Thursday, 01 October 2020


Mustakim, Raup Rezeki Ramadhan Saat Pandemi Covid-19

25 Apr 2020, 11:19 WIBEditor : Yulianto

Mustakim, petani milenial yang membudidayakan blewah | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Grobogan — Blewah terbilang menjadi buah primadona saat Bulan Puasa, sehingga jarang bisa kita ditemui di luar Bulan Ramadhan. Dengan daging buah yang bertekstur lembut dan berair, masyarakat biasanya mengolah menjadi minuman yang menyegarkan ditambah sirup dan es.

Menjelang Ramadhan permintaan blewah sudah mulai meningkat tajam.  Naiknya permintaan tersebut menjadi peluang emas yang tidak disia-siakan petani di Desa Lebak, Kecamatan Grobogan, meski di tengah wabah Covid-19.

Budidaya tanaman blewah yang dikenal sebagai tanaman tahunan (setahun sekali ditanam) memang mudah, karena perawatannya tidak rumit dan dapat tumbuh di berbagai jenis tanah. Blewah dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun tinggi. Umumnya petani di Desa Lebak mulai menanam blewah 50-60 hari menjelang Ramadhan.

Mustakim, petani muda asal Desa Lebak, Kecamatan Grobogan juga tak menyia-nyiakan meraup rezeki tahunan itu, karena prospek menggirukan. Ia mulai menekuni budidaya blewah tahun ini karena tergiur dengan keuntungan nyang diraup petani di kampungnya yang tiap tahun menanam blewah menjelang puasa.

“Saya mulai budidaya blewah tahun ini seluas 0,5 hektar. Perawatan mudah dan keuntungan cukup menjanjikan menjadi motivasi saya untuk budidaya blewah ini, ‘’kata Mustakim yang juga berprofesi sebagai Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Kecamatan Grobogan.

Mustakim menaman blewah varietas Bisma, karena cocok dibudidayakan di dataran rendah. Selain, ukurannya cukup besar, rasa dan aromanya khas dan disukai konsumen. “Panen pertama 6 kuintal dan selanjutnya bisa dipanen 3-4 kali. Biasanya ada pengepul yang datang untuk membeli hasil panen dengan harga Rp 3.000/kg,” katanya.

Meski keuntungannya menggiurkan, Mustakim mengatakan, kendala yang dihadapi dalam budidaya blewah adalah curah hujan yang tinggi, sehingga banyak tanaman yang mati dan buahnya busuk.

Namun sebagai petani muda yang melek teknologi, ia berupaya menerapkan budidaya tanaman yang baik, pemupukan yang tepat, pengendalian OPT secara terpadu, pengendalian gulma secara berkala untuk mengatasi kendala tersebut.

Menurut Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Grobogan Muhammad Sidiq, di Desa Lebak Kecamatan Grobogan, terdapat 35 hektar tanaman blewah yang dibudidayakan petani. Setelah selesai tanam padi atau jagung di lahan sawah tadah hujan, petani bergegas menanam blewah dengan memanfaatkan momentum Ramadhan.

“Alhamdulillah petani blewah tersenyum karena panen di saat yang tepat menjelang puasa Ramadhan,kata Sidiq. Langkah ini menurutnya, dapat diadopsi pateni di desa lain untuk pandai menangkap peluang, terlebih saat ini ekonomi sedang sulit imbas dari pandemi Covid-19.

Namun demikian saat wabah Covid-19, Sidiq mengingatkan, kepada petani untuk menjaga jarak dengan orang lain sejauh 1-3 meter saat aktivitas di sawah. Selalu memakai masker dan setelah selesai aktivitas rajin mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir. Peralatan yang sudah dipakai untuk dapat dibersihakan dan diletakkan digudang dan dilakukan penyemporan disinfektan,” ujarnya.

Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo selalu mengingatkan bahwa tanggung jawab penyediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia merupakan spirit bagi keluarga besar Kementerian Pertanian dan semua pelaku pembangunan pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi juga menegaskan, masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa.

Saat ini pejuang melawan Covid-19 bukan hanya dokter, perawat dan tenaga medis, tapi juga seluruh insan pertanian yang bahu membahu menyediakan pangan bagi seluruh masyarakat. “Jadi pertanian tidak boleh berhenti apapun yang terjadi,katanya

Reporter : Harmoko/Anik/Yeni (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018