Saturday, 26 September 2020


Pasar Karet Lesu, Putra Lubis Sukses Usaha Pepaya Calina

26 Jun 2020, 22:23 WIBEditor : Yulianto

Lokasi kebun milik Putra Lubis, milenial yang mengembangan pepaya calina di Mandailing Natal | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjemn Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Mandailing Natal---Bermula saat ke Kota Hujan, Bogor, Putra Lubis, milenial asal Mandailing Natal ini berkenalan dengan pepaya Calina atau banyak orang menyebutnya pepaya California. Kini Putra yang sebelumnya mengembangkan tanaman karet, justru sukses budidaya pepaya Calina.

Mengunjungi Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, nampak sejumlah petani mengembangkan pepaya, khususnya di daerah Panyabungan Barat dan Nagajuang. Salah satunya adalah Putra Lubis yang luas lahan budidayanya mencapai 60 hektar (ha) dan direncanakan akan dikembangkan menjadi seluas 100 ha.

Kesesuaian lahan dan iklim memang sangat mendukung pengembangan pepaya Calina di daerah tersebut. “Komoditas pepaya dari Mandailing ini dapat bertahan selama 2 minggu di dalam suhu ruang, berbeda dengan pepaya dari daerah lain yang hanya bertahan sekitar 3 hari," ujar Putra saat dihubungi melalui sambungan telefon Rabu (24/6).

Pengakuan Putra tersebut berdasarkan pengalaman dengan pengusaha di Medan sebagai relasi usaha pemasarannya. Lesunya harga karet, membuat ia mencoba usaha budidaya tanaman lain, akhirnya dipilih menanam pepaya Calina. Selain itu, saya mulai mengenal varietas Calina dari Bogor dan saya coba kembangkan di sini," kata Putra.

Putra mengakui, pepaya California ini termasuk jenis unggul dan berumur genjah, pohon/batangnya antique kerdil atau lebih pendek dibanding jenis papaya lain. Tinggi tanaman hanya sekitar 1,5 – 2 meter, bahkan sudah bisa dipanen ketika berumur 8 – 9 bulan. Pohonnya dapat berbuah hingga umur mencapai empat tahun,” ujarnya.

Putra mengakui, pepaya tersebut dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri makanan di Kota Medan. Selama ini Putra telah memiliki relasi pemasaran, sehingga sehingga dirinya tidak terlalu dipusingkan dengan harga yang diterima saat panen.

Saat ini kebun pepaya di Nagajuang sudah menyuplai kebutuhan konsumen sebesar 30 ton per minggu. Sedangkan Panyabungan Barat menyuplai pepaya 45 ton per minggu,” tuturnya.

Bahkan, lanjut Putra, pihak industri pengolahan pepaya berencana akan mendirikan pabrik jika luas lahan pengembangan pepaya sudah mencapai 100 ha. Hal ini tentunya menjadi sebuah peluang yang menjanjikan ini tengah wabah Covid-19 yang menyebabkan lesunya ekonomi.  

Selain itu, rantai pasok pepaya sudah terbentuk, sehingga pengembangan bisa dilakukan dalam skala yang lebih luas. Rantai pasok dimulai dari input, budidaya, dan yang terpenting adalah pemasaran. "Pengembangan komoditas yang didasari atas kebutuhan konsumen akan lebih menjamin keberlangsungan dari budidaya tersebut," katanya.

Menanggapi keberhasilan pengembangan pepaya ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal, Siar Nasution berkomitmen siap membantu pengembangan dari sisi teknologi dan sarana prasarana pepaya Calina ini. 

"Kami sudah merencanakan akan mendukung pengembangan ini dengan pembuatan rumah kompos, bantuan input pertanian, dan perluasan lahan di tahun 2020," kata Siar Nasution. Pengembangan selanjutnya, kata dia, bisa dilakukan dengan melakukan standarisasi dan membangun brand 'Ketahanan Pepaya  2 Minggu.

Ini akan menjadi keistimewaan sendiri dari pepaya mandailing ini, itu akan menjadi branding yang menarik. Bahkan jika pengembangan ini berjalan dengan baik, dan kebutuhan wilayah domestik sudah bisa dipenuhi, tentu akan berpeluang ekspor," tambah Siar Nasution.

Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman, mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung adanya pengembangan pepaya ini di Kabupaten Mandailing Natal. Tdak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, ia berharap pepaya yang memiliki rasa manis legit ini dapat tembus pasar luar negeri.

Pepaya California sebenarnya dilepas dengan nama Calina sejak tahun 2010 yang merupakan hasil persilangan yang dilakukan oleh pemulia tanaman dari IPB dan sudah banyak dikembangkan dalam skala komersial. Namun, pedagang banyak mengenalkan pepaya jenis ini dengan nama California. "Mereka mengaku dengan nama California, harga jualnya menjadi lebih tinggi," tambah Liferdi.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018