Tuesday, 20 October 2020


Jangan Buang Limbah Jagung, Yuk Olah Jadi Kertas !

21 Jul 2020, 11:58 WIBEditor : Yulianto

Kertas berbahan baku limbah jagung | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Selama ini pengolahan sisa panen jagung secara konvensional kebanyakan masih pada pembuatan pupuk dan pakan ternak. Padahal ada peluang usaha menarik yang cukup menjanjikan yakni kertas. Sayangnya memang belum banyak yang melirik.

Nah, untuk meningkat nilai guna dari limbah panen jagung, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, pun mengajak masyarakat, khususnya petani untuk memanfaatkan limbah panen jagung tersebut.

Diversifikasi olahan limbah panen juga dapat mengurangi praktek pembakaran sisa panen, terutama di lokasi tanam. Dengan demikian dapat mengurangi menurunnya kualitas lahan dan pencemaran lingkungan dari praktek pengelolaan sisa panen yang kurang tepat.

Seperti diketahui upaya pemerintah terus menggenjot produksi jagung juga akan meningkatkan volume limbah hasil panen jagung. Kertas menjadi salah satu produk olahan yang dapat dikembangkan dari limbah panen jagung. Apalagi kebutuhan kertas masih terus meningkat meski teknologi informasi pintar telah banyak diaplikasikan.

Mengurangi penggunaan serat kayu yang berimbas pada penebangan hutan secara liar, menjadi salah satu target pemanfaatan serat non kayu berbasis sisa panen sebagai bahan baku kertas. Produksi kertas berbasis limbah panen jagung ini dharapkan dapat menjadi salah satu penggerak pemberdayaan masyarakat dan perekonomian perdesaan.

Membangun wilayah perdesaan dengan konsep circular economy, mendorong masyarakat memanfaatkan bahan baku lokal dalam meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan. Apalagi kini pemerintah juga tengah berupaya melakukan pemulihan perekonomian pasca Covid-19.

Pemanfaatan limbah pertanian bisa menjadi alternatif yang bisa dilakukan masyarakat. Bahkan pertanian sudah diakui menjadi salah satu sektor yang telah terbukti tidak pernah berhenti di masa pandemi Covid-19.

Karena bertanggung jawab atas ketersediaan pangan bagi 267 juta jiwa rakyat Indonesia, peningkatan produksi dan percepatan tanam terus pemerintah gaungkan, demi keamanan dan ketahanan pangan negara. Namun di sisi lain, efek samping dari peningkatan produksi itu adalah ketersediaan sisa panen yang melimpah, termasuk diantaranya limbah produksi jagung.

Kegiatan pemenafaatn limbah panen jagung yang digelar BBPP Ketindan dikemas dalam program PERMISI (Perbincangan Manis Berisi) melalui bincang secara online, atraktif dan informatif. Program PERMISI ini merupakan re-branding dari acara Ngobras (Ngobrol Santai). Kegiatan tersebut untuk menyampaikan informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang aplikatif dan terkini, terutama di bidang Pertanian dan juga keilmuan lain dibidang kehumasan dan teknologi informasi.  

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Kementan terus meningkatkan kualitas SDM pertanian dan membuat sektor pertanian menjadi lebih menarik serta menguntungkan. “Pertanian kita harus mandiri dan modern, sehingga keluarga petani semakin sejahtera. Di samping itu, pertanian harus bisa menarik minat generasi muda sebagai profesi yang menjanjikan,” tegas SYL.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi, juga menegaskan bahwa pangan adalah masalah yang sangat utama. Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya.

Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru," paparnya.

Reporter : Ajeng/Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018