Tuesday, 20 October 2020


Modal Rp 1,75 juta Lele Bioflok, Setahun Bisa Balik Modal

13 Jul 2020, 16:57 WIBEditor : Gesha

Lele Bioflok | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Salah satu cara untuk memanfaatkan lahan pekarangan adalah dengan membuat bak pembesaran lele dengan sistem budidaya bioflok. Cukup modal Rp 1,75 juta saja untuk pembesaran lele, dalam waktu 3-4 kali siklus atau dalam setahun sudah bisa balik modal.

Budidaya ikan lele merupakan salah satu budidaya di bidang perikanan yang terus berkembang. Ini dikarenakan teknologi budidaya lele yang relatif  mudah dikuasai masyarakat. Sejak tahun 2014, budidaya lele pun semakin viral dengan adanya budidaya sistem bioflok. Bahkan digadang-gadang menjadi sistem budidaya lele yang bersih dan bisa dilakukan di pekarangan yang tidak terlalu luas.

“Biasanya kalau pelihara lele kan identik dengan bau limbah dan butuh kolam yang besar. Tapi dengan lele bioflok ini, pemeliharaan lele lebih bersih dan tidak membutuhkan lahan yang besar. Bisa di pekarangan depan atau belakang rumah. Bisa dimulai dari 1 bak saja dulu,” tutur Pemilik Bina Mina Mandiri, sarana pelatihan budidaya lele bioflok, Koko Kusumah.

Mengapa bisa bersih dan tidak berbau? Sebab teknologi bioflok memanfaatkan nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik yang tidak beracun. Nitrogen yang sudah diubah ini bsia digunakan untuk pakan lele, sehingga lebih hemat biaya pakan.

Koko menambahkan, Anda bisa memulai budidaya lele bioflok dengan modal Rp 1,750 juta saja untuk satu bak bulat diameter 3 meter dan diisi dengan terpal. Kepadatan ikan lele sebanyak 2 ribu ekor. Ketinggian air yang ideal adalah 80-100 cm dan pada hari kedua setelah diisi air, maka perlu memasukkan probiotik 5 ml/meter kubik.

Pada hari ketiga, masukkan prebiotik molase 250 ml/meter kubik dan pada malam harinya, taburkan dolomite 150-200 gram/m. “Kita diamkan 2 Minggu agar terbentuk flok-flok. Kemudian tebar ikan lele ukuran 7-8 cm dengan padat tebar 1000 ekor per meter kubik. Lakukan pemeliharaan selama 3 bulan,” tambah Koko.

Namun Koko menegaskan perlu ada komitmen dari pembudidaya ikan lele sistem bioflok ini agar bisa sukses. Mulai dari pengaplikasian probiotik dalam air dan diberikan 2 kali sehari dicampur dengan 3ml/kg pakan. Sebaiknya juga bak jangan dinaungi sehingga tetap terjadi pertukaran udara yang baik. 

“Jangan lupa lakukan kontrol intensif seperti waktu pemberian pakan, takaran pakan, lakukan juga puasa pakan begitu akan dipanen, cek pH, cek flok, dan berikan juga campuran prebiotik pada air. Oh iya jangan langsung gunakan air PAM yang tinggi klorin. Tampung air terlebih dahulu pada tandon dan endapkan baru dialirkan dan dicampur dengan prebiotik,” bebernya.

Dengan modal Rp 1,75 juta per bak tersebut dan perawatan yang intensif, tingkat kelangsungan hidup (survival rate/SR) mencapai 80 persen dan bisa dipanen dengan ukuran 1 kilogram isi 8 ekor.

“Jadi satu bak itu bisa produksi 2 kuintal dan dijual dengan harga Rp 16 ribu per kilogram, maka omzet bisa mencapai Rp 3,2 jutaan, hitungan bersihnya per bak setelah dipotong biaya operasional sekitar Rp 800 ribu. Ya dalam waktu setahun (3-4 kali siklus) keuntungan sudah bisa balik modal,” jelasnya.

Tertarik untuk mulai terjun  mempercantik pekarang sekaligus mendatangkan cuan dengan pembesaran lele bioflok? 

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018