Friday, 01 July 2022


Endang S Tohari, Srikandi yang Kukuh Melindungi Petani

21 Aug 2020, 06:22 WIBEditor : Ahmad Soim

Dr. Endang S Tohari - Kukuh Melindungi Petani | Sumber Foto:Dok Pribadi/Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM – Pembatasan sosial pada Pandemi Covid-19 membuat pergerakan hasil panen petani ke pasar dan ke konsumen menjadi tidak mudah. Begitu juga dengan aktifitas produksi. Banyak petani yang susah menjual dan memproduksi. Sebagian memilih  tidak beraktifitas dulu atau mengurangi kapasitas produksinya.

Situasi sulit bagi petani dan pertanian itu tidak bisa dibiarkan. Produksi pertanian tidak boleh berhenti. “Pemerintah harus membeli hasil produk petani dengan harga layak untuk dibagikan kepada masyarakat yang memerlukan,” kata Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) Dr. Ir. Endang S Tohari, DESS, MSc kepada Sinar Tani (21/8).

Endang S Tohari Bersama Prof Justika Baharsjah Mantan Menteri Pertanian dan Menteri Sosial

Apalagi secara ekonomi,  sektor pertanian masih menjadi sektor pembentuk struktur PDB nasional yang bisa diandalkan, termasuk saat Pandemi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis PDB sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020 yang mengalami penurunan sebesar 4,19 persen (Q to Q) dan secara year on year (yoy) turun 5,32 persen. PDB pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara y0y, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19%.

“Di balik sumbangsih PDB sektor pertanian itu tentu ada petani, petani kita juga harus bisa tersenyum dengan usaha taninya,” kata Wanita yang tak lelah untuk memperjuangkan nasib petani pada usianya 71 tahun pada 24 Agustus.

Endang dilahirkan di Cirebon, 24 Agustus 1949. Mengenyam pendidikan SD di Sekolah Rakyat Negeri Pegambiran pada tahun 1954. Menamatkan SMP dan SMA di Cirebon. Kuliah S1 di Universitas Diponegoro Semarang dan menamatkan S2 dan S3nya di Perancis. Lulus Doktor dari Perancis tahun 1990. Ia pernah mengikuti Pendidikan LEMHANAS pada tahun 2019.

Direktur Pembiayaan Pertanian di Kementerian Pertanian periode 2000-2008 ini, sepulang dari Perancis, pada tahun 1990 mendapat amanah sebagai Direktur ARM I diteruskan sampai ARM II hingga tahun 2000. Proyek ARM mengelola Research Management dengan sumber dana  dari grant Pemerintah Jepang dan pinjaman Bank Dunia.

Direktur ARM bertugas mengirim para pegawai Kementan yang akan melanjutkan kuliah S2 dan S3 di dalam negeri maupun luar negeri. Juga melakukan kerjasama penelitian dengan seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia dan mendirikan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di seluruh Indonesia. Di jalur birokrasi, Endang S Tohari berusaha mengamalkan ilmu Bank Pertaniannya yang ia peroleh dari Perancis, untuk membantu petani bisa mengakses permodalan. “Bank Pertanian sangat diperlukan petani Indonesia,” tambahnya.

Pensiun dari Kementan tahun 2008, Endang tidak berhenti memperjuangkan petani. Pada tahun 2009, ia menjadi  Tenaga Ahli MPR RI sampai 2019. Lalu menjadi Anggota DPR RI dari Partai Gerinda. A-84 adalah nomor Anggota DPR RI-nya. sejak tahun 2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Barat III (Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur).

Di kursi panas DPR RI ini, Endang S Tohari akan melanjutkan upaya memperjuangkan nasib petani Indonesia. “In sya Allah saya akan amanah untuk tidak berbisnis yang merugikan dan mensengsarakan petani kita,” tambahnya. Dia tidak mau berbisnis atau bergabung dengan mereka yang gemar impor produk pertanian namun tidak menyadari hal itu turut menyengsarakan petani.

“Namun kalau bisnisnya dilakukan dengan tujuan untuk melindungi petani dan memberikan keuntungan yang berlebih kepada petani kita, sangat bagus,” harapnya.

Menurutnya yang bisa dilakukan saat ini untuk membantu petani adalah: membagi sembako, mendorong pemerintah untuk membeli produk mereka dengan harga yang layak melalui APBN atau instruksi kepada ASN wajib membeli produk petani setempat, serta mengolah produk petani setempat secara sederhana.

Lebih dari itu, Endang S Tohari meminta pemerintah wajib hukumnya untuk  melindungi petani. Caranya: membeli produk petani dengan harga layak, memberikan subsidi harga dan melarang impor komiditi yang bisa dihasilkan dalam negeri.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018