Monday, 21 September 2020


Perubahan Ethiopia Menjadi Adidaya Pertanian

30 Jul 2020, 06:40 WIBEditor : Ahmad Soim

Pertanian di Ethiopia | Sumber Foto:fairplanet.org

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Negara yang luasnya lebih dari separoh luas Indonesia (110 juta ha) itu hampir seluruhnya terdiri dari daratan (100 juta ha), yang terdiri dari 37.3 juta ha lahan pertanian, 12.5 juta ha hutan dan sisanya lahan kering khas Afrika.

Belum 2 dekade lalu negara miskin ini mencatatkan angka harapan hidup hanya 54 tahun dan pendapatan per kapita $170 per tahun, penduduk yang buta huruf 40 persen dan tidak kurang dari 12 juta penduduknya menderita kelaparan kronis. Indeks Pembangunan Manusia ada di urutan 173 dari 186 negara. Ethiopia adalah negara tertua di dunia yang banyak menyimpan situs sejarah dan diduga merupakan tempat manusia tertua tinggal pada awal penyebarannya ke kawasan Afrika.

Jumlah penduduknya termasuk besar untuk ukuran Afrika yang umumnya berpenduduk kecil, yaitu pada urutan kedua setelah Kenya. Tercatat populasinya lebih dari 105 juta jiwa. Sekitar 43,5 persen penduduk Ethiopia adalah pemeluk kepercayaan Ortodok Ethiopia dan agama Islam sekitar 33,9 persen. Etnis mayoritas Ethiopia adalah Oromo (34,4 persen), Amara (27 persen), Somali (6,2 persen) dan Tigray (6,1 persen)

 

Bangkit: Adidaya Pertanian

Negara yang menyandang salah satu negara termiskin yang terpuruk karena dilanda bencana kekeringan dan kelaparan itu akhir-akhir  jadi perhatian dunia. Dia bangkit. World Bank menyebutkan bahwa dalam satu dekade Ethiopia telah mengalami kemajuan luar biasa dalam kesejahteraan. Bahkan menduduki peringkat ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Food Sustainability Index (FSI) tepat satu tangga di bawah USA (urutan ke-11). Kemajuan ini telah didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan dengan rata-rata 10,9 persen per tahun. 

Pertanian menjadi penggerak ekonomi di negara ini. Peningkatan dan penerapan teknologi dengan dukungan negara-negara lain membuahkan peningkatan produktivitas komoditas pangan maupun komoditas lainnya yang berkualitas tinggi yang merupakan komoditas ekspor. Teknologi biologis dan irigasi adalah salah satu faktor penting, sementara informasi teknologi dan pasar kebanyakan hanya memanfaatkan fungsi HP yang di banyak negara lain kurang dimanfaatkan untuk menjadi alat komunikasi yang produktif. Kelembagaannya dibangun sehingga arus produksi hulu-hilir berlangsung lancar.

Selain mekanisasi, manifestasi dari the Future of Work in the Ethiopian economy memerlukan akses ke internet. Internet bukan lagi barang mewah tetapi kebutuhan dasar untuk menopang perkembangan ekonomi.  Sangat diperlukan bukan hanya untuk korporasi besar tetapi pembangunan ekonomi pedesaan dan petani kecil.  

Pemerintah Ethiopia melihat China sebagai model pembangunan dan kemudian melakukan pembangunan infrastruktur dengan bantuan negara tersebut. Dalam dua dekade, Addis Abbaba dilengkapi dengan jalan lingkar seharga 86 juta dollar AS, persimpangan seharga 12,7 juta dollar, jalan raya 6 lajur pertama seharga 800 juta dollar AS, dan jalur kereta api Ethio-Djibouti senilai 4 miliar dollar AS. China juga membangun sistem kereta bawah tanah pertama di kota ini. Jalur kereta ini melintasi pusat kota dan mampu membawa 30.000 penumpang per jam. Addis Abbaba telah berubah cepat. Percepatan pembangunan di kota ini, mirip seperti yang pernah terjadi di kota-kota China pada awal abad ke-21.

