Saturday, 24 October 2020


Untungnya Menjamur dari Media Jamur Janggel Jagung

01 Oct 2020, 19:57 WIBEditor : Yulianto

Jamur yang tumbuh di media janggel jagung

TABLOIDSINARTANI.COM, Grobogan---Jangan buang janggel atau bonggol jagung ! Meski hanya berupa limbah, ternyata janggel jagung bisa menghasilkan uang. Caranya dengan menjadikan sebagai media tumbuh jamur.

Itulah yang dilakukan petani Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Jagung merupakan salah satu komoditas pangan yang banyak ditanam petani di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Namun selama ini petani hanya memanfaatkan bijinya sebagai bahan pangan, sedangkan daunnya menjadi pakan ternak ruminansia. Sementara bagian tanaman jagung yang lain sering tidak dimanfaatkan dan menjadi limbah.

Limbah tanaman jagung biasanya berupa jerami, tongkol, dan klobot atau kulit jagung yang jumlahnya cukup banyak. Hampir 20-30 persen dari 100 kg jagung yang dihasilkan adalah limbah jagung. Hasil penelitian, setiap 1 hektar tanaman jagung menghasilkan 9 ton. Diperkirakan 1,8-2,7 ton adalah limbah.

Siti Rohayati menjadi salah satu petani yang telah memanfaatkan janggel jagung sebagai media tumbuh jamur. Rohayati dan petani lain awalnya tidak menyangka janggel jagung dapat dimanfaatkan untuk media tanam jamur.

“Karena informasi dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Wirosari, saya jadi mengerti. Kalau semula janggel hanya onggokan sampah dan tidak bernilai, tapi ternyata mempunyai nilai tambah yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya. Untuk media jamur lanjut Rohayati, banyak tersedia di petani, seperti janggel jagung, ragi tape, dedak/bekatul, dan urea.

Koordinator Penyuluh di BPP Kecamatan Wirosari, Cahyo Mulyadi mengatakan, potensi tanaman jagung dalam satu tahun di Kecamatan Wirosari mencapai 11.000 ha. Karena itu, jika potensi janggel ini dimanfaatkan sebagai media tanam jamur, maka akan menambah pendapatan petani.

Masa Pendemi

Cahyo menambahkan, usaha budidaya jamur ini sudah dilakukan sekitar tiga bulan yang lalu saat pandemi Covid-19 mulai melanda wilayah Indonesia. Kendala yang dihadapi petani umumnya adalah waktu panen yang cepat. Jamur harus dilakukan pemanenan setiap hari. Jika tidak dipanen hari itu juga, maka jamur akan menghitam pada keesokan harinya,” katanya.

Pemasaran jamur menurut Cahyo, dilakukan melalui media online seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan penjualan langsung ke konsumen. Petani melakukan penjualan secara berkelompok. Jika ada permintaan, maka akan diambilkan dari petani yang panen hari itu.

“Dengan kreativitas, petani Desa Dapurno telah mengubah pandangan, bahwa limbah janggel yang tadinya tidak bernilai, dengan sentuhan teknologi sederhana mampu meningkatkan nilai tambah dan tentu menambah pendapatan di tengah pandemi,” tutur Cahyo.

Hal ini sesuai arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa sektor pertanian di masa yang akan datang tidak bisa diolah dengan cara yang biasa. Namun harus dikerjakan dengan cara yang serba maju, serba baru dan lebih modern.

"Minimal dengan terjadinya Covid-19 ini kita semakin menyadari bahwa pertanian tidak boleh lagi diolah dengan cara yang biasa. Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian," terang SYL.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, bahwa pertanian menjadi salah satu sektor yang dituntut untuk tetap produktif di tengah pandemi Covid-19.  "Walau masih pandemi Covid-19, pertanian jangan berhenti, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan,” tegas Dedi.

Seperti apa cara budidaya jamur yang dilakukan petani? Inilah tips dari Siti Rohayati.

Reporter : Harmoko/Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018