas tersebut sebagai akibat dari perubahan iklim.

 Gula Tebu

Gula Tebu diduga juga akan berperan kembali dengan adanya wacana pemerintah untuk mencapai swasembada gula dalam waktu yang tidak terlalu lama dengan tujuan supaya Indonesia tidak lagi menjadi importir gula nomor 3 terbesar di dunia.

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di industri gula pada tingkat nasional maupun internasional saya berkeyakinan bahwa swasembada gula tidak mungkin akan terwujud kalau tidak dilandasi dengan R&D diantaranya yang dilakukan oleh P3GI ( Pusat Penelitian Gula Indonesia ) di Pasuruan yang didirikan pada 9 Juli 1883 atau 137 tahun yang lalu.

 Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan masa depan

Salah satu tantangan yang berat untuk masa depan ialah kenaikan temperatur di musim kemarau yang di beberapa Negara tropis sudah menyentuh 40⁰C atau lebih.

Dalam kaitan ini saya akan ceritakan apa yang terjadi di beberapa desa di Vietnam dalam musim kemarau dewasa ini. Ternyata temperatur yang tinggi pada siang hari, memaksa para petaninya untuk merobah jam kerjanya. Mereka sekarang bekerja di sawahnya tidak lagi pada siang hari namun pada malam hari mulai pukul dua malam hingga pagi hari demi untuk menjaga kesehatannya.

Di Hainan China ada perkembangan baru yang merupakan sinyal untuk masa depan karet yaitu penggunaan robot untuk penderesan karet. Lalu tugas buruh penderes hanya mengumpulkan latexnya dan mengantarnya ke pabrik untuk diolah lebih lanjut.

 Connecting the past to the future

Setelah menyimak paparan saya ini di antara para peserta tentu ada yang bertanya : mengapa Bapak tidak banyak cerita tentang perkembangan masa lalu tetapi lebih banyak tentang perkembangan di masa kini yang dibumbui dengan apa yang di ramalkan akan terjadi di masa depan padahal kita akan diskusi mengenai sejarah perkebunan ?

Jawabnya : masa depan itu tidak bisa dipisahkan dari masa lalu, suatu pandangan yang juga dianut oleh Museum Perkebunan Indonesia , yang dituangkan dalam bentuk motto yang berbunyi Connecting the past to the future.

Saya juga berpandangan sama apalagi karena hari depan yang kita hadapi akan banyak membawa berbagai perobahan yang revolusioner bagi industry perkebunan.

 Informasi Terkini

Sekarang saya lanjutkan dengan menyampaikan secara ringkas sejarah terkini dari beberapa komoditas perkebunan khususnya yang diusahakan di Sumatera Utara ditambah dengan cerita singkat tentang Kina yang dimasa lalu banyak di budidayakan di Jawa Barat.

Jadi saya tidak akan ceritakan lagi apa yang tercatat dalam sejarah jaman dulu karena hal itu sudah banyak diketahui orang. Menurut anggapan saya generasi muda akan lebih berkepentingan untuk mengetahui apa yang terjadi dalam perjalanan sejarah yang baru atau yang dalam bahasa Inggris disebut recent history,

Kina dan Harapan Kedepan

Kenangan Indah : Dari Satu Pohon Menjadi Produsen Terbesar di Dunia. Pohon Kina yang kulitnya sejak zaman dulu dipergunakan sebagai bahan baku buat obat-obatan anti malaria sebetulnya berasal dari hutan-hutan belantara di Peru.

Baru pada pertengahan tahun 1850-an tanaman kina mulai dikembangkan oleh para peneliti di Perancis agar dapat di tanam di tanah jajahannya. Pemerintah Belanda mendapat sumbangan satu pohon kina yang kemudian steknya ditanam di berbagai lokasi yang telah di survey lebih dulu oleh F.W. Junghuhn.

Dalam perjalanan waktu hasilnya sungguh mentakjubkan : Hindia Belanda pada tahun 1930 berhasil menjadi produsen kina terbesar di dunia dengan pangsa pasar sebanyak 97 persen dari produksi global. Kina sekarang tinggal kenangan belaka karena Indonesia dengan berbagai alasan tidak mampu mempertahankan eksistensinya.

Namun ada satu hal yang masih menimbulkan rasa optimis yaitu masih beroperasinya Pusat Penelitian Teh dan Kina di Gambung.

 Agave dan Abaca

Kedua jenis tanaman serat ini terutama dibudidayakan oleh HVA (Handelsvereniging Amsterdam ) di perkebunan Laras dan Dolok Ilir Kabupaten Simalungun. Di ke dua kebun inilah dimulai mekanisasi besar-besaran di lapangan dengan menggunakan sejumlah traktor Caterpillar yang besar.

