Thursday, 03 December 2020


Lebih Untung dan Sehat, Bisnis Kue Kering dari Tepung Mocaf

22 May 2020, 06:08 WIBEditor : Gesha

Lebih Untung dengan tepung mocaf | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Bagi ibu-ibu yang biasa membuat kue kering, bahan tepung terigu pastinya menjadi komponen utama. Tapi pernah gak membuat kue kering dari tepung Mocaf? Jika ditekuni pun menjadi bisnis yang menjanjikan lho.

Modified Cassava Flour atau lebih dikenal dengan nama tepung mocaf ini memang menjadi andalan ibu-ibu yang menginginkan kue yang rendah gluten atau anak-anak yang memiliki sindrom autisme. 

Mocaf dibuat dari tepung singkong dan melalui proses fermentasi serta mengalami perubahan karakteristik. Demikian pula, cita rasa MOCAF menjadi netral dengan menutupi cita rasa singkong sampai 70 persen. Warnanya pun lebih putih daripada tepung singkong biasa.

"Selama ini penggunaan tepung ubi kayu biasa, sangat terbatas. Namun aplikasi tepung Mocaf dengan karakteristik yang dijelaskan di atas, ternyata mampu menghasilkan produk makanan yang lebih baik," salah satu pengolah tepung Mocaf asal Bogor sekaligus anggota Kelompok Tani Setia, Desa Cikarawang, Kec. Dramaga, Kab. Bogor, Ujang. 

Tepung ini tidak hanya bisa dipakai sebagai bahan pelengkap, namun dapat langsung digunakan sebagai bahan baku dari berbagai jenis makanan, mulai dari mie, bakery, cookies hingga makanan semi basah. Produk yang dihasilkan mempunyai karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan produk yang dibuat menggunakan tepung terigu tipe berprotein rendah,m tidaklah sulit bagi tepung mocaf untuk mengganti tepung terigu tersebut.

Salah satu pembuat kue yang biasa menggunakan tepung mocaf di Bogor, Ricke menuturkan diriny sudah 5 tahun terakhir membuat kue kering dari tepung mocaf. "Kita sudah buat cookies, nastar, dan kastengel, dimana 100 persen tepungnya menggunakan mocaf. Hasilnya, kue kering yang dihasilkan tidak berbeda dengan produk yang dibuat menggunakan tepung terigu tipe berprotein rendah. Hanya saja, memerlukan mentega atau margarin sedikit lebih banyak dibandingkan tepung terigu untuk mendapatkan tekstur yang diinginkan," bebernya. 

Ricke menambahkan di awal-awal berjualan kue kering menggunakan mocaf ini, banyak yang bingung. "Tapi begitu mereka cicipi, rasanya tidak ada beda dengan kue kering dari tepung terigu. Apalagi tepung mocaf ini kan minim gluten sehingga cocok buat ibu-ibu yang menjaga diet atau anaknya autis gitu," tuturnya. 

Dari segi harga juga bisa menarik minat mereka untuk membeli kue kering berbahan baku tepung mocaf ini. Sebab bahan baku tepung mocaf jauh lebih murah daripada tepung terigu. "Per kilogram cuma Rp 6 ribu, sedangkan tepung terigu bisa sampai Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu tergantung kualitasnya," bebernya.

Setiap lebaran, Ricke mengaku bisa menjual lebih dari 2000 toples kue kering berbahan mocaf ini. "Itu sudah saya batasi sejak awal Ramadhan. Karena kapasitas saya cuma bisa buat segitu. Apalagi sekarang penjualannya online semua. Dihantarkan langsung ke konsumen," bebernya. 

Selain nastar dan kastengel, cornflake cokelat dan lidah kucing menjadi kue kering favorit yang paling banyak dipesan. "Harganya Rp 8 ribu per ukuran toples seperempat kilogram," tambahnya.

Selama masa pandemi ini dirinya mengaku mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit, sampai seminggu terakhir ini dirinya bisa meraup untung Rp 20 juta dari berjualan kue kering berbahan dasar tepung mocaf, sekaligus memperkerjakan ibu-ibu yang keluarganya terdampak COVID 19. "Alhamdulilah masih bisa membantu keluarga lainnya sehingga sama-sama bisa kuat menghadapi ini semua. Semoga COVID 19 ini bisa cepat berlalu," harapnya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018