Monday, 28 September 2020


Tempe, Ladang Emas bagi Petani Millenial Pasuruan ini

13 Sep 2020, 12:31 WIBEditor : Yulianto

Bersama ayahnya, Ferry membangun industri tempe. | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Pasuruan---Siapa yang tak suka tempe? Hampir semua masyarakat di dari berbagai level menyukai produk olahan berbahan dasar kedelai ini. Panganan satu ini begitu favorit mulai dari perdesaan hingga perkotaan, mulai dari rakyat jelata hingga gedongan.

Di tengah pandemi Covid-19, Ferry Setiawan (30 tahun), petani milenial dari Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, justru mendulang rupiah dari tempe. Bergelut dengan tempat bagi Ferry bukan hal yang baru. Ia selama ini membantu ayahnya yang mempunyai usaha tempe.

Dengan bimbingan ayahnya, Ferry pun kini meneruskan dan mengembangkan usaha orangtuanya itu. Bahkan sampai menghantarkannya mengikuti Program Magang di Jepang tahun 2016 - 2017. Program magang tersebut merupakan salah satu program pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) cq Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) bagi milenial.

Pengalaman di Negeri Sakura yang memiliki kedisiplinan luar biasa memberi ruang untuk menggali potensi di lingkungannya, dan usaha lainpun dikembangkan dan ditekuninya. Berbekal etos dan perilaku kerja produktif yang telah dialami selama satu tahun di Jepang, Ferry bertekad mengembangkan usaha  untuk memproduksi  tempe sebagai pilihan usahanya.

Apalagi usaha ini telah digeluti bersama orangtuanya sejak tahun 1999. Seiring berjalannya waktu, peningkatan kapasitas produksi tempe semakin meningkat. Dari yang awalnya 3 kg kedelai menjadi 150-300 kg kedelai/hari pada tahun 2000. “Saya menjalin kerjasama dengan beberapa catering, sekaligus sebagai penyuplai tempe untuk beberapa pasar tradisional,” katanya.

Tidak berhenti pada usaha tempe, Ferry melakukan ekspansi beternak sapi. Dari awalnya hanya merawat sapi milik orang lain, kini ia memiliki 18 ekor sapi dan 4 karyawan.  Selain itu, ia juga beternak itik pedaging. Hanya memerlukan 40 hari kerja, Ferry kini dapat memanen 1.500-2.000 ekor itik pedaging.

Integrasi usahapun ia lakoni yaitu dengan memberi asupan  ternaknya berupa air rebusan kedelai.  Aktivitas Ferry tak hanya berhenti, ia juga memanfaatkan limbah ternak sapi menjadi energi guna memenuhi kebutuhan energi listrik bagi lingkungannya, serta memanfaatkan limbah cair kedelai menjadi subsitusi pangan potensial.

Dari ketiga usahanya ini, Ferry kini memperoleh pemasukan sebesar Rp 30 juta. Jumlah ini memang sedikit menurut dibandingkan sebelum Covid-19 menyerang yang bisa mencapai Rp 50-75 juta. “Saya butuh waktu lebih dari 15 tahun dengan segala suka dan dukanya menjadikan usaha sampai sebesar ini,” ujarnya.

Kepada gerenerasi milenial, Ferry berpesan komitmen yang kuat dan konsisten merupakan kunci dalam melanjutkan jejak bisnis ayahnya. “Saya juga bertekad untuk mendorong potensi ketahanan pangan yang terdapat di Kabupaten Pasuruan,” tambahnya.

Kementerian Pertanian berkomitmen serius untuk mencetak wirausahwan muda pertanian guna percepatan regenerasi petani. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini generasi milenial yang terjun di sektor pertanian, berpeluang memiliki kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. “Dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman kalian," pesan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi tak hentinya memberikan motivasi kepada para petani millenial. Dalam masa Covid-19 ini, menurutnya, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan pengusaha pertanian milenial, khususnya di bidang produksi on-farm.

Dedi menambahkan, data yang ada saat ini terdapat 33,4 juta petani di Indonesia, hanya 9 persen atau 2,5 juta yang berusia muda. Sementara itu, sebanyak 91 persen didominasi petani berusia tua. Sudah saatnya tongkat estafet pembangunan pertanian diambil alih oleh generasi milennial.

“Salah satunya melalui peran penting Kostratani yaitu menumbuhkan petani pengusaha milenial. Caranya, dengan peningkatan kapasitas pemuda perdesaan di bidang pertanian, juga pengembangan wirausahawan muda perdesaan. Selain itu, Kementan juga memfasilitasi akses permodalan,” tutur Dedi.

Reporter : Nurlela/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018