Seratnya diekspor untuk dijadikan beragam tali-temali untuk digunakan dikapal-kapal dan industri pertambangan. Karena waktu itu tidak ada pesaingnya tidak mengherankan kalau Agave dan Abaca menjadi kebanggan HVA. Namun demikian peringkatnya tetap dianggap dibawah Gula sehingga waktu HVA membangun kantornya di Medan ( sekarang kantor PTPN-4) dipersyaratkan bahwa menaranya tidak boleh lebih tinggi dari kantor HVA yang ada di Surabaya ( sekarang kantor PTPN-11).

Untuk menjaga hubungan sosial dengan para pekerja dan masyarakat sekitarnya di Laras dibangun rumah sakit yang besar yang selain menampung pasien dari kebun juga menerima pasien-pasien dari berbagai perkebunan atau dari kalangan masyarakat yang ada di Kabupaten Simalungun.

Sejak perusahaan-perusahaan Belanda diambil alih, ke dua kebun tersebut di konversi menjadi perkebunan kelapa sawit sehingga sebagai akibatnya ekspor Agave dan Abaca dihentikan dan hingga sekarangpun tidak ada rencana untuk menghidupkannya kembali.

 Harus diakui bahwa potensinya untuk masa depan sebenarnya masih ada  disebabkan karena ke dua jenis serat tersebut bisa dipakai sebagai bahan baku untuk penggganti plastik; sama halnya dengan ampas tebu.

Kelapa

Pada tahun 1977 Menteri Pertanian Prof.Thoyib Hadiwijaya dalam satu pertemuan di Jakarta mengatakan kepada saya bahwa perusahaan perkebunan Negara jangan terlalu fokus pada kelapa sawit saja tapi juga harus memperhatikan peremajaan tanaman kelapa yang begitu banyak ditanam oleh rakyat.

Saya diminta untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan visi beliau tadi. Dalam kaitan ini salah satu langkah yang perlu diambil ialah menyediakan benih unggul yang dihasilakn oleh Lembaga Penelitian Kelapa di luar negeri.

Lalu dibentuklah satu tim yang terdiri dari beberapa orang Professor IPB dan UGM untuk melakukan studi di negara-negara produsen kelapa unggul diantaranya Florida di Amerika Serikat dan Pantai Gading di Afrika Barat.

Kesimpulan dari Tim Pakar ini ialah bahwa yang bisa di rekomendasikan adalah benih yang berasal dari Pantai Gading. Kebetulan saya mempunyai hubungan baik dengan Lembaga Penelitian Perancis ( IRHO), dan berkat usaha mereka, Indonesia dibenarkan membeli benih unggul dari Pusat Penelitian kelapa di Abijan Pantai Gading.

Atas dasar informasi ini kemudian saya berangkat ke Abijan untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah Pantai Gading dan dengan Dr Michel De Nuce Lemothe, Direktur Pusat Penelitian Kelapa milik Perancis di Abijan.

Akhirnya setelah dicapai kata sepakat atas nama PTP-6 saya mencarter  pesawat DC-10 milik Perancis untuk mengangkut benih itu ke Jakarta pada bulan Juni 1978. Kemudian dari Jakarta dengan bantuan AURI benih tersebut diterbangkan dengan dua pesawat Hercules ke Medan.

Benih-benih tadi lalu ditanam di kebun Bandar Kuala yang sementara itu telah kami jadikan Pusat Penelitian Kelapa. Selain ditanam di Bandar Kuala benih kelapa yang berasal dari Pantai Gading tadi juga ditanam di Mamuju Sulawesi Selatan dan di kebun PTP-10 di Lampung. Tanaman kelapa di Lampung ini menjadi perhatian Presiden Soeharto sehingga beliau bersama Menteri Pertanian pada tahun 1981 berkunjung ke PTP-10 untuk melihat dari dekat pertumbuhan kelapa dengan benih yang berasal dari Abijan.

Dalam perjalanan waktu Bandar Kuala ditutup atas dasar keputusan pemerintah dan penelitian kelapa di serahkan kepada Badan Litbang Kementerian Pertanian. Memang sangat memprihatinkan bahwa apa yang dicita-citakan oleh Professor Thoyib di Sumatera Utara tidak terwujud, karena orang lebih banyak menaruh perhatian kepada kelapa sawit.

 Kelapa Sawit

Selanjutnya secara ringkas akan saya sampaikan beberapa cuplikan tentang Kelapa Sawit, Karet dan Coklat yang saya yakin tidak banyak di ketahui oleh para pelaku industri perkebunan.

