Sunday, 28 February 2021


Superfood Kale, Minim Kompetitor Tinggi Permintaan

17 Feb 2021, 07:47 WIBEditor : Gesha

Bisnis kale menarik untuk milenial | Sumber Foto:ISTIMEWA

Bagi milenial yang ingin terjun ke bisnis hortikultura, tanaman kale bisa dilirik menjadi usaha yang menjanjikan. Tanaman berjuluk Queen of Veggie ini merupakan sayuran superfood yang minim competitor namun permintaannya terus meningkat.

Masyarakat Indonesia mulai menyadari pentingnya hidup sehat dengan cara mengkonsumsi produk organik. Perubahan gaya hidup tersebut mendorong berkembang pertanian organik di Indonesia. Sementara budidaya sayuran di Indonesia sebagian besar masih dilakukan secara konvensional dan menggunakan bahan kimia dalam budidaya.

Kale (Brassica Oleracea var. Acephala) merupakan jenis sayur kelas dunia yang mengandung nilai nutrisi tinggi. Zat yang terkadung pada daun kale yaitu; sulforaphane, vitamin beta karoten, flavonoid, lutein dan zeaxhantin yang paling tinggi dibandingkan sayuran lainnya. sering disebut ratu sayur dunia, sudah dikenal diluar negeri pertama kali dihidangkan pada awal 1980-an di Amerika Serikat.

Pelaku usaha kale di Indonesia masih sedikit jumlahnya, ketersediaanya hanya dapat ditemukan di pasar modern seperti swalayan atau supermaket, sedangkan di kalangan konsumen pasar tradisional kale tidak tersedia. 

Semakin meningkatnya pola konsumsi sayuran organik di Indonesia dan ketersediaan kale yang masih terbatas di tempat- tempat tertentu, hal ini juga dapat menjadi dasar bahwa pasar di Indonesia potensial untuk usaha kale.  Hal ini juga dapat menjadi peluang bagi usaha budidaya kale agar dapat memenuhi permintaan di pasar Internasional melalui kegiatan ekspor sayuran kale.

Salah satu pelaku usaha urban farming yang membudidayakan tanaman kale adalah Okrafarmers milik Achmad Marendes yang memanfaatkan lahan terlantar di sekitar perumahan Jati Rahayu, Pondok Gede, Jakarta Timur. Dari bercocok tanam sayuran di lahan yang dulu telantar, kini Achmad mengantongi omzet Rp 10 juta per bulan dengan margin sekitar 10%.

Achmad mengklaim, tanaman sayur yang paling laris adalah borecole atau lazim disebut kale. Dalam sebulan, ada sekitar 300 pelanggan yang membeli kale. Sayur kale diminati pelanggan karena dianggap sebagai superfood, papar Achmad. Sayur dengan daun berwarna hijau atau ungu kebiruan ini menyandang gelar sebagai superfood karena kalsium dan protein nya lebih tinggi dibanding bayam.

Karena peminatnya paling banyak, kini Achmad fokus menanam kale. “Sekitar 95% tanaman sayur yang saya budidayakan adalah kale,” ujar ayah dua anak ini.

Achmad kini bisa memanen tanaman kale empat kali dalam sebulan. Sekali panen, kapasitasnya bisa 10-20 kilogram (kg). Dalam kegiatannya, Achmad dibantu oleh tiga orang karyawan. Dalam sebulan, total hasil panen kale bisa mencapai 65 kg. Sedangkan panen tanaman lain tidak banyak, bebernya.

Achmad menjual sayur hasil panennya dengan harga variatif. Contohnya kangkung dan bayam dijual dengan harga berkisar Rp 3.000 per ikat. Sementara tanaman kale bisa berkisar Rp 90.000-Rp 120.000 per kg.

Lalu, ke mana hasil panen itu dijual? Sebagian besar pelanggan Achmad saat ini adalah kalangan individu dan pebisnis kuliner seperti restoran serta kafe di kawasan Jabodetabek. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018