Sabtu, 14 Desember 2019


Budidaya Asparagus, Petani Bali Dapat Omzet Rp 500 ribu/hari

27 Nov 2019, 17:43 WIBEditor : GESHA

Asparagus menjadi salah satu andalan produksi dari Kab. Badung | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Badung  --- Mempunyai lahan yang terbatas, pertanian di Kabupaten Badung ternyata memiliki keunikan tersendiri. Petani disana terbiasa membudidayakan Asparagus dan mampu memperoleh omzet per hari Rp 500 ribu!.

"Kami memang tidak bisa mengusahakan pertanian dalam bentuk luasan tanam, tetapi kami mengusahakan pertanian yang unik dan memiliki nilai ekonomi tinggi serta dibutuhkan pasar, salah satunya adalah Asparagus. Kualitasnya terbaik di Asia. Pusatnya ada di Desa Belok dan Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kab. Badung," ungkap Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Badung, Mertayasa kepada tabloidsinartani.com.

Dari kedua desa tersebut, setidaknya ada 60 hektar pertanaman Asparagus yang dilakukan oleh petani. "Pendapatan dari Asparagus ini sangat menjanjikan karena selama ini memang Indonesia tidak punya komoditi itu. Pasarnya sendiri sampai saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan di Kab Badung untuk hotel restoran dan katering (horeka)," tuturnya.

Kualitas asparagus produksi petani Plaga sudah teruji di laboratorium sebagai sayuran dengan kualitas tinggi, bahkan jadi salah satu yang terbaik di Asia. Kualitasnya sudah diakui bahkan beberapa negara di dunia juga sudah mengakui hal itu meskipun memang  belum bisa memasok banyak keluar negeri karena untuk pasar lokal saja  masih kewalahan. Selain itu, kelebihan dari asparagus Plaga adalah bisa dipanen sepanjang tahun, 12 bulan. Sedangkan kalau di negara lain, paling produksinya hanya bisa maksimal 3-5 bulan saja.

Mengenai harga, kisaran untuk grade A adalah Rp 90-110 ribu. Petani sendiri bisa mendapatkan omzet Rp 500 ribu per harinya. "Petani biasa panen jam 09.00-10.00 WITA, minimal petani bisa dapat Rp 200 ribu bahkan ada juga yang dapat Rp 1 juta, tergantung luasannya," tuturnya. Kondisi itu tentu saja membuat petani jadi punya pendapatan yang memadai dan konsisten. Karena asparagus bisa dipanen setiap hari, para petani bisa menghasilkan hingga 200-300 kg perhari dari 15-20 hektar lahan produktif . 

Mertayasa menuturkan dalam membudidayakan Asparagus ini sangatlah mudah karena secara iklim mikro di Kecamatan Petang sangat cocok untuk membudidayakan Asparagus. "Asparagus  harus benar-benar dijaga pemberian airnya sebab cepat mati jika kekurangtan air sebaliknya juga tak mampu bertumbuh dengan baik air yang menggenang. Intinya harus pas takaran airnya. Gulma juga harus diminimalkan karena tanaman ini termasuk rentan, juga dari angin kencang dan hujan yang terlampau deras,” tambahnya.

Lebih Menguntungkan

Salah satu pembudidaya Asparagus di Desa Plaga yang juga menjadi Ketua Koperasi Tani Mertanadi Plaga, I Wayan Supariyasa menuturkan keuntungan utama asparagus adalah pasarnya yang luas. Nyaris tak ada daerah lain di Indonesia yang juga mengembangkan asparagus. Pasar pariwisata di Badung Selatan juga sering membutuhkan spesies A. officinalis tersebut.

"Awalnya kami menanam ketela, namun semenjak ada pendampingan One Village One Product (OVOP), kita diberikan pendampingan untuk mengembangkan Asparagus ini. Dulu menanam ketela hasil per bulannya hanya Rp 3 juta. Sekarang, untuk luas tanah sama, jika menanam asparagus bisa dapat sampai Rp 36 juta. Lebih menguntungkan," jelasnya.

Mengenai biaya investasi pertama kali membudidayakan Asparagus, setidaknya membutuhkan modal mencapai Rp 41 juta untuk luasan 1 hektar pertanaman atau sekitar  "Bibit dalam usahatani asparagus dimasukkan dalam biaya investasi sebab tanaman asparagus mampu tumbuh lebih dari 4 tahun, bahkan mampu tumbuh sampai 15 tahun dalam sekali penanaman," tuturnya.

Untuk jangka waktu penanaman dari bibit asparagus berlangsung enam hingga tujuh bulan mulai panen, setelah itu panennya setiap hari selama jangka waktu tiga bulan. Kemudian, akan terjadi massa jeda setelah panen karena induknya mengalami penuaan dan diakukan pemangkasan kemudian kurun waktu 25 hari hingga 30 hari selanjutnya akan dapat dipanen kembali.  "Sekali tanam sayuran asparagus ini akan terus tumbuh dan berkembang secara terus menerus hingga berusia delapan tahun," ujarnya.

Melalui Koperasi Tani Mertanadi yang beranggotakan 88 orang ini, asparagus mampu dijual langsung ke beberapa hotel, restoran, dan supermarket. Tiga mobil boks milik mereka berangkat setiap pukul enam pagi menuju Badung Selatan. Selain itu, mereka kerja sama dengan penyuplai yang membawa asparagus ke Jakarta dan Surabaya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018