Saturday, 06 March 2021


Suksestori Peternak Ayam: Lebih Untung dengan Mencampur Pakan Sendiri

24 Jan 2021, 10:27 WIBEditor : Ahmad Soim

Ternak Ayam Ras | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

Hidayat Rahman, peternak layer (ayam petelur) dengan bangga menceritakan keunggulan pakan unggas hasil campurannya sendiri.

 

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - “Bisa hemat biaya pakan Rp 200 per kg. Produksi telur, tidak kalah dengan telur dari ayam yang diberi pakan dari pabrikan,” cerita peternak Layer dari Blitar, Jawa Timur ini kepada Sinar Tani dengan mimik wajah berseri.

 

Wakil Ketua Pinsar Blitar Jawa Timur itu mengungkapkan Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah surganya pabrik pakan. Sebagian peternak  menggunakan pakan pabrik, namun tidak sedikit juga peternak yang mencampur sendiri pakan untuk unggasnya atau melakukan self mixing. “Kita beli konsentrat dari pabrik, lalu kita campur dengan jagung dan bekatul,” tambahnya.

Sebagian peternak yang sudah menggunakan mekanisasi dalam beternak layer, pencampuran dilakukan dengan mesin pencampur (mixer). Ada yang berkapasitas 3 ton per hari. Untuk peternakan unggas layer dengan populasi 100 ribu ekor sistem mekanisasi, diperlukan modal sekitar Rp 2 Milyar, dalam satu setengah tahun bisa didapatkan keuntungan Rp 550 juta.

Untuk peternak layer yang memiliki populasi unggas di bawah 5 ribu ekor, pencampuran pakan bisa dilakukan secara manual, yakni dengan menggunakan skop. Selain konsentrat, jagung dan bekatul, ada juga peternak yang menambah mineral dan bahan lainnya.

Selisih harga pakan hasil mixing sendiri dengan pakan pabrik bisa Rp 150 – Rp 300 per kg, atau bahkan lebih. Tergantung dari ketersediaan atau harga bahan baku pencampur konsentrat, khususnya jagung dan bekatul. Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah daerah penghasil jagung dan bekatul. “Sehingga di daerah ini, peternak bisa mendapatkan harga jagung dan bekatul lebih murah dari pabrikan dan lebih segar,” tuturnya.

Pada saat tertentu, bisa saja harga pakan self mixing dibanding dengan pakan ternak bisa lebih mahal. “Peternak tahu bagaimana harus mengambil untung,” tambah Hidayat.

Dia berharap harga jagung di lokasi peternak bisa berkisar antara Rp 3700 sampai Rp 4200/kg. “Kami ingin peternak berkembang, dan petani jagung juga bisa menikmati untung. Oleh karena itu, bila harga jagung di bawah harga Rp 3.700 per kg, ada baiknya pemerintah menyetop impor jagung.”

 

Nego Pembayaran

Peternak di Jawa Barat lebih memilih pakan jadi dari pabrik. Adjat Daradjat, peternak unggas di Priangan Timur mengatakan pakan unggas bukan soal harga tapi kualitas.

“Pakan unggas harus berkualitas tinggi, walaupun harganya tinggi, kita beli. Karena ayam sangat sensitive dengan pakan. Harga pakan unggas dari pabrik sudah cukup murah,” kata Adjat Daradjat yang beralih profesi dari pegawai di Dinas Peternakan menjadi pengusaha sukses perunggasan.

Yang dilakukannya untuk bisa memutar peternakan unggasnya adalah nego pembayaran pakannya,  sistem tunai atau kredit. Dia menyadari kalua bikin pakan sendiri, termasuk melakukan self mixing karena volumenya tidak banyak, kalah efisien dengan pabrikan.

Sebagai peternak menurutnya harus memiliki dana pengaman. “Harus ada dana yang disimpan dari keuntungan untuk dijadikan dana pengaman,” tambahnya.

 

Skala dan Teknologi Budidaya

Efisiensi usaha budidaya unggas menjadi tuntutan kedepan dalam persaingan pasar unggas dunia. “Unggas dari Brasil sudah banyak masuk ke Timur Tengah. Instrumen halal, bukan kendala bagi Brasil. Oleh karena itu, peternak unggas harus efisien,” kata Desianto Budi Utomo, Ph.D Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) kepada Sinar Tani.

Skala ekonomi budidaya lanjutnya perlu untuk efisiensi usaha unggas, yakni berkisar  7.000 - 10 ribu per kendang dengan sistem mekanisasi atau close house.  “Kemitraan peternak di Jateng sudah 80 persen  memakai sistem close house,” jelas Desianto.

Juga dalam hal pakan unggas, peternak tidak harus cari yang murah, tapi yang esifiesin. “Yang dicari peternak adalah income produksi berapa?,” tuturnya.

Menurut GPMT, peternak sangat tahu tentang kualitas pakan pabrikan. “Peternak tahu sendiri, mana pakan yang berkualitas,” tegasnya.

Dia menjelaskan struktur biaya pakan 80- 85 persen ditentukan oleh biaya material. Fluktuasi biaya material diredam pabrikan dengan melakukan rata rata perubahan harga material selama 4 bulan. “Sehingga harga pakan di tingkat peternak tidak terlalu bergejolak karena perubahan harga material impor,” tambahnya.

Menurutnya, hidup dan matinya pabrik pakan bergantung pada peternak. Dari 94 pabrik pakan yang beroperasi di Indonesia, ada sebanyak 92 pabrik pakan yang bergerak di pakan ayam, broiler, layer. “Pabrik pakan tidak boleh mengatur harga bersama. Tak boleh atur kartel,” katanya. 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018