Ada dua inovasi yang secara revolusioner telah merombak tatanan kerja di kebun kelapa sawit : sederhana tapi efektif. Pertama, penggunaan Egrek untuk keperluan panen buah dari pohon kelapa sawit yang tinggi : diintroduksi pada tahun 1969. Sebelum ada Egrek pohon kelapa sawit yang tinggi dipanjat oleh karyawan pemanen buah yang tidak jarang menimbulkan kecelakaan. Di rumah sakit Tebing Tinggi misalnya pada tahun 1969 ada beberapa orang terkapar karena jatuh dari pohon kelapa sawit dan tidak sedikit pula di rumah sakit lainnya.

Bagaimana bentuk inovasinya ? Entah bagaimana tiba-tiba ada orang yang terinspirasi untuk menggunakan egrek berupa bambu panjang dengan pisau berbentuk celurit di ujungnya yang dipergunakan untuk memotong tandan buah dari pohon kelapa sawit yang tinggi. Dengan menggunakan teknologi egrek maka si pemanen tidak perlu lagi  memanjat pohon sehingga menimbulkan rasa aman kepadanya.

Selain itu penggunaan egrek juga meningkatkan efisiensi pemanenan buah. Rupanya inovasi ini juga jadi perhatian para penguasa militer sehingga ketika egrek di introduksi di Kebun Pabatu, Mayjend Muskita sebagai Pangkowilhan-1 ikut menyaksikannya. Egrek kemudian digunakan di semua perkebunan kelapa sawit namun orang lupa bahwa inovasi yang demikian sederhana itu ternyata secara revolusioner mampu merubah tata kerja di perkebunan kelapa sawit, luar biasa bukan !

Kedua, penggunaan kumbang Elaeidobius Kamerunicus. Pada tahun 1980 kami mengundang Dr Said dari Pakistan untuk berkunjung ke Marihat guna memberikan penjelasan serta mempraktekkan penggunaan kumbang Elaeidobius Kamerunicus untuk penyerbukan bunga sawit yang selama ini dilakukan oleh sejumlah pekerja wanita di lapangan.

Namun setelah introduksi kumbang tersebut penyerbukan di hampir semua kebun kelapa sawit dilakukan secara efektif oleh kumbang Elaeidobius Kamerunicus tadi. Itulah jasanya Dr Said yang perlu dikenang sepanjang masa.

Ada lagi perkembangan lain yang patut diketahui : tahukah Anda bahwa perkembangan kelapa sawit di Indonesia diawali dengan beberapa ekspedisi yang dilakukan oleh tenaga-tenaga ahli dari PTP-6 dan dari Pusat Penelitian Marihat dibawah pimpinan Ir. Kiswito ?

Berikut uraian secara ringkas tentang ekspedisi tadi; a) Pada tahun 1972 PNP-6 mengirim Ir Langkat Purba dan Gordon Walker (mantan Presiden Direktur Guthrie) ke Riau untuk menjajagi kemungkinan penanaman kelapa sawit di provinsi tersebut. b) Kemudian menyusul pada tahun 1978 ekspedisi ke Kalimantan Barat yang dipimpin oleh Ir Kiswito dengan timnya yang terdiri dari Ir Purba dari Marihat dan Ir Butarbutar dari PTP-6.

c) Ekspedisi ke Kalimantan Timur pada tahun 1979 yang dipimpin oleh Burhanudin Pane dari PTP-6. d) Ekspedisi ke Jayapura dan Merauke atas permintaan Pemerintah kepada Purba Sidadolok, Direktur Utama PTP-7 pada tahun 1980.

e) Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu pengembangan kelapa sawit di Aceh pada tahun 1975 oleh PTP-6.

Perkembangan historis lain yang perlu dicatat adalah pengembangan kelapa sawit rakyat di Ophir oleh PTP-6 dengan bantuan Pemerintah Jerman Barat atas dasar permintaan Gubernur Sumatera Barat Bapak Azwar Anas.

Kita patut berbangga bahwa ekspedisi-ekspedisi yang saya ceritakan tadi ternyata telah memicu pengembangan kelapa sawit di Indonesia sehingga Negara kita sekarang menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Terkait dengan industri hilir perlu disampaikan bahwa PTP-6 adalah pelopornya pembangunan industri hilir di Indonesia dengan membangun pabrik minyak goreng pertama di Nusantara yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau pada saat peresmian pembukaan pabrik Adolina pada pertengahan tahun 1977 turut hadir Presiden Soeharto dan Menteri Luar Negeri Adam Malik.

