Friday, 26 February 2021


Garap Lahan Buangan Sampah, Irfan Selesaikan Kuliah dari Buah Tin

21 Apr 2020, 20:45 WIBEditor : Yulianto

M. Irfan sukses kembangkan buah tin | Sumber Foto:Dok. BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jombang---Ketekunan dan kesabaran bisa menjadi bekal seseorang untuk bisa berhasil menjalankan usaha. Begitulah yang dialami Muhammad Irfan (25 tahun), generasi milenial yang tinggal di Desa Ngusikan, Kabupaten Jombang, di Jawa Timur.

Tak ingin membebani orang tuanya untuk membiayai kuliah, ia sukses menyulap lahan tidur disekitar rumahnya menjadi lahan pembibitan buah tin. Irfan memilih buah tin untuk dibudidayakan karena kaya manfaat bagi kesehatan. Mulai dari daunnya yang bisa di buat teh, buahnya yang manis bisa diolah menjadi manisan, dodol, selai dan sirup.

Irfan  bercerita, di sekitar rumahnya terdapat lahan marginal yang rimbun ditumbuhi rumput ilalang dan tanaman liar. Bahkan warga menjadikan tempat pembuangan sampah. Melihat kondisi itu, keluarlah idenya membudiayakan tanaman tin lebih banyak lagi. “Buah tin ini penuh keunikan, apalagi disebut dalam kitab suci Al Qur’an,” ujarnya.

Irfan mulai menanam dan mengembangkan tanaman buah tin pada tahun 2013, yang awalnya hanya 2 pohon. Namun dengan menggarap lahan marginal di lingkungan rumahnya, ia bisa menanam tin hingga puluhan pohon.  Bibitnya ia ambil dari hasil mencangkok tanaman yang sudah ada.

“Walau tak semudah bayangan orang dalam mengembangkan buah tin, saya tetap gigih hingga bisa menghidupi diri sendiri tanpa membebani orang tua saya. Bahkan hingga bisa menyelesaikan kuliah,” tutur Irfan.

Untuk mempermudah pemasaran, Irfan memanfaatkan media online karena bisa menjangkau seluruh pelosok daerah indonesia. “Alhamdulilah, sekarang semakin banyak pemesanan dari luar daerah di seluruh Indonesia. Ada yang memesan hasil olahannya dan banyak pula yang pesan bibit buah tin untuk dibudidayakan lagi oleh pemesannya,” ungkap Irfan.

Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini usaha dan kredibilitas generasi muda di bidang pertanian semakin berkembang. “Saya makin percaya anak muda yang mau terjun dibidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar SYL.

Sedangkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, turunnya jumlah petani muda menimbulkan krisis petani. Karena itu regenerasi mutlak dilakukan karena mereka paling berperan dalam pembangunan pertanian di Indonesia kedepan di era 4.0.

“Mereka (generasi muda, red) dipastikan melek teknologi dan cerdas. Dengan lahirnya petani-petani milenial akan mempercepat pembangunan pertanian di Indonesia,” ujar Dedi. 

 

 

Reporter : Irfan/Asep/Yeni (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018