Saturday, 19 September 2020


Global Hunger Index: Cerita dari dua negara

11 Aug 2020, 13:21 WIB

Bantuan beras untuk orang miskin | Sumber Foto:Dok Tabloid Sinar Tani/Diolah

Agus Pakpahan - Pemikir Pembangunan Berkelanjutan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Entah sudah berapa banyak dunia sudah mengeluarkan biaya untuk membangun kualitas sumberdaya manusianya.  Kita ambil saja kualitan sumberdaya manusia yang digambarkan oleh suatu indeks yang dibuat oleh IFPRI yaitu Global Hunger Index (GHI). Terus terang saya menyukai indeks ini mengingat indeks ini mencoba menggambarkan sosok manusia pada level yang paling mendasar. 

Di dalam GHI tercermin tingkat kematian bayi. Kalau tingkat kematian bayi di suatu negara tinggi, maka dapat dikatakan negara yang bersangkutan belum bisa merawat anak-anaknya yang baru dilahirkan.  Kemudian, apabila angka stunting dari suatu bangsa tinggi maka bangsa yang bersangkutan juga sudah mengakhiri untuk mendapatkan harapan kehidupan yang lebih baik bagi masa depan anak-anaknya sebelum mereka mencapai tahapan usia yang akan dilaluinya. 

Kekurangan dalam nutrisi bagi anak-anak balita juga mencerminkan kehidupan suatu bangsa yang sangat kurang perhatian akan tanggung-jawab untuk memberikan pangan yang terbaik bagi anak-keturunannya.  Sementara itu, child wasting, sesuai dengan kata wasting yang digunakan dalam GHI, betul-betul menggambarkan perilaku orang tua yang membuat anak-anak menjadi pihak yang disia-siakan.  Gambaran GHI Indonesia dan Ukraina dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 berikut.

Gambar 1. Nilai GHI Indonesia agregat (kiri) dan Nilai GHI Indonesia menurut komponen (kanan) 

Jadi, dengan menggunakan GHI ini kita bisa mengukur apakah kita sebagai bangsa sudah mampu mencapai tingkat “efisiensi”, “efektifitas”, “produktivitas” atau “sustainabilitas” yang tinggi dalam memanfaatkan seluruh sumberdaya yang kita miliki dalam mengatasi stunting, tingkat kematian bayi, kurang nutrisi dan child wasting. Gambar 1 dan Gambar 2 menjawab sendiri, yaitu Ukraina sudah berhasil mencapai kualitas sumberdaya manusia yang baik, sedangkan Indonesia masih perlu menemukan cara baru dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Ukraina merupakan satu dari 17 negara berkembang yang mampu mencapai GHI sama dengan negara maju.  Mengapa Ukraina menjadi sangat penting bagi Indonesia? Satu alasan terpenting Ukraina perlu dijadikan referensi dalam pembangunan nasional adalah bahwa pendapatan rata-rata Ukraina hampir 25 persen lebih rendah daripada pendapatan Indonesia.  Pada tahun 2018 pendapatan per kapita Indonesia adalah USD 3.871, sedangkan pendapatan per kapita Ukraina adalah USD 3.113.  Berapa jauh perbedaan GHI Indonesia dan Ukraina pada tahun 2019? GHI Ukraina adalah kurang dari 5.0 dan GHI Indonesia adalah 20.1.  Artinya, jarak GHI Indonesia dengan GHI Ukraina adalah 15.1 poin. Jarak tersebut merupakan jarak yang cukup jauh.  Mengapa jauh?

 

Gambar 2. Nilai GHI Ukraina agregat (kiri) dan Nilai GHI Ukraina menurut komponen (kanan)

Mari kita gunakan perbandingan berikut.  Pada tahun 2000 nilai GHI Ukraina adalah 13.7.  Nilai GHI Indonesia pada tahun 2000 adalah 25.8.  Pada tahun berapa Ukraina mencapai nilai indeks GHI kurang dari 5.0?  Ukraina mencapai nilai indeks GHI kurang dari 5.0 pada tahun 2005 (15 tahun yang lalu).  Jadi, dalam tempo 5 tahun Ukraina bisa mencapai nilai GHI kurang dari 5.0. Artinya dalam tempo 5 tahun dilihat dari sudut pandang GHI, Ukraina mampu mencapai taraf negara maju.  Dengan data ini kita bisa menilai bahwa walaupun Ukraina merupakan negara berkembang dengan tingkat pendapatan per kapitanya kurang dari pendapatan per kapita Indonesia ternyata GHI Ukraina berada pada level yang sama dengan GHI negara maju. 

