Wednesday, 10 August 2022


Kiprah Soedjai Kartasasmita untuk Kemajuan Sawit Sumatera dan Indonesia

12 Sep 2020, 16:44 WIBEditor : Ahmad Soim

Soedjai Kartasasmita bersama Presiden RI Soeharto | Sumber Foto:Dok Pribadi/Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang kini menjadi organisasi besar, tumbuh membersamai industri kelapa sawit Indonesia yang juga tidak ada taranya di dunia.

 Organisasi itu lahir dan dibidani Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS-PPS). BKS PPS dibentuk pada era nasionalisasi perusahaan Belanda pada 10 Desember 1957.  “Pada saat pengambil alihan perusahaan Belanda pada 10 Des 1957, Gedung Avros -- yang kini menjadi Kantor BKS-PPS,  tetap dikelola oleh perkebunan namun untuk posisi ketua ditunjuk Manis Manik, seorang pensiunan militer,” ungkap Soedjai Kartasasmita pelaku Sejarah Nasionalisasi Perkebunan Belanda yang kini sebagai Ketua Umum BKS-PPS kepada Sinar Tani (12/9).

Pada pertengahan tahun 1968, kisahnya lebih lanjut, perkebunan milik negara di Sumatera mengirim delegasi ke Jakarta untuk membicarakan status gedung Avros  yang beralih nama menjadi GPS ( Gabungan Perusahaan Sumatera).  

BACA JUGA: 

Bukan Culture Stelsel, Ini Suksestori Perkebunan Inti Rakyat Kelapa Sawit

Ekspor CPO, Soedjai Kartasasmita: Jangan Reaktif Hadapi Ancaman UE

Soedjai Kartasasminta: Sehat di Usia Senja, Teruslah Berkarya

Delegasi tersebut terdiri dari Para Dirut Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) 2, 3, 4, 5, 6 yang Dirutnya dijabat oleh Soedjai Kartasasmita, juga Dirut  PNP 7 & 8 menghadap Menteri Pertanian Prof Thoyib Hadiwijaya. Delegasi itu dapat meyakinkan Mentan bàhwa selayaknya Gedung Avrost dikembalikan kepada organisasi baru yang menggantikan GPS yang bernama BKS-PPS.

 Anggota BKSPPS bukan hanya PNP saja tapi juga ada perusahaan swasta yakni Socfin, Harrison & Crossfield, Goodyear, Sipef dan Uni Royal. Demi menjaga kepercayaan investor asing, Gedung Avrost dikembalikan ke BKSPPS dengan syarat bahwa gedung tersebut harus dipelihara dengan baik.

Pada bulan Maret 1969, ketika Presiden Soeharto berkunjung ke Adolina didampingi Menteri Pertanian Prof Thoyib, juga berkunjung ke Gedung BKSPPS. Presiden Soeharto menyatakan merasa bangga karena beliau melihat sendiri bahwa gedung Avros terawat dengan baik.

 Pendirian GAPKI

 Perkembangan perusahaan sawit Indonesia dari tahun ke tahun semakin luas perkebunannya di Indonesia. Pada tahun 1980, Menteri Hukum Utoyo Usman SH berkunjung ke Medan  dan  menyarankan kepada Soedjai Kartasasmita supaya secepatnya dibentuk perkumpulan dari perusahaan kelapa sawit secara nasional. Yakni membentuk suatu asosiasi kelapa sawit Indonesia karena beliau  melihat bahwa prospek kelapa sawit ke depan buat ekonomi Indonesia penting sekali.

“Saya kemudian menunjuk Bapak Nukman Nasution SH Direktur Utama PTP 7 untuk segera membentuk asosiasi dimaksud yang kami bernama GAPKI. Bapak Nukman Nasution menjabat sebagai Ketua  dan Bapak Bonar Gultom sebagai Sekjennya waktu itu,” jelas Soedjai Kartasasmita.

Saat Menteri Keuangan Dr Ali Wardhana  berkunjung ke Bah Jambi sempat mendengarkan langsung dari kami perkembangan asosiasi baru tersebut. Ali Wardhana sadar bahwa organisasi ini akan mempunyai hari depan yang cerah. “Ternyata benar GAPKI sekarang sudah menjadi raksasa dan perkembangan industri kelapa saeit Indonesia juga tidak ada taranya di dunia,” terangnya.

Serikat Pekebun Sampai Meredam Krisis

 Sejak awal BKSPPS dibangun dengan berpendirian bahwa hubungan kerja dengan serikat pekerja harus didasarkan pada komunikasi dan hubungan yang harmonis.

Dengan adanya policy ini BKSPPS dan serikat pekerja bisa bekerjasama dalam menghadapi kerusuhan yang dipicu oleh serikat pekerja baru yang didirikan oleh Mukhtar Pakpahan.

Begitu baik hubungan dengan serikat pekerja  sehingga pada satu saat mampu membatalkan pemogokan besar-besaran yang akan diluncurkan di daerah Kisaran dan Rantau Prapat.

 Pada saat krisis moneter tahun 1998, BKSPPS mengadakan berbagai upaya untuk meredam kerusuhan di kebun-kebun antara lain dengan  menyelenggarakan pertemuan tingkat nasional di Pekanbaru yang dihadiri oleh Wakapolri dan pejabat tinggi lainnya dari Jakarta. Kemudian di Jakarta diadakan beberapa pertemuan dengan Menko Polkam Soerjadi Soedirja disusul dengan pertemuan dengan Kapolri di Mabes Polri. Selanjutnya ketika Gusdur menjabat sebagai Presiden RI, SK dua kali menghadap presiden di kantornya untuk membicarakan tata cara meredam kerusuhan di kebun.

 “Harapan kami ke depan semoga BKSPPS lebih maju lagi karena mampu menyesuaikan diri dengan dinamika perkembangan zaman,” harap Soedjai Kartasasmita  yang pada Tahun 1976, sebagai Ketua BKSPPS, dilantik oleh Menteri Pertanian Prof Thoyib dan oleh Menteri Perhubungan, Prof. Emil Salim sebagai koordinator angkutan kereta api di Sumatera Utara. Pelatikannya dilakukan di Gedung Kantor Pertanian Cut Mutia Jakarta.  Tugas ini dilaksanakan sampai tahun 1979.

Reporter : Som
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018