Monday, 28 September 2020


Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (20): Kemerdekaan dan Kelaparan

11 Sep 2020, 17:13 WIBEditor : Ahmad Soim

Gedung Kementerian Pertanian RI | Sumber Foto:Soedjai Kartasasmita/Ahmad Soim

Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com  

 

"Yet food is something that is taken for granted by most world leaders despite the fact that more than half of the population of the world is hungry.”

(Norman Borlaug, Pemenang Nobel Perdamaian 1970 ).

TABLOIDSINARTANI.COMPenulis memulai artikel ini dengan menyitir ungkapan Borlaug, Pemenang Nobel Perdamaian 1970, untuk jasanya dalam melipat-gandakan produksi pangan dunia yang mampu memberikan makanan dengan peningkatan jumlah penduduk dunia dari sekitar 2 miliar jiwa pada akhir perang dunia ke-2, menjadi lebih dari 7.7 miliar jiwa pada 2019.

Borlaug menyatakan bahwa para pemimpin dunia memandang pangan itu dengan sendirinya akan tersedia walaupun di hadapannya lebih dari setengahnya penduduk dunia berada dalam situasi kelaparan.  Pandangan tersebut tentu sangat keliru dan merupakan bentuk ketidak-pedulian dari para pemimpin akan kesulitan rakyatnya, terutama bagi mereka yang tergolong miskin.

 Para Pendiri Bangsa mewariskan UUD ’45 dengan kalimat pertamanya berbunyi: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Kemudian, kalimat berikutnya: "Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

BACA JUGA:

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (19)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (18)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (17)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (16): Seperti Apa Gambaran ROI dari Riset?

 Sekarang, mari kita analisis sampai sejauhmana kemerdekaan Indonesia telah meniadakan kelaparan.  Sesuai dengan kebutuhan untuk mampu mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, maka pengertian kelaparan tidak kita artikan sebagai suatu kondisi atau situasi di mana seseorang atau sekelompok orang mengalami rasa lapar yang berkepanjangan sehingga ia bisa merenggang nyawa. 

Pengertian kelaparan semacam itu dalam istilah bahasa Inggris dikenal dengan istilah famine.  Bencana kelaparan dalam pengertian famine, juga tetap mungkin terjadi dan tidak boleh diabaikan.  Namun, definisi kelaparan sebagaimana didefinisikan oleh IFPRI (International Food Policy Research Institute) yaitu dengan ukuran Global Hunger Index (GHI) merupakan pemahaman kelaparan yang cocok untuk melihat apakah Indonesia mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang dituangkan dalam Pembukaan UUD ’45 yaitu Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adail dan makmur.

 Mengapa GHI merupakan ukuran yang baik?  GHI terdiri dari empat komponen variabel yang menggambarkan kondisi anak-anak di bawah usia lima tahun (balita), yaitu: tingkat kematian, stunting, kurang gizi, kurus-kering.  Anak-anak balita yang menderita stunting sekarang, 15 tahun yang akan datang akan menjadi dewasa.  Kondisi buruk kelompok balita tersebut tentunya akan menciptakan populasi penduduk dewasa Indonesia, misalnya 15 tahun dari sekarang, yaitu tahun 2035, dengan kondisi yang buruk pula.  Kita sudah bisa memastikan kondisi tersebut akan terjadi.

Kita sudah tahu bahwa nilai GHI Indonesia pada 2019 adalah 20.1, tergolong kelompok tingkat kelaparan serius.  Standar GHI negara maju adalah kurang dari 5.0. Jadi, kita perlu sekitar 50 tahun atau lebih apabila kita ingin mencapai GHI negara maju dengan asumsi kecepatan penurunan nilai GHI Indonesia hanya 0.3 poin per tahun (lihat https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-tokoh/14434-Kemerdekaan-bagi-Petani-Kemerdekaan-bagi-Kita-Semua-19). Apakah kita akan membiarkan saja sebagaimana Borlaug katakan “yet food is something that is taken for granted by most world leaders”.

Memang stunting merupakan fenomena yang kompleks tetapi keseluruhannya itu dapat dijelaskan oleh satu hal saja yaitu: Bagaimana rumah tangga dan lingkungannya menjadi penjaga,  pelindung, pemelihara, dan pengasih-sayang kepada anak-anak yang dilahirkan oleh mereka. 

