Friday, 10 July 2020


Napote Fruit, Kreasi Milenial Sampang Beromset Jutaan Rupiah

31 May 2020, 21:27 WIBEditor : Yulianto

Produk Napote Fruit ala Mahfudz, petani milenial dari Sampang | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Sampang---Kreatif memberikan nilai tambah terhadap produk pertanian menjadi ciri generasi milenial dalam beragribisnis. Itu ditunjukan Mahfudz (26), petani milenial asal Kabupaten Sampang, Madura.

Tak hanya berusaha tani on farm (budidaya) melon, alumni Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Kawasan bagi Petani Muda yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan (BBPP) Ketindan ini, menggarap usaha off farm berbahan baku melon.

Selain sukses berbudiya melon sehat dan organik, Mahfudz sukses memanfaatkan buah melon yang memiliki nilai ekonomis rendah (ukuran kecil, cacat tetapi bukan rusak) menjadi produk olahan yang bernilai ekonomis tinggi. Dengan brand “Napote Fruit”, ia membuat produk olahan berbahan baku melon menadi dodol, sirup, selai dan jus melon.

Mahfudz bercerita, dirinya sudah membudidayakan melon sejak tahun 2016. Selama ini ia memasarkan melon ke kota-kota besar seperti Surabaya, Malang dan Jakarta. Dengan luas lahan 1 ha, Mahfudz bisa menghasilkan 20-30 ton/ha dengan harga jual Rp 8.000-10.000/kg.

Dalam satu tahun tanam, saya menanam 4 kali. Tiap panen hasilnya mencapai Rp 60-70 juta,” katanya. Dengan penghasilan tersebut, Mahfudz memperkirkan omsetnya mencapai Rp 250 juta/tahun.

Meski sudah mendapatkan hasil yang cukup besar dari berjual produk buah segar, Mahfudz tetap berkreasi. Melihat potensi buah melon yang berukuran kecil dan cacat, tetapi tidak rusak dan tidak laku dipasaran, ia kemudian berinovasi. Buah tersebut  saya olah menjadi produk olahan, seperti dodol dan sirup melon,” ujarnya.

Dari hasil berjualan produk olahan tersebut, Mahfudz mengaku bisa mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp 2-3 juta/sekali produksi. Dalam sebulan biasanya ia mampu berproduksi sebanyak 4 kali, bahkan lebih. Hal ini tergantung stok bahan mentah dan orderan konsumen yang diperoleh melalui pemasaran media online.

Sebagai Ketua Kelompok Gemah Ripah Arrahmah, Mahfudz berharap ke depan dapat berproduksi setiap hari dan kontinyu. Untuk itu dirinya akan bekerjasama dengan petani melon lainnya untuk ketersediaan bahan mentah, konsumen dan pasar yang tetap. Dengan demikian, dapat memenuhi permintaan pasar yang lebih luas.

Saat ini Mahfudz juga bekerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang tidak ada kegiatan dimasa pandemi Covid ini agar memperoleh penghasilan. Saat ini sebanyak 7 orang dari ibu-ibu KWT dijadikan sebagai karyawan tetap. Rata-rata mereka berpenghasilan Rp 100.000/hari.

Mahfudz mengakui, kesuksesan dalam pengembangkan produk melon bukanlah hasil kerja keras sendiri. Tentu ada pihak-pihak yang membantu dan mensupport. “Saya berterima kasih para widyaiswara dari BBPP Ketindan, Penyuluh Kecamatan Sokobanah, Dinas Pertanian Kabupaten Sampang dan Pemerintah Kabupaten Sampang yang telah banyak mendukung usaha saya,” tuturnya.

Dalam berbagai kesempatan, baik secara tatap muka maupun virtual, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) tidak henti-hentinya menyampaikan bahwa, Kementerian Pertanian akan terus mengoptimalkan SDM Pertanian, terutama petani milennial baik di desa maupun di kota (urban farming dan family farming) untuk menggenjot produksi dan produktivitas, bahkan sampai menuju pasar ekspor.

SYL juga berkeyakinan generasi milennial dibidang pertanian ini terus meningkat dan berkembang. Bahkan anak muda yang mau terjun dibidang pertanian mempunyai peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik.

Apalagi dengan memanfaatkan tekhnologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman. Generasi millennial bidang pertanian saat ini tak hanya sekadar bertani, tetapi juga cerdas berwirausahatani dengan memanfaatkan teknologi,“ tambah SYL.

Sementara itu Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menegaskan, pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Seluruh insan pertanian baik itu widyaiswara, penyuluh dan petani harus bahu membahu dalam memenuhi kebutuhan pangan.           

“Inilah waktu yang tepat bagi petani untuk menjadi pahlawan bangsa. Petani milennial harus mampu menjadikan aktivitas tidak hanya on farm tetapi mampu menuju off farm yang lebih memiliki nilai jual, terutama pasca panen dan olahannya. Petani millennial harus mampu membuat terobosan-terobosan baru, dan harus mau berinovasi di jaman Industri 4.0 ini,” tutur Dedy.

 

Reporter : Laila/Yeniarta (BBPP KETINDAN)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018