Friday, 18 June 2021


Basri A Bakar, Peneliti Pertanian yang Gemar Puisi dan Aktivis Masjid

14 May 2021, 13:16 WIBEditor : Ahmad Soim

Basri A Bakar | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Dia menulis dan membacakan puisi Ratapan Petani Kecil. Saat membacanya ia selalu tampil dramatis dan penuh penghayatan, sehingga penonton terpukau dibuatnya_

Sosok yang satu ini tidak sepopuler pengusaha ternama seperti Chairul Tanjung dalam bukunya, "Anak Singkong,". Namanya mirip dengan Plt Gubernur Aceh Mustafa Abubakar. Tokoh ini punya buku dengan judul "Berani Tidak Populer".

Peneliti multi talenta ini, namanya  adalah, Dr Ir H. Basri A. Bakar MSi (peneliti ahli madya BPTP Aceh).

Pria kelahiran Beureunuen Kabupaten Pidie 11 Agustus 1960 ini, memulai debutnya sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Balai Informasi Pertanian (BIP) Aceh pada tahun 1985. Karirnya dimulai dari bawah, sebagai staf diseminasi (pelukis otodidak spanduk dan bulletin). Kala itu memang belum secanggih dengan era teknologi komputerisasi,  tapi dengan berbekal nalurinya, dia mampu merangkai kata menjadi tema, melukis petani (memegang cangkul) menjadi sebuah karikatur teknologi pertanian. Bahkan dirinya mampu memanfaatkan mesin ketik menulis berita.

Seiring dengan kemajuan teknologi saat itu, dirinya juga terampil dalam layout karya tulis menggunakan Page Maker. Selain itu ia mampu mendesain cover buku ataupun brosur untuk diterbitkan. Kiprahnya, membuat para pembacanya merasa ketagihan jika membaca opini yang ditulisnya. Hobi menulis digelutinya sejak masih duduk dibangku SMA, dilakoni hingga masa kuliah dengan sering menulis Opini di harian lokal Serambi Indonesia dan Harian Waspada Medan. Honor tulisan yang diterimanya sangat membantu biaya kuliah serta meringankan beban orangtuanya. 

Karirnya pun terus beranjak. Sebelum menjadi peneliti, dirinya juga sempat menjadi penyuluh. Salah satu tugasnya yang paling gencar dikoarkan ketika menjabat Kasi Pelayanan Teknis (Red KSPP), yaitu menyampaikan sepuluh falsafah tani dalam bahasa Aceh... mulai dari pengolahan tanah hingga paascapanen.

BACA JUGA:

 

Istilah lain dalam mengusung teknologi yang disampaikan yaitu "Jaroe bak langai... Mata u pasai". Artinya sebelum menanam suatu komoditi harus ada jaminan pasarnya. 

Kegigihan lainnya dalam ajang diseminasi dan penyebarluasan informasi pertanian, ditujukan hampir semua kegiatan tak luput dari sorotan media massa, baik dalam media cetak maupun elektronik.

Hal tersebut menurutnya, bukanlah membangun pencitraan, apalagi mencari popularitas. Dalam suatu kegiatan yang telah dilaksanakan harus menjadi informasi dan konsumsi bagi publik. "Ibaratnya menulis apa yang telah dikerjakan... dan laksanakan apa yang ditulis," tukasnya.

Hal yang menarik lainnya, saat dia menjabat sebagai Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh. Karena kegiatan yang diaplikasikan tidak saja untuk daerah kelahirannya semata. "Teknologi yang dikembangkan sesuai spesifik lokasi, walau harus mendaki gunung tinggi dan menyeberangi lautan luas," ujarnya berfilosofi.

Pada tahun 2013 lalu misalnya, saat acara kegiatan temu lapang Efisiensi pemupukan Phospat (Guano) terhadap VUB Kedelai di desa Cot Masjid, kec Mutiara Timur, kabupaten Pidie.

Salah satu petani bertanya, "Pak Basri, kenapa sebagai salah satu putra daerah, Bapak tidak pernah membuat program kegiatan tentang padi di kabupaten Pidie. Namun, kami membaca  dari media masa, Bapak lebih getol menanam padi di berbagai daerah lain bahkan hingga ke Pulau Simeulue," celutuknya.

Menanggapi hal tersebut Basri yang akrab dengan semua orang menjawab bahwa, suatu program harus dilaksanakan berdasarkan kebutuhan teknologi itu sendiri. Jadi walaupun sebagai putra daerah, tidak mesti saya yang melaksanakan, terbukti ada peneliti lain yang mengagendakan untuk kampung saya," timpalnya.

Tidak hanya itu, pada tahun 2015 ia juga pernah membantu masyarakat muslim Kamboja, akibat pertanian tandus berdampak pada kemiskinan petani melalui Forum Silaturrahmi Kemakmuran  Masjid Serantau (Forsimas). Termasuk juga menyalurkan bantuan ternak qurban saat musim haji. 

Perjuangannya membela petani selain diterapkan melalui teknologi inovasi, juga dalam berbagai even pertemuan nasional, ia kerap tampil membaca puisi "Ratapan Petani Kecil" sehingga pendengar ikut tergugah dan terlena dibuatnya. Tidak hanya itu bahkan dia sering memimpin doa dalam acara  nasional Badan Litbang Pertanian.

Kepala BPTP Aceh

Berbekal keuletan dan kemampuan leadershipnya, sejak 2013 - 2018 ia dipercayakan sebagai Kepala BPTP Aceh.

