Wednesday, 02 December 2020


Peluang Industri Biofarmaka Luas, Tapi Petani Kurang Tertarik Bertanam

17 Dec 2019, 14:33 WIBEditor : Gesha

Indonesia memiliki banyak tanaman obat yang berpeluang dikembangkan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perubahan trend untuk kembali pada hal alamiah (back to nature) menjadi gaya hidup masa kini. Karena itu, peluang industri obat-obatan herbal (biofarmaka) kian terbuka. Sayangnya, ketersediaan bahan baku tanaman obat sulit tersedia karena sedikitnya petani yang membudidayakannya. 

"Membudidayakan tanaman obat bagi petani dirasakan belum bermanfaat ekonomi karena bagi mereka pasarnya tidak jelas, abu-abu. Siapa (industri) butuh apa, berapa banyak tidak tertera dengan jelas. Beda dengan kita bertanam padi, jagung, kedelai yang kalau dibawa ke pasar bisa langsung ada pembelinya. Beda kalau tanam tempuyung, panen 200 kg dibawa ke pasar, semua orang pasti heran," tutur peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembagan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Yuli Widiastuti.

Padahal, sebagai negara yang berada di daerah tropis, Indonesia mempunyai potensi tanaman obat kedua terbesar di dunia setelah Brazil. Dari total sekitar 40.000 jenis tumbuh-tumbuhan obat yang telah dikenal di dunia, 30.000-nya disinyalir berada di Indonesia. Jumlah tersebut mewakili 90?ri tanaman obat yang terdapat di wilayah Asia. Dari jumlah tersebut, 25% diantaranya atau sekitar 7.500 jenis sudah diketahui memiliki khasiat herbal atau tanaman obat. Namun hanya 1.200 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan untuk bahan baku obat-obatan herbal atau jamu.

Penggunaan tanaman obat sebagai bahan obat telah dapat diterima secara luas di dunia. Di dunia, perkembangan obat herbal semakin pesat dengan pemasok terbesar adalah Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India dan Belanda. Konsumsi obat tradisional di negara-negara Asia juga sangat signifikan, seperti RRT mencapai 90%, Jepang 70%, Chile 71%, Kolombia 40%. Di negara-negara Eropa dan Amerika, penggunaan obat tradisional juga ikut berkembang, seperti di Perancis mencapai 49%, Kanada 70%, Amerika Serikat 42%

Dalam Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) tahun 2015 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan disebutkan bahwa tumbuhan obat yang digunakan oleh 525 pengobat tradisional di 96 etnis suku di Indonesia berjumlah 19.918. Berdasarkan informasi tersebut 15.640 berhasil diidentifikasi, sedangkan 4.278 informasi tidak dapat dilakukan identifikasi karena kurang lengkapnya data yang ada.

Diakui Yuli, celah (gap) antara produsen (petani) dengan konsumen sangat luas sehingga harus dijembatani. "Mungkin Kementerian Pertanian bisa menjembataninya karena tata niaga bahan baku obat tradisional memang di area abu-abu, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan juga tidak concern disitu. Kalau Kementan, tanaman obat paling hanya komoditi yang sudah stabil di masyarakat seperti jahe, kunyit. Nah (tanaman obat) yang lain rasanya perlu disentuh dengan kebijakan," tukasnya.

Hal tersebut dirasakan sangat penting karena kedepan, kecenderungan kebutuhan tanaman obat sebagai bahan baku industri biofarmaka semakin dibutuhkan. Sedangkan produktivitas di hulu semakin berkurang karena tidak adanya yang membudidayakan. 

Selama ini, sumber bahan obat alam sebagian besar (diperkirakan lebih dari 90%) merupakan eksploitasi langsung dari tumbuhan liar, hutan dan pekarangan yang belum dibudidayakan secara terencana dan terpadu. Mutu simplisia pada umumnya kurang memenuhi persyaratan mutu yang diperlukan karena ketidakmampuan dan kurangnya pengetahuan petani dan pengumpul dalam mengolah dan mengelola simplisia secara baik.

