Saturday, 15 August 2020


Kreatif! Kopi Herbal Made In Wonosari Malang

14 Jul 2020, 16:36 WIBEditor : Gesha

Kopi herbal made in Wonosari | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Pernah terpikirkan membuat kopi dicampur aneka tanaman herbal? Kreativitas inilah yang mampu dibuktikan petani kopi dari Wonosari, Malang.

Dewasa ini, aneka produk kopi dengan berbagai kreasi dan teknologi membanjiri konsumen. Manusia selalu ingin berinovasi dan mencapai hasil yang lebih baik. Bagi kopi mania, menikmati secangkir kopi dan suasana santai tentu menjadi saat-saat istimewa, terlebih jika kopi tersebut memiliki segudang manfaat. Kreasi dari berbagai pelosok negeri tentu menambah keanekaragaman citarasa kopi nusantara.

Salah satunya adalah kreasi kopi herbal hasil fermentasi dengan alat fermentator dan destilator. Kopi cair ini hasil dari kreatifitas petani muda Duwianto, pengurus Gapoktan Ngudi Makmur di Desa Sumberdem Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang.

”Saya ingin kopi herbal ini memiliki banyak manfaat. Tidak hanya biar nggak mudah ngantuk, tetapi juga berfungsi sebagai obat herbal. Intinya, memanfaatkan apa yang ada di sekitar dan terus mengupayakan produk yang lebih baik,” tutur petani yang sering dipanggil Cak Duwi.

Jenis kopi robusta hasil petik merah digunakan Cak Duwi untuk kopi herbal ini. "Kemudian dimasukkan ke tabung destilasi dan terus dilakukan proses penyulingan. Ini menggunakan alat fermentator dan destilator bantuan dari pemerintah Kabupaten Malang," tutur penyuluh BPP Wonosari, Swani Ayuningsih yang mendampingi Cak Duwi karena memiliki atensi besar pada aneka produk kopi.

Sementara penyuluh Desa Sumberdem, Dominicus Widodo menambahkan bahwa kopi cair herbal ini juga mulai dinikmati sekitar masyarakat Wonosari. “Harganya bersaing dengan produk herbal yang ada di pasaran, namun ini sementara satu-satunya produk kopi yang memiliki banyak manfaat. Rasanya enak ditambah aromanya yang lebih kuat," tuturnya. 

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Wonosari Kabupaten Malang, Agus Wahyudi menuturkan bahwa kajian demi kajian tentang kopi terus dilakukan untuk mencari sebanyak mungkin peluang yang bisa diperoleh dari kopi.

“Sekarang ini era kemajuan, maka kita juga harus maju. Produk kopi herbal cair ini melengkapi beberapa produk kopi bubuk yang sudah ada. Kalau di desa Sumberdem setidaknya sudah ada kopi Combre dan M-Biotik Coffea (suplemen herbal alami) dan keduanya terus diupayakan pangsa pasar baru. BPP terus mendampingi melalui berbagai pertemuan kelompok tani dan Gapoktan agar produksinya terus berjalan seiring permintaan pasar yang terus meningkat," urainya.

Langkah-langkah strategis lebih lanjut tentu bisa mulai dipersiapkan oleh Gapoktan Ngudi Makmur dan BPP Kecamatan Wonosari seiring dengan era daya saing saat ini.

"Mungkin sudah perlu dipersiapkan semacam hak cipta produk atau paten dari kopi cair herbal tersebut. Tentu kualitas dan standarisasi harus dipersiapkan sebaik mungkin, agar nantinya benar-benar bisa menjadi produk unggulan anak bangsa ke depan. Keberpihakan pada petani dan organisasi yang menaunginya tentu kita harapkan dilakukan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah," harapnya.

 

Reporter : Kiswanto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018