Ironisnya pabrik Adolina sudah tutup karena tidak bisa bersaing dengan pabrik-pabrik minyak goreng milik sejumlah konglomerat yang dibangun kemudian di berbagai lokasi di Indonesia

 Karet

Topik karet sudah sering disampaikan sehingga saya tidak akan banyak cerita tentang komoditas ini i kecuali satu hal yaitu bahwa pada tahun 1980 atas inisiatif Ir Sadikin Sumintawikarta (dari Balitbang Kementerian Pertanian) dan saya berhasil mendatangkan benih unggul karet dari Brazil yang kemudian ditanam di Sungai Putih Sumatera Utara untuk keperluan riset.

 Coklat

Di Sumatera Utara oleh Belanda pernah dicoba menanam coklat di Pabatu tapi ternyata tidak berhasil. Setelah saya diangkat menjadi Direktur Utama PNP-6 di Pabatu saya selalu berpikir bahwa coklat perlu dikembangkan di Sumatera Utara karena perusahaan-perusahaan milik Inggris di Malaysia seperti Harrisons & Crosfield dan Sime Darby pun sejak awal tahun 70-an mulai menanam coklat.

Berkat hubungan baik saya dengan Harrisons & Crosfield Malaysia saya lalu meminta bantuan mereka untuk mengkaji kemungkinan penanaman coklat di beberapa kebun PNP-6. Ternyata mereka merekomendasikan Pabatu dan Adolina untuk tanaman percobaan Cacao Lindak ( Bulk Cacao).

Benihnya disediakan oleh Harrisons & Crosfield dalam jumlah yang terbatas. Ternyata penanaman coklat di Pabatu dan Adolina menjadi perhatian perusahaan-perusahaan coklat yang terkenal seperti Cadbury dari Inggris, Mars dan Hershey dari Amerika.

Pada tahun 1973 harga coklat di pasar dunia melonjak menjadi $4,00 per kg disebabkan karena kegagalan panen di Ghana, negara produsen terbesar coklat di dunia.

Perkembangan ini saya anggap sebagai peluang yang baik untuk mengembangkan coklat dalam skala besar di Indonesia. Namun ada satu kendala yaitu ketiadaan benih.

Menteri Pertanian Prof Soedarsono lalu mengutus saya untuk negosiasi dengan Menteri Pertanian Malaysia Tan Sri Bashir untuk membicarakan kemungkinan Indonesia bisa memperoleh benih unggul coklat dari Malaysia. Dalam pertemuan tersebut saya mendapat informasi bahwa kalau mau mendatangkan benih coklat sebaiknya yang berasal dari kebun Unilever yang ada di Sabah saja.

Lalu berkat hubungan baik saya dengan Direksi Unilever disepakati bahwa Unilever akan menyediakan benih yang diperlukan Indonesia. Namun harus ada izin dari Menteri Besar Sabah.

Setelah tiba di Jakarta disusunlah suatu strategi dengan melibatkan Presiden Soeharto .

Skenarionya adalah sebagai berikut : 1) Bapak Des Alwi yang mempunyai hubungan baik dengan Menteri Besar Sabah bersama-sama dengan Konsul Jenderal RI di Kota Kinabalu menemui Menteri Besar Sabah dan mohon agar beliau mengundang Presiden Soeharto berkunjung ke Kota Kinabalu.

2) Dirjen Perkebunan Mayjend Pang Suparto melaporkan skenario ini kepada Presiden dan mohon kesediaannya untuk berkunjung ke Kota Kinabalu pada hari H. 3) Dalam pertemuan dengan Menteri Besar Sabah Presiden Soeharto akan mendapat hadiah benih coklat yang berasal dari perkebunan Unilever. 4) PTP-6 mengatur pengangkutan benih coklat tersebut dari Kota Kinabalu ke

Medan. Singkat cerita scenario ini diterima dengan baik oleh Presiden Soeharto dan sesuai rencana beliau berangkat ke Kota Kinabalu untuk menghadiri upacara sesuai skenario yang dirumuskan tadi. Pada hari-H semuanya berjalan dengan lancar dan kami mendapat bantuan dari AURI untuk menggunakan 2 pesawat Hercules buat mengangkut benih coklat dari Unilever dari Kota Kinabalu ke Medan.

Benih inilah yang lalu disebar luaskan ke beberapa provinsi antara lain Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Budidaya coklat di provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara berkembang dengan cepat namun sayangnya di Sumatera Utara perkembangannya tidak seperti yang diharapkan, bahkan mungkin PTP-6 pun ( sekarang PTPN-4) mungkin sudah tidak mempunyai tanaman coklat lagi; sebabnya lagi-lagi karena euphoria kelapa sawit.

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018