Kondisi tersebut ditambah dengan lokasi budidaya yang relatif jauh dari industri obat tradisional dan sulitnya petani melakukan transaksi langsung dengan pihak industri obat tradisional menyebabkan petani membutuhkan pedagang perantara. Petani tanaman obat menjual hasil produksinya dalam keadaan segar kepada pedagang pengumpul desa. Petani yang tergabung dalam kelompok petani menjual langsung kepada industri obat tradisional yang telah menjalin kemitraan. Petani juga menjual kepada pedagang racikan bahan jamu yang mengolah tanaman obat menjadi bentuk bubuk dan melakukan racikan sendiri untuk dijual kepada pedagang jamu gendong.

Selain distribusi tanaman obat secara umum terdapat pula jalur distribusi tanaman obat kemitraan. Pihak industri yang merupakan konsumen terbesar tanaman obat telah memperpendek jalur distribusi dengan melakukan kemitraan langsung dengan petani, namun menghadapi kendala volume produksi petani yang relatif kecil serta kendala mutu produk yang tidak memenuhi persyaratan, seperti tingkat kadar air, kemurnian bahan (benda asing) dan kebersihan. Produksi petani yang relatif kecil disebabkan sempitnya luas areal penanaman yang terbatas pada lahan pekarangan dan kebun.

Selain itu industri juga memiliki keterbatasan tenaga untuk melakukan pembinaan dan kemitraan langsung dengan petani selain jalur distribusi umum dan kemitraan, perlu dikembangkan jalur distribusi yang lebih baik yaitu jalur distribusi bahan baku agroindustri farmasi. Agroindustri farmasi penghasil fitofarmaka mempersyaratkan kandungan zat aktif standar sesuai dengan persyaratan dosis.

Oleh karena itu, industri melakukan pemetaan kandungan zat khasiat aktif optimal dari daerah sumber pasokan. Jalur distribusi agroindustri membutuhkan persyaratan yang ketat dalam implementasinya yaitu komitmen industri untuk membeli dan komitmen petani untuk memasok ke industri. Industri menetapkan jumlah pesanan bahan baku untuk setiap satuan pengiriman dimana jumlah tersebut sering sulit dipenuhi oleh petani sehingga dalam mengembangkan jalur distribusi agroindustri pemrakarsa yang tepat adalah industri yang didukung pemerintah.

Belajar Dari India dan RRT

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan India merupakan 2 (dua) contoh negara yang dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Indonesia dalam merumuskan kebijakan terkait produksi dan pengembangan tanaman obat, karena keduanya telah menerapkan sistem tanam dan perlindungan yang baik terhadap tanaman obatnya.

Pemerintah RRT sedikitnya telah melindungi sebanyak 116 spesies tanaman obat yang dapat digunakan dalam Pengobatan Tradisional RRT - TCM. Pemerintah RRT juga telah mengupayakan enam Area Penting Tanaman besar untuk tanaman obat dan Hasil Hutan Bukan Kayu lainnya di wilayah RRT Himalaya, dengan luas mencapai 434.200 km persegi.

Sekitar 2.400 cagar alam seluas 14,8?ri total lahan dan 60?ri spesies tanaman negara RRT ditujukan untuk konservasi insitu dan manajemen panen berkelanjutan untuk tanaman obat yang tentunya memberikan berbagai manfaat bagi penduduk setempat.

Berbeda dengan RRT, strategi India mengembangkan tanaman obat melalui pembentukan The National Medicinal Plants Board (NMPB) atau Badan Nasional Tanaman Obat yang diketuai oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga (Ministry of Health and Family Welfare). Lembaga ini didirikan pada November tahun 2000 dan telah memprioritaskan berbagai spesies tanaman obat untuk masuk dalam program konservasi, pengelolaan, dan budidaya.

Di India sendiri diperkirakan ada sekitar 960 spesies tanaman obat dengan perkiraan sekitar 178 spesies yang dikonsumsi cukup besar. Bagi Pemerintah India, tanaman obat tidak hanya merupakan sumber utama untuk obat tradisional dan industri herbal, namun juga memberikan penghidupan dan keamanan kesehatan bagi sebagian besar penduduk India.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018