Pembangunan bendungan Grand Renaissance di Ethiopia yang dianggap paling ambisius sedaratan Afrika menjadi salah satu contoh proyek karya anak bangsa sendiri. Pembangunan bendungan tersebut mengerahkan 8.500 tenaga buruh. Dari bendungan tersebut, diharapkan mampu mengeluarkan tenaga listrik sekitar 6.000 megawatt yang diperuntukkan bagi pemakaian domestik dan ekspor. Termasuk bertujuan untuk menggerakkan industrialisasi.

Ethiopia sekarang ini bukanlah seperti yang dulu lagi. Sekarang ini merupakan masa di mana negara ini sedang bertumbuh dan berkembang. Ethiopia merupakan negara pertemuan antara budaya Afrika dan budaya Semitik yang perpaduannya menghasilkan budaya baru yang berbeda.    

 

Peradaban Tua Ethiopia

Ethiopia adalah negara tertua di dunia. Pemerintahan Etiopia pertama dibentuk sekitar tahun 980 SM, yang berarti umurnya udah hamper 3000 tahun. Ethiopia juga tidak punya hari kemerdekaan. Artinya tidak pernah dijajah bangsa lain. Sejarah negara Ethiopia telah dimulai sejak berdirinya kerajaan kuno D’mt pada masa 10-5 SM di wilayah yang sekarang terletak di bagian utara wilayah teritorial Ethiopia, hingga akhirnya saat ini berbentuk Republik Demokratik Federal Ethiopia.

Kalender Ethiopia punya sistem 13 Bulan dan  jumlah hari dalam setahunnya adalah 12 bulan 30 hari. Orang Etiopia juga mengikuti sistem jam yang sangat berbeda. Mereka mengikuti jam 12 jam, bertentangan dengan sistem waktu 24 jam yang diikuti oleh seluruh dunia. 

Ethiopia punya diaspora dalam jumlah besar di berbagai negara. Saat ini, diperkirakan terdapat kurang lebih 2 juta orang diaspora asal Ethiopia bertempat tinggal di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, negara-negara di Eropa daratan, dan Timur Tengah. Berdasarkan keterangan dari Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Ethiopia, remitansi dari para diaspora Ethiopa pada tahun 2017 lalu telah mencapai angka USD 4,6 miliar.

Ethiopia juga terdiri dari beragam etnis. Menurut sensus 2007 Ethiopia, yang terbesar pertama adalah bahasa: Oromo 24.929.567 penutur atau 33,8?ri total populasi; Amharic 21.631.370 atau 29,33% (bahasa resminya); Somalia 4.609.274 atau 6,25%; Tigrinya 4.324.476 atau 5,86%; Sidamo 4.981.471 atau 5,84%; Wolaytta 1.627.784 atau 2,21%; Gurage 1.481.783 atau 2,01%; dan Afar 1.281.278 atau 1,74%. Ke-9 etnis besar ini yang menghuni sebagian besar Ethiopia sampai sekarang.

Ethiopia adalah rumah bagi danau paling asing di dunia. Jika berbicara air asin, tentu yang terlintas dipikiran kita adalah Laut Mati. Namun, faktanya ada danau yang jauh lebih asin daripada laut mati. Danau tersebut adalah danau Gaet’ale yang terletak di Afar, Ethiopia.

Ibukota Ethiopia artinya “Bunga Baru”. Addis Ababa (berarti “bunga baru”) adalah ibukota, pusat komersial, dan kota terbesar Ethiopia. Kota ini memiliki populasi mencapai lebih dari 3 juta orang. Didirikan pada tahun 1887, Addis Ababa adalah kota paling modern di negara ini. Namun, Addis Ababa dibangun secara serampangan dan merupakan campuran dari bangunan modern dan struktur kayu kecil.  

Uraian ini memberi pelajaran bahwa  semiskin apapun suatu negara, jika memiliki tekad dan keinginan untuk berkembang, perubahan itu bisa terjadi. Ethopia yang merupakan negara yang terkenal akan kemiskinannya dan banyaknya korban akibat busung lapar, ternyata bisa bangkit dari keterpurukan tersebut.  Kita juga sudah sejak lama memulainya, kita sudah berada jauh di depan, dan sekarang upaya tersebut sedang lebih digiatkan, oleh kita dan untuk kita semua.  

 

Sumber : FAO dan African Union
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018