Gambar 1 berikut yang penulis ambil dari presentasi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat Balitbangkes Kemenkes RI, Disampaikan pada Rakerkesnas Jakarta, 20 Februari 2020, menunjukkan bahwa mengingat hampir dari 3 orang dari 10 orang anak balita di Indonesia mengalami stunting, maka kita dan lingkungan kita tidak bisa menjadi penjaga, pelindung, pemelihara, dan pengasih-sayang kepada anak-anak telah dilahirkan.  Kejadian seperti ini telah lama terjadi. Akibatnya, mereka akan berakumulasi menjadi bagian yang tak mendapatkan manfaat dari kemerdekaan yang telah dijadikan jalan untuk mewujudkan cita-citanya sebagaimana dikutip di atas.

 Dapat dibayangkan bagaimana dampak Negara apabila tidak dapat menjadi penjaga, pelindung, pemelihara, dan pengasih-sayang kepada anak-anak telah dilahirkan sehingga mereka mengalami tingkat kelaparan yang serius?

 Dengan adanya Covid-19 ini mestinya batin kita terbangunkan dan menyadari bahwa pasti ada yang keliru dalam pemikiran dan implementasi pembangunan yang kita kerjakan selama ini. 

 Memang, seperti yang disampaikan oleh Pirsig (1974) dalam bukunya Zen and the Art of Motorcycle Maintenance: An Inquiry into Values (ZAMM) yang dikenal sebagai buku yang berisikan "Metaphysics of Quality”, kaum elite yang biasanya kaya dan berkuasa tidak akan bisa memahami apa makna kelaparan. 

Pirsig mengatakan bahwa kualitas itu tak bisa didefinisikan tetapi hanya bisa dipahami melalui suatu pengalaman.  Kaum elite, kaya dan berkuasa tidak pernah mengalami kelaparan apalagi anak-anaknya juga hidup dalam lingkungan yang kualitasnya tinggi.  Dengan demikian masalah stunting, child wasting, kematian balita dan kurang gizi berada di luar pengalamannya.  Di sinilah diperlukan suatu perubahan besar yang memberikan energi yang besar untuk bisa mengatasi permasalahan tersebut dengan cepat.

 Untuk membangun prakarsa mengatasi GHI dengan cepat kita bisa belajar dari 17 negara-berkembang yang telah mencapainya.  Sebagaimana telah disampaikan pada artikel ke-19, satu dari negara maju tersebut, yaitu Ukraina tingkat pendapatan per kapitanya hampir seperempat lebih rendah daripada tingkat pendapatan per kapita Indonesia. 

Dengan pendapatan per kapita Ukraina adalah USD 3113, ternyata Ukraina dalam tempo hanya 5 tahun mampu mencapai nilai GHI sama dengan negara maju.  Artinya, pasti ada cara jitu yang dijalankan oleh 17 negara berkembang di atas dan khususnya yang dijalankan Ukraina, yaitu solusi bukan hanya sebatas variabel ekonomi seperti pendapatan per kapita. Dengan kacamata ini, apakah sudah tepat bantuan langsung tunai, subsidi pupuk, atau banyak bantuan materi selama ini berkorelasi positif dengan upaya mengatasi permasalahan stunting dan variable terkait lainnya?

 Penulis teringat terhadap ungkapan yang disampaikan oleh Franco Modigliani, pemenang Nobel Ekonomi, ketika menyampaikan Lecture di Michigan State University pada tahun 1986.  Beliau mengatakan bahwa faktor utama yang membuat bangsa Jepang bisa menyusul perkembangan Barat adalah terletak pada peran ibu-ibu bangsa Jepang. 

Hal serupa juga kelihatannya yang sudah menjadi perhatian Prof. Pudjiwati Sajogyo beserta team dalam hal menempatkan eksistensi, posisi dan fungsi kaum perempuan dalam arti yang luas.  GHI merupakan gambaran kuantitatif akan perkembangan antar-generasi.  Kaum ibu menjadi kunci utama di sini.  Kelaparan dengan ukuran GHI tedak boleh berlanjut.  Tingginya GHI merupakan gambaran kualitas kemerdekaan bangsa yang rendah. 

Kita perlu kembali ke hal-hal prinsipil dalam falsafah hidup: kesuksesan generasi sekarang diukur oleh dicapainya kesuksesan yang jauh lebih besar oleh generasi mendatang.  Melandanya kelaparan bagi anak-anak balita sekarang  tidak akan memberikan kesuksesan masa depan bagi mereka. Jadi, apa makna kemerdekaan bagi mereka?

 Merdeka!

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018