Setamat SMA, Basri A. Bakar yang mempunyai bakat sebagai qari, melanjutkan kuliahnya dan menyelesaikan S1 Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) jurusan Agronomi (1987). 

Lalu pada tahun 1997 diterima pada program Pascasarjana (S2) di IPB Bogor jurusan Komunikasi Pembangunan Pertanian dan selesai tahun 1999.

Semangat menuntut ilmu tidak menyurutkan langkah pria yang memiliki 4 anak ini hanya karena faktor usia. Berkat ketekunan dan dukungan isteri tercinta, ia berhasil menyelesaikan S3 di UIN Ar Raniry dengan judul Disertasi: “Revitalisasi Pendidikan Pelestarian Alam Bebasis Syariat Islam dan Kearifan Lokal di Aceh”. 

Anak pertama dari enam bersaudara yang berasal dari keluarga petani sederhana ini diangkat sebagai peneliti terhitung sejak 1 Pebruari 1998. Namun karena menduduki jabatan struktural sebagai Kasie Pelayanan Teknis (sekarang Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian), suami dari Hj. Yusriani ini, dinonaktifkan sementara sebagai tenaga fungsional sejak 1 Mei 2002. Kini ia menduduki jenjang jabatan fungsional Peneliti Ahli Madya. 

Selain senior sebagai tutor dalam berbagai pelatihan untuk penyuluh dan petani, Basri juga  mendalami jurnalistik, fotografi dan desain grafis. Tak heran ia juga dipercayakan Tabloid “Sinar Tani” sebagai koresponden daerah Aceh sejak 1997 hingga 2013. 

Di luar tugas pokok sehari-hari, Basri juga mampu berceramah dan berkhutbah serta mengimami shalat berjamaah. 

Terkait materi yang disampaikan dalam ceramah selalu ia kaitan dengan pertanian dan kegiatan penelitian maupun diseminasi. Hal ini katanya salah satu strategi dalam Spectrum Diseminasi Multi Channel (SDMC).

Menjadi imam di Thailand

Pada Ramadhan 2012,  ia pernah diundang ke Thailand untuk menjadi imam shalat Tarawih di beberapa masjid di Bangkok serta  khatib Idul Fitri di Kedubes RI Bangkok. Kiprahnya di luar jam dinas kantor cukup padat namun dapat dilaksanakan semua berkat kepiawaiannya mengatur waktu. 

Basri juga salah seorang yang membidani terbitnya Tabloid  “Gema Baiturrahman” di Masjid Raya Baiturrahman, dan pernah menduduki posisi Pemimpin Redaksi sejak 1993 hingga 2013. Selain itu pernah menjadi muazzin Masjid Raya Baiturrahman selama 10 tahun (1987 - 1997).

Berkat kerjasama BPTP Aceh dengan luar negeri, Basri ikut diundang ke Sydney Australia bersama tim ACIAR selama 10 hari pada tahun 2008. 

Dirinya tercengang saat melihat seorang petani kedelai di Wollongbar, mengelola lahan ratusan hektar bermodal teknologi.

"Begitu juga dengan sistem penyuluhan, para penyuluh dengan menggunakan Skype, mereka memberikan sistem penyuluhan berbasis teknologi informasi," katanya. 

Pengalamannya ke luar negeri pada tahun 2014, bersama Universitas Syiah Kuala melakukan studi banding bidang pascapanen pertanian ke Taiwan. Selanjutnya Agustus di tahun yang sama, pria multitalenta ini juga mendapat kesempatan mengikuti Training Manajemen Riset dari proyek SMARTD kerjasama dengan Michigan State University (MSU) di Michigan USA bersama 20 peserta lainnya dari Badan Litbang Pertanian.  

Selain negara-negara tersebut, Basri juga sudah melanglang buana seperti Singapura, Malaysia, Turki, Arab Saudi dan Kamboja. Moto Hidupnya : “Selalu bersyukur dan berusaha berbuat baik walau sekecil apapun".

Bersama Petani

Salah satu kepribadiannya yang sangat unik waktu menjabat Ka.BPTP Aceh, setiap ke lapangan selalu disapa oleh semua lapisan masyarakat. 

"Halo Pak Basri, peuhaba (Apakabar). Terlihat dan mendengar ada yang menyapa....ia tidak mengelak, sangking penasarannya dirinya malah mengajak Ngobrol Perkara Identitas (NGOPI) dengan penyapa. "Alhamdulillah Haba Get (Kabar baik). Oh ya.. apakah kita pernah berkenalan sebelumnya," jawabnya sambil bertanya. "Belum Pak, saya hanya membaca nama yang tertulis di topi yang Bapak pakai," balas penyapa tadi. Dan itu merupakan strategi, cara membangun komunikasi dengan semua pihak, baik yang dikenal maupun tidak," bebernya.

Dalam perjalanan waktu,  pada tahun 2018 lalu, jabatan struktural dilepaskannya dan dia memilih kembali sebagai tenaga fungsional. Kini lebih terfokus dalam mengadvokasi para peneliti dan penyuluh.

Ia menghimbau, agar peneliti dapat membangun Team Work (multi disiplin ilmu) dalam bekerja. Harapannya agar peneliti muda terus berbenah dan mengasah diri sembari melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. "Hal ini penting, dengan adanya regulasi yang semakin dinamis, harus kita antisipasi sejak dini," pungkasnya mengakhiri...

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/  

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018