Ukraina bisa menurunkan GHI 8.7 poin dalam tempo 5 tahun.  Sedangkan Indonesia hanya mampu menurunkan nilai GHI 5.7 poin selama 19 tahun.  Kita perlu mengakui bahwa diperlukan cara baru dalam mencapai indeks GHI sebagaimana yang tergambar dalam kasus Ukraina dan negara-negara berkembang lainnya yang telah sukses mencapai indeks tersebut.  Tampak sekali bahwa uang (ekonomi) penting tapi bukan segalanya.  

Pangan merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas.  Dengan menggunakan Ukraina sebagai bahan pembelajaran data menunjukkan bahwa konsumsi protein hewani bangsa Ukraina jauh lebih banyak daripada konsumsi protein hewani bangsa Indonesia.  Sebagai ilustrasi, data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa:

1) Konsumsi per kapita telur Indonesia hanya 5.57 kg per tahun, sementara konsumsi telur per kapita Ukraina 19.4 kg.  Tampak bahwa konsumsi telur bangsa Ukraina 3.48 kali lebih banyak konsumsi telur bangsa Indonesia;

2) Konsumsi daging ayam per kapita Indonesia adalah 7.6 kg; sementara itu konsumsi daging ayam per kapita Ukraina adalah 15 kg.  Konsumsi daging ayam per kapita Ukraina adalah 1.97 kali lebih banyak konsumsi daging ayam per kapita Indonesia;

3) Konsumsi daging sapi per kapita Indonesia adalah 1.98 kg, sedangkan konsumsi per kapita daging sapi Ukraina adalah 24.4 kg;

4) Konsumsi susu per kapita Indonesia adalah 11.7 liter; konsumsi susu per kapita Ukraina adalah 110.48 kg;

5) Konsumsi ikan per kapita Indonesia adalah 50 kg; sementara itu konsumsi ikan per kapita Ukraina adalah 11.7 kg;

Data di atas menunjukkan bahwa konsumsi pangan yang bersumber dari peternakan bangsa Ukraina jauh lebih tinggi daripada konsumsi produk yang sama dibandingkan dengan Indonesia.  Bangsa Ukraina tampak sekali banyak mengkonsumsi telur, susu dan daging.  Sedangkan bangsa Indonesia banyak mengkonsumsi ikan.

Apabila kedua bangsa ini diukur oleh pangsa pengeluaran pangan, yaitu nilai persentase pengeluaran untuk membeli makanan terhadap total pengeluaran rumah tangga, maka ditemukan nilai pangsa pengeluaran pangan yang relatif sama, yaitu sekitar 50 %.  Artinya, kedua negara ini pun merupakan negara yang rumah tangganya sebagian besar membelanjakan pendapatannya untuk membeli pangan.  Artinya pula rumah tangga di Ukraina dan di Indonesia masih tergolong rumah tangga yang relatif miskin.  Hasil identifikasi ini memberikan informasi yang sangat penting: Harga pangan yang bersumber dari peternakan dan perikanan di Ukraina berkecenderungan sangat besar akan jauh lebih murah dibandingkan harga untuk komoditas yang sama di Indonesia.

Sebagaimana yang telah dikemukakan pada artikel “Ekonomisasi Keanekaragaman Hayati untuk Industri Pangan yang Beragam” (https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/tekno-lingkungan/14014-Ekonomisasi-Keanekaragaman-Hayati-untuk-Industri-Pangan-yang-Beragam) dan artikel lainnya yang pernah penulis sampaikan, kita hanya akan bisa mengatasi permasalahan apabila kita bisa dan kuat membuat perubahan-perubahan besar dalam paradigma berpikir dan melaksanakan pembangunan nasional ke depan. 

Namun, sebelum kita bisa menemukan paradigma dan cara implementasinya, kita terlebih dulu harus bisa menyadari dan memahami serta membuka diri untuk melakukan inovasi besar agar permasalahan mendatang bisa kita atasi dengan baik dan dengan cepat.  Salah satu di antaranya adalah untuk mengatasi tingkat kualitas sumberdaya manusia Indonesia sebagaimana tergambar dalam GHI, dan secara khusus yang digambarkan dalam GHI tersebut adalah permasalahan besar stunting.  Dari Ukraina kita belajar, ekonomi atau uang itu penting, tapi bukan segalanya.  Budaya pangan, you are what you eat, tak kalah pentingnya dalam perumusan strategi pembangunan nasional.

Dirgahayu 75 Tahun NKRI. Merdeka!

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018