Senin, 09 Desember 2019


Intip Yuk Kunci Sukses di Retail Ala Sandi Octa !

07 Okt 2019, 14:18 WIBEditor : Gesha

Petani Millenial Sandi Octa Susila (berkacamata) menjadi salah satu pemuda yang sukses menembus dan konsisten memasok retail | Sumber Foto:SANDI

Dengan tim, Sandi biasanya membuat perencanaan dan merumuskan perhitungan tersendiri untuk memastikan petani mendapatkan uangnya segera

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Disaat kelompok tani lain ragu untuk memasuki pasar hotel restaurant katering maupun retail, Mitra Tani Parahyangan justru makin mantap menjejakkan kakinya di pasar yang semakin bertumbuh di Indonesia dan kian membutuhkan pasokan hortikultura segar dan berkualitas. Apa sih rahasianya?.

"Sistem konsinyasi itu memang pembayaran yang umum digunakan oleh modern market seperti retail, hotel, dan restoran. Disinilah kita harus memiliki perhitungan tersendiri," ungkap salah satu petani millenial yang sudah menggerakkan Mitra Tani Parahyangan ke pasar modern, Sandi Octa Susila kepada tabloidsinartani.com.

Dengan tim, Sandi biasanya membuat perencanaan dan merumuskan perhitungan tersendiri untuk memastikan petani mendapatkan uangnya segera. "Misalnya, mereka (pihak modern market) membeli dengan harga Rp 50 juta, setidaknya kita harus mempersiapkan (modal) sekitar Rp 150 juta untuk pembayaran ke petani, mau tidak mau," tuturnya.

Dari awal mempelajari modern market ini, Sandi mengetahui dengan pasti bagaimana sistem yang harus diambil oleh marketer dari Mitra Tani Parahyangan. "Biasanya pencairan (pembayaran) di perjanjian itu 30 hari, tetapi ditempo bisa sampai 60 hari. Makanya, kita harus cermat betul untuk masuk ke pasar modern. Kalau kita, ya rumus 3N tadi, kita siapkan modal 3 kali lipat," tuturnya.

Dengan model seperti itu, Mitra Tani Parahyangan hingga sekarang masih mampu memasok 25 hotel di Jawa Barat dan beberapa retail di Jakarta. Dalam menerapkan harga jual, pemuda berusia 26 tahun ini menawarkan harga bagus untuk petani. “Misal, harga kentang petani Rp 4 ribu, kami beli Rp 8 ribu lalu kami jual ke perusahaan Rp 11 ribu. Kenapa petani mau? Ini karena dari sisi value kita tambah, dari sisi pasar ada kejelasan, dan yang paling penting mereka mau diedukasi standar kualitas sesuai keinginan klien kami," ujarnya.

Petani yang bergabung di Mitra Tani Parahyangan pun mengaku sangat senang bisa memproduksi sayuran yang berkualitas dan bisa diminati oleh pasar retail. "Selama kita memberikan jaminan harga (lebih tinggi dari pasar tradisional), kepastian pasar terhadap mereka (petani), tidak akan bermasalah. Bahkan kami memiliki konsolidasi yang baik dengan mereka dan saling bahu membahu," tuturnya.

Pemegang Keputusan Retail

Dalam mendobrak pasar retail modern, Sandi mengakui bahwa marketer harus mampu "memegang orang" yang memberikan keputusan (decision maker) dalam pasar retail tersebut. "Kita tidak bisa bersikap mentang-mentang punya modal terus langsung datang pasok ke supermarket atau lainnya. Kita harus tahu decision makernya dimana," tuturnya.

Misalnya, retail (supermarket) itu ada di buyer, sedangkan hotel dan restoran, kuncinya ada diExecutive chef. "Kita harus punya jalinan secara personal dengan decision maker itu, kita datangi ke mereka, tunjukkan keunggulan produk kita dibandingkan yang lain. Dari segi harga, kami lebih kompetitif karena langsung dari farm," tuturnya.

Sandi menambahkan, tak jarang sebelum mengambil keputusan, mereka meminta survey langsung ke lapangan (farm) untuk memastikan produk yang dipasok merupakan produk sama yang ditawarkan. "Kami sangat mempersilahkan mereka kalau memang mau datang sendiri, lihat langsung bagaimana kami mengelola farmnya. Bahkan tak jarang, malah bisa lebih tinggi (deal) penawarannya," tuturnya.

Terkait kondisi cuaca yang sulit diprediksi, Sandi memiliki kiat khusus agar suplai ke konsumen tepat waktu. Tak hanya mengatur pola tanam, waktu dan jumlah pesanan ke masing-masing petani sudah terjadwal baik.

“Kita atur betul – betul pola tanamnya. Kapan komoditas ini panen tepat pada saat dibutuhkan harus kita pantau. Jadi di kantor holding office kami (HO) itu, PO atau purchase order sejak pukul 8 pagi hingga 5 sore. Setelah itu kita rekapitulasi PO dan sebarkan orderan ke petani yang bekerja sama dengan kita. Petani sudah paham berapa rata-rata permintaan dari kita. Berikutnya proses penyerahan produk dilakukan di holding office kami. Terakhir,  produk dipacking dan siap antar, serta diterima oleh klien kami pagi harinya” papar Sandi.

Berpenghasilan rata-rata Rp 500 juta per bulan, Sandi bertekad meningkatkan lahan miliknya semakin luas. Bahkan dalam waktu dekat, Sandi tengah mengembangkan inovasi agrowisata yang dibuka untuk para pengunjung yang studi banding, kuliah lapang hingga untuk umum dalam bentuk kelompok. Tidak hanya itu, Sandi tengah mengkaji bisnis ekspor ke Timur Tengah.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018