Minggu, 20 Oktober 2019


Budidaya Rumput Gajah, Untungnya seperti 'Gajah'

02 Okt 2019, 14:02 WIBEditor : Yulianto

Budidaya rumput gajah di Kediri | Sumber Foto:Dodik

Rumput gajah bisa ditanam di areal yang kurang dimanfaatkan untuk tanaman pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, KEDIRI---Bagi peternak, ketersediaan pakan menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari lagi, termasuk pakan rerumputan. Untuk mencukupi kebutuhan pakan hijauan, peternak di Kediri, Jawa Timur, kini membudidayakan rumput gajah.

Babinsa Koramil Kota Kediri, Serka Samsuri menelusuri potensi dari budidaya rumput gajah untuk mencukupi ketersediaan pakan ternak, khususnya di Desa Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo.

“Sebenarnya rumput gajah ini mudah ditanam dimana saja, dan bisa tumbuh segala kondisi tanah atau dataran. Di desa ini khususnya, rumput gajah ditanam di areal yang kurang dimanfaatkan untuk tanaman pangan, seperti padi, jagung dan sejenisnya,” kata Narto, petani yang membudidayakan rumput gajah .

Areal tersebut, lanjut Narto memang tidak seluas tanaman pangan, karena pemanfaatannya sebatas untuk kebutuhan pakan ternak. Pemanfaatan lahan kosong atau sempit lainnya juga dilakukan peternak untuk menanam rumput gajah. “Ada yang menanam dipinggiran atau bantaran sungai, lahan kosong di pekarangan rumah maupun kanan kiri badan jalan,” ujarnya.

Namun, menurut Narto, seiring perkembangan jumlah ternak yang dimiliki warga makin banyak, rumput gajah tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi sebagian untuk dijual. Di Desa Jongbiru, areal budidaya rumput gajah tidak ada yang mencapai 1 ha, maksimal hanya sekitar 0,5 bahu atau 3.500 meter persegi atau 0,35 ha.

Sementara itu, Yoyok, petani rumput gajah lainnya mengatakan, rumput gajah umumnya akan dipanen saat berumur 90 hari atau 3 bulan pada panen pertama. Kemudian dipanen lagi saat berumur 45 hari atau 1,5 bulan diwaktu musim hujan. Dipanen lagi saat berumur 60 hari atau 2 bulan ketika memasuki musim kemarau.

Hasil rumput gajah, tidaklah sama pada panen pertama, panen kedua hingga panen ketiga. Meski hasilnya tidak sama, tidak mempengaruhi pasokan pakan ternak, karena ditempat lain atau desa lainnya, bisa menutup kekurangan akan kebutuhan rumput gajah,” tuturnya.

Mukid, petani rumput lainnya menjelaskan, usaha budidaya rumput gajah sebenarnya cukup menggiurkan, namun budidaya itu sendiri juga harus diimbangi kebutuhan akan pakan ternak. Tanpa menggunakan pupuk, lahan seluas 0,5 bahu atau 0,35 ha, bisa menghasilkan 5,4 ton rumput gajah.

Tetapi, kalkulasi produktivitas 5,4 ton tersebut berada ditanah yang subur, sedangkan tanah yang kurang subur, hanya bisa menghasilkan sekitar 3,6 ton hingga 4,2 ton per 0,35 hektar. Tidak cuma tanah subur saja bisa menghasilkan 5,4 ton itu, kondisi tanah juga harus berkecukupan pasokan air,” tuturnya.

Jika menggunakan pupuk, Mukid menjelaskan, umunya petani memakai pupuk organik. Sedangkan pupuk kimia sangat jarang digunakan. Mukid menyarankan, waktu terbaik memulai budiaya rumput gajah saat menjelang musim hujan atau berakhirnya musim kemarau. Umumnya, peternak menanam rumput gajah pada September hingga Nopember.

Rata-rata tujuan budidaya rumput gajah,  peternak hanya menanam untuk kebutuhan pakan ternaknya sendiri,” katanya. Tetapi, lajut Mukid, ada sebagian kecil yang menanamnya untuk dijual. Harga jual rumput gajah bisa naik, bisa juga turun, tergantung kondisi besar kecilnya kebutuhan, namun rata-rata rumput gajah dijual kisaran Rp 250.000-350.000/ton.

 

Reporter